Ilustrasi gambar AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Maraknya aksi begal dan geng motor di berbagai kota belakangan ini, menimbulkan kegelisahan masyarakat. Imbasnya muncul berbagai tindakan, mulai dari pengeroyokan, aksi lawan begal sehingga saling serang antarkelompok menjadi tidak terhindarkan. Seruan “Awas Ada Begal” pun menyebar baik di WhatsApp maupun media sosial.

Persoalan begal bukan perkara keamanan semata, melainkan juga persoalan komunikasi. Mari kita urut mulai dari para begal berkomunikasi sebagai bentuk koordinasi antar gengnya. Media membingkai berbagai kejadian sebagai ulah para begal. Respon yang diberikan warga atas bentuk ketidaknyamanya terhadap kehadiran begal. Aparat penegak hukum berkomunikasi dengan masyarakat. Itu semua adalah bagian dari komunikasi yang bisa menjadi solusi menyelesaikan masalah begal.

Gani dan Unde (2016), dalam kajiannya menemukan bahwa keresahan masyarakat terhadap begal erat kaitannya dengan pola jaringan komunikasi begal. Bagaimana begal saling bertukar informasi, dan membangun soliditasnya. Temuan ini memberikan arahan bagaimana kita memahami cara kerja komunikasi di balik aksi begal, yang bisa jadi awal mula mencari solusi yang tepat sasaran.

Sementara itu Sopiyan dan Wardani (2023) menemukan adanya sistem komunikasi simbolik di kalangan begal, seperti kode tertentu ketika menjalankan aksinya. Kode-kode begal ini tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk dan disepakati di antara begal melalui proses interaksi yang cukup intensif, dan sebagai hasil konstruksi makna kolektif yang mengikat solidaritas kelompok begal.

Memutus Mata Rantai

Upaya memutus mata rantai begal juga perlu diimbangi dengan memahami jaringan simbol komunikasi para begal sehingga bisa dengan tepat melakukan pencegahan tindakan begal ataupun razia para begal.

Media dan netizen pun ikut serta dalam meningkatkan pamor begal, dan bisa turut serta menyelesaikan aksi-aksi begal. Namun ketika pemberitaan yang berlebihan aksi-aksi begal ini juga bisa memicu kepanikan publik. Atau media dan netizen bisa memberikan ancaman kolektif dengan melabeli begal sehingga memunculkan reaksi sosial yang beringas. Beredarnya narasi yang membesar-besarkan aksi begal yang menjadi ancaman di suatu wilayah, pada akhirnya membuat masyarakat melakukan pemberantasan begal dengan caranya sendiri.

Cara media mengemas berita begal pun ikut serta dalam menentukan masyarakat memahami dan merespon informasi yang diterimanya dengan beragam bentuk. Media yang membingkai begal sebagai orang yang jahat, akan membuat prasangka negatif, dan mengakibatkan begal menjadi musuh bersama di ruang publik. Masyarakat akan langsung melakukan hukum dengan standar masyarakat yang sudah sangat lelah dengan kehadiran begal. Prinsip cover both sides dan verifikasi data oleh media menjadi wajib dilakukan sebelum berita yang dibuatnya disebarluaskan ke publik.

Solusi Komunikasi

Media dan netizen sebaiknya menjadi pengingat untuk warga agar tetap berhati-hati, tidak memancing para begal untuk melakukan aksi yang nekat. Media dan netizen menjadi sumber informasi terkait dengan daerah, waktu, yang rawan begal beraksi. Media dan netizen juga bisa menjadi pengingat pada keluarga agar memperhatikan aktivitas anak-anak, dan tidak terbawa komunitas yang selalu membuat onar dan keresahan masyarakat.

Selanjutnya tingkatkan lagi komunikasi antara aparat keamanan dengan masyarakat. Jumlah polisi terbatas, kalau ada kolabroasi dengan masyarakat akan lebih kuat dan banyak yang terlibat, otomatis ruang gerak begal bisa dipersempit. Komunikasi aparat dengan masyarakat harus terbangun secara dua arah dan tidak sesaat.

Komunikasi dua arah ini bisa dilakukan dengan komunikasi publik polisi, baik secara langsung kepada warga sekitar, maupun melalui platform media sosial yang dimiliki polisi, dan membuka ruang terbuka kepada warga untuk menginformasikan ketika ada kejadian bekal di sekitarnya.

Terakhir ialah membangun jaringan komunikasi keagamaan. Jaringan komunikasi antara aparat dengan pemuka agama atau lembaga keagamaan. Jaringan komunikasi ini menjadi model pemberdayaan dalam pencegahan kejahatan begal. Tokoh agama dan lembaga agama memiliki ikatan komunikasi yang personal, kuat, dan melekat yang akan susah untuk digoyahkan.

Begal memang berawal dari tongkrongan di jalanan yang menjalar ke tindak kejahatan. Begal bisa berkembang dengan cepat dan massif, melalui rangkaian berbagai bentuk komunikasi. Karena itu, dalam penyelesaiannya pun sepatutnya melibatkan perbaikan komunikasi di semua lini.

Prof. Dr. H. Enjang, M.Ag., M.Si, Guru Besar Ilmu Komunikasi, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *