UINSGD.AC.ID (Humas) — Menjadi content creator tidak selalu dimulai dengan peralatan mahal atau langsung mendapatkan banyak penonton. Konsistensi, keberanian menghadapi respons publik, kemampuan membaca audiens, dan kecintaan terhadap proses menjadi kunci untuk membangun karya di ruang digital.
Pernyataan itu disampaikan content creator Galang Dwiwana Thabrani, S.T., dalam Seminar “Sukses Menjadi Content Creator Viral: Berkarya Kreatif, Meraih Peluang di Era Digital” yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di Aula Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Rabu (12/8/2026).
Berbagi pengalaman selama sekitar tujuh tahun menjadi content creator, Galang mengungkapkan bahwa perjalanan membangun konten tidak selalu berjalan mulus. Pada awal membuat konten, lulusan Teknik Informatika UIN Bandung ini mengaku sempat menerima berbagai komentar negatif dan bullying dari warganet.
“Jujur, awal ngonten banyak menerima bullying. Ada yang komentar, ‘Ngapain buat-buat ini?’, ‘Alay’. Tapi dari situ saya belajar untuk fokus ke diri sendiri dan tetap jalan,” ujar Galang.
Menurutnya, komentar negatif tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Justru, seorang kreator perlu memiliki mental yang kuat dan berani tampil. Fokus utama bukan bagaimana semua orang menyukai karya yang dibuat, melainkan bagaimana menemukan karakter dan audiens yang sesuai.
Galang menyebut konsistensi sebagai salah satu strategi utama dalam membangun karier sebagai content creator. Selama tujuh tahun menjalani aktivitas ini terus membiasakan diri untuk mengunggah setidaknya satu konten setiap hari.
“Strateginya 99 persen adalah konsistensi. Setiap hari minimal satu postingan. Jangan terlalu lama berhenti,” jelasnya.
Konsistensi bukan berarti setiap konten pasti berhasil. Dari puluhan konten yang dibuat, kreator perlu melihat mana yang memiliki performa baik, mempelajari karakter konten tersebut.
“Dari banyak konten, kita analisis mana yang perform. Jadi bukan langsung berhenti ketika satu konten tidak berhasil,” ujarnya.
Selain konsisten, Galang mendorong kreator membuat konten yang mampu membuat audiens tertarik untuk terus menonton. Konten sebaiknya tidak terlalu panjang, memiliki pembuka yang menarik, dan relevan dengan kondisi audiens. Kualitas visual, pencahayaan, serta kemampuan mempertahankan perhatian penonton menjadi bagian penting.
“Buat orang ketagihan dalam arti positif terhadap konten kita. Jangan terlalu panjang. Singkat, padat, dan punya nilai,” ujarnya.
Galang menekankan pentingnya menjadikan aktivitas membuat konten sebagai hobi yang benar-benar disukai. Ketika seseorang menikmati prosesnya, konsistensi akan lebih mudah dipertahankan.
“Kalau kita suka banget, jadikan hobi. Insyaallah ke depannya akan lebih mudah,” tuturnya.
Dengan mengingatkan bahwa keberhasilan menjadi content creator bukan semata-mata persoalan keberuntungan atau takdir. Ada bagian yang harus dibangun melalui kecocokan dengan bidang yang dijalani dan konsistensi dalam jangka panjang.
“Yang satu persen itu bukan soal takdir, tetapi soal kecocokan dan konsistensi jangka panjang. Kalau ini bukan jalan kita, tidak apa-apa. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Yang penting tetap bergerak, tetap mencoba, dan tetap berkembang,” ungkapnya.
Untuk memulai, Galang mengatakan seorang calon content creator tidak harus memiliki perangkat yang sangat mahal. Perangkat yang memadai, penampilan yang nyaman dilihat, mental yang kuat, keberanian tampil, serta kemampuan fokus pada diri sendiri menjadi modal awal yang penting.
Setelah mulai konsisten, kreator dapat mengembangkan konten melalui berbagai strategi, antara lain mengikuti tren dan audio yang relevan, membangun kolaborasi dan jejaring, serta memperkuat personal branding. Konten yang dibuat harus memiliki nilai, baik berupa hiburan, informasi, visual yang menarik, maupun gagasan yang relevan bagi audiens.
Personal branding yang kuat dapat membuka lebih banyak peluang. Kreator dapat mengembangkan penghasilan melalui endorsement, paid promote, kontrak dengan brand, affiliate marketing, maupun mengembangkan bisnis sendiri dari audiens yang telah terbentuk.
Peluang ekonomi merupakan bagian dari proses panjang. Fondasinya tetap pada karya yang konsisten dan kemampuan membangun kepercayaan audiens.
Konten kreator kebanggaan UIN Bandung ini menegaskan “Apa pun yang kita mulai dan perjuangkan hari ini, sekecil apa pun langkahnya, suatu hari nanti akan menjadi sesuatu yang berarti,” pesannya.

Dalam arahannya, Ketua DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, S.S., mengatakan seminar ini merupakan bagian dari upaya DWP mengisi momentum HUT ke-81 Republik Indonesia dengan kegiatan yang produktif.
“Sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan, DWP menyelenggarakan kegiatan ini untuk mendorong ibu-ibu aktif menjadi content creator, memanfaatkan era digital untuk mendapatkan manfaat dan peluang, termasuk peluang memperoleh penghasilan,” ujarnya.
Enung berharap pengalaman Galang dapat menjadi inspirasi bagi anggota DWP untuk berani memulai, menggali ide, dan mengembangkan kreativitas di ruang digital. Dengan mengingatkan pentingnya tetap menjaga etika, terlebih anggota DWP merupakan bagian dari keluarga besar ASN.
“Walaupun nanti isi kontennya berbeda karena perbedaan usia dan latar belakang, yang penting tetap mengedepankan etika,” katanya.
Caranya dengan mendorong anggota DWP melihat aktivitas digital sebagai salah satu peluang untuk menambah penghasilan keluarga. Proses itu membutuhkan kemauan untuk belajar dan tidak mudah menyerah.
“Harapannya, kita punya semangat untuk mencari peluang menambah penghasilan, misalnya untuk jajan anak. Memang harus berproses dan terus menggali ide untuk membuat konten,” tuturnya.

Ketua Pelaksana, Eva Priyani Ali, mengatakan seminar ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan anggota DWP mengenai ruang digital yang semakin terbuka bagi perempuan.
“Di era digital saat ini, ruang berbagi untuk perempuan terasa semakin luas dan semakin banyak sehingga bisa menjadi peluang strategis untuk ekonomi kreatif,” ujarnya.
Eva menegaskan, tujuan menjadi content creator bukan sekadar mengejar viralitas. Konten yang dibuat harus mampu memberikan nilai bagi audiens.
“Bukan viral saja, tetapi bagaimana konten yang kita buat bisa berdampak, bermanfaat, dan memberikan maslahat,” katanya.
Dengan adanya seminar ini, DWP UIN Bandung mendorong anggotanya untuk melihat perkembangan digital sebagai ruang baru untuk belajar dan berkembang.
“Kuncinya bukan sekadar viral, melainkan berani memulai, menemukan bidang yang sesuai, konsisten berkarya, membangun personal branding, serta menghadirkan konten yang bermanfaat dan beretika,” pungkasnya.





