UINSGD.AC.ID (Humas) – Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E., secara resmi menutup perhelatan International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD) ke-XV di Pendopo Kota Bandung, Selasa (28/7/2026) malam. Konferensi internasional yang mempertemukan ratusan cendekiawan muslim se-Asia Tenggara ini diharapkan tidak sekadar menjadi forum diskusi, melainkan mampu melahirkan solusi aplikatif terhadap tantangan pembangunan, lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Mengusung tema besar “Ekoteologi Melayu-Islam sebagai Ketahanan Budaya di Era Multipolar”, simposium akademik yang diinisiasi oleh Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini membedah ratusan riset terkait relasi manusia, agama, dan alam.
Tiga Substansi Utama Arahan Wali Kota
Dalam sambutan penutupannya, Wali Kota Muhammad Farhan menyoroti tiga isu strategis Kota Bandung yang membutuhkan intervensi pemikiran dari para delegasi ICON-IMAD:
Pertama, Penerapan Ekoteologi pada Proyek Pengolahan Sampah (PLTSa). Pemerintah bersama negara mitra (Jepang, Jerman, dan Belanda) akan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) proyek Waste-to-Energy Power Plant di Legok Nangka. “Saya meminta para akademisi untuk mengkaji proyek ini dari kacamata ekoteologi Islam, terutama terkait batasan risiko pencemaran dari penggunaan teknologi boiler dan insinerator,” ajaknya.
Kedua, Hukum Islam dalam Ekosistem Ekonomi Digital. Kota Bandung tengah bersiap mengusulkan kawasan sepanjang 8 kilometer (Cicaheum–Cibeureum) sebagai Pusat Finansial Indonesia Internasional (PFII). Farhan menantang pakar ekonomi syariah untuk merumuskan dasar hukum (fikih muamalah) terkait aset digital murni.
“Apabila sudah masuk ke dalam dunia digital, pertanyaannya adalah apa yang bisa kita jadikan patokan secara syariah sebagai underlying asset? Mengingat dalam industri finansial digital, wujud fisik mulai menjadi usang (obsolete),” jelasnya.
Ketiga, Intervensi Struktural terhadap Kesenjangan Kesejahteraan. Meski PDB per kapita Kota Bandung hampir menembus angka USD 10.000 dengan infrastruktur transportasi berkelas dunia, rasio Gini kota ini masih berada di angka 0,42 (lebih tinggi dari rata-rata nasional 0,36). Kemiskinan adalah masalah struktural yang bisa diintervensi, bukan sekadar nasib, dan berharap riset-riset akademik dapat membantu mempersempit jurang kesejahteraan tersebut.
Farhan berpesan agar ekosistem intelektual di Bandung terus dijaga kredibilitasnya dan terhindar dari praktik predatory conference (konferensi abal-abal) yang hanya mengejar akreditasi tanpa bobot keilmuan yang nyata.
“Pada saat bersamaan tentunya acara ini harus lebih dari sekadar acara kumpul-kumpul akademisi. Sekarang nih tiba-tiba ada sebuah tren berita yang mengatakan ada sebuah fenomena conference predator. Maybe you heard about it. Conference predator ini adalah para organizer menyelenggarakan international conference, diundanglah para akademisi dengan janji akan mendapatkan akreditasi, kemudian Anda bayar. Kadang conference-nya hanya sekadar kumpul-kumpul makan siang, makan malam, jalan-jalan. Nah, ini yang disebut dengan conference predator. Nah, ini yang saya ingin kita sebagai warga Kota Bandung bisa menjaga kredibilitas Kota Bandung sebagai salah satu pusat inteligensia dan pengembangan ilmu pengetahuan terbaik di Indonesia. Jangan pernah international conference itu menjadi berkarakter seperti conference predator,” jelasnya.
Bagi kami, menjadi tuan rumah adalah sebuah rahmat yang luar biasa. “Kami pun selalu berbahagia, bahkan rasanya akan lebih bahagia apabila Bapak-bapak, Ibu-ibu yang datang dari Malaysia, dari Brunei, dari Thailand Selatan itu berkenan untuk stay longer. Ya dong, iya kan? Iya. Kalau ada yang mau stay longer, bilang-bilang sama Pak Ahmad Solihin, daftarkan, nanti kita kasih voucher gratis tambahan satu malam di Kota Bandung. Iya kan? Boleh dong. Baiklah, saya yakin bahwa keimanan dan keilmuan harus menjadi satu kesatuan yang justru akan membuat kami para umara bisa mendapatkan patokan yang jelas, so we can walk through out the light instead of blinded by the power. Terima kasih untuk semuanya dan dengan ucapan hamdalah bersama-sama. Alhamdulillahirabbil’alamin, kita tutup bersama International Conference of Islam in the Malay World yang ke-15 tahun 2026 di Kota Bandung,” ucapnya.
Konferensi Akademik Dunia Melayu
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., yang didampingi oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag., Wakil Direktur I Prof. Dr. H. Ajid Thohir, M.Ag., Wakil Direktur II Prof. Dr. H. Aden Rosadi, M.Ag., Ketua Pelaksana ICON-IMAD XV, Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA., dan Sekretaris Panitia, Prof. Mohammad Taufiq Rahman, Ph.D., menyampaikan apresiasi mendalam atas jamuan dan dukungan penuh Pemerintah Kota Bandung. Ia melaporkan bahwa antusiasme peserta sangat masif.
“Konferensi ini memaparkan lebih dari 340 artikel riset dari para akademisi lintas negara. Mudah-mudahan ada banyak rekomendasi yang bermanfaat khusus untuk kemajuan Kota Bandung,” tutur Rektor.
ICON-IMAD XV yang berlangsung selama 3 hari dari tanggal 27–29 Juli 2026 ini merupakan wujud kolaborasi konsorsium empat institusi pendidikan terkemuka di dunia Melayu: Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati (Indonesia) sebagai tuan rumah, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (Malaysia), Fakultas Usuluddin UNISSA (Brunei Darussalam), Fakultas Ilmu Islam Prince of Songkla University (Thailand).
Dalam pertemuan dan jamuan makan malam itu hadir tamu-tamu dari luar negeri, Profesor Fauzi Hamat dari Malaysia beserta delegasinya dari Malaysia. Profesor Anis Malik Toha dari Brunei Darussalam beserta delegasi. Profesor Zakariya Hama dari Thailand beserta seluruh delegasi. Direktur beserta jajaran para Wakil Direktur dan seluruh pimpinan di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kita semua orang Bandung tahu, dan Bandung itu kota yang sangat indah dan ada pepatah katanya Bumi Parahyangan… Bumi Parahyangan diciptakan oleh Tuhan ketika sedang tersenyum. Jadi sangat indah sekali Kota Bandung.
“Saya katakan Pak Walikota kepada para delegasi, kalau ingin mengunjungi semua objek-objek wisata yang ada di Jawa Barat atau Kota Bandung mungkin harus menghabiskan waktu 1 bulan lah. Kalau tadi bilang 7 hari kan, sekarang 1 bulan gitu. Objeknya banyak sekali. Tapi sayangnya beliau-beliau akan meninggalkan Kota Bandung besok katanya, ya. Ya mudah-mudahan saya kira biasanya kalau orang yang sudah pergi ke Bandung, pasti akan kembali lagi ke Bandung,” paparnya.
Kehadiran delegasi internasional ini disebut membawa keberkahan tersendiri bagi Kota Bandung, yang secara bertepatan menyambut kabar baik mengenai pembukaan kembali penerbangan internasional di bandara kota pada bulan depan.
Acara penutupan yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan agenda ramah tamah, di mana Wali Kota Bandung bahkan menawarkan insentif penginapan gratis bagi delegasi mancanegara yang bersedia memperpanjang masa tinggalnya untuk menikmati pariwisata di Bumi Parahyangan. Pada hari terakhir (Rabu, 29/7/2026), seluruh peserta dijadwalkan melakukan tur budaya mengelilingi Kota Bandung.





