Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Tengah Perjalanan Kuliah

Kisah Fattah Fadhila Abulkhair, Lulusan Berprestasi Tahfidz 30 Juz

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah kesibukan perkuliahan, organisasi, hingga aktivitas pengabdian kepada masyarakat, menjaga hafalan Al-Qur’an bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kedisiplinan, keistiqamahan, dan komitmen yang terus dirawat setiap hari.

Hal itulah yang dijalani Fattah Fadhila Abulkhair, lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung asal Bekasi yang berhasil meraih predikat Lulusan Berprestasi Tahfidz 30 Juz.

Di balik penghargaan tersebut tersimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak bangku sekolah. Fattah mulai menghafal Al-Qur’an ketika duduk di kelas 1 SMP saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Mulia Bogor.

Setelah melalui proses sekitar empat setengah tahun, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz ketika berada di kelas 2 SMA. Waktu yang tersisa selama di pesantren ia manfaatkan untuk memutqinkan hafalan agar tetap terjaga.

Kecintaannya pada Al-Qur’an tumbuh dari kebiasaan mendengarkan murattal para imam Masjidil Haram. Salah satu qari yang paling menginspirasinya adalah Syekh Muhammad Thaha. Ketertarikan pada seni membaca Al-Qur’an sejak kecil membuat proses menghafal terasa lebih ringan dan menyenangkan.

“Saya sangat senang mendengarkan murattal para syekh. Dari situlah muncul keinginan untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Sampai sekarang membaca dan murajaah menjadi aktivitas yang saya nikmati,” tuturnya, Minggu (12/7/2026).

Memasuki dunia perkuliahan, tantangan yang dihadapi semakin beragam. Jadwal akademik, organisasi, hingga aktivitas di luar kampus menuntutnya mampu mengelola waktu dengan baik tanpa mengabaikan hafalan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.

Fattah membiasakan murajaah setiap pagi dan setelah Magrib. Selama tiga tahun menjadi pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia membimbing tidak kurang dari 500 mahasantri dalam program tahfidz. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase yang paling berkesan dalam perjalanan kuliahnya.

Pada tahun terakhir kuliah, ia dipercaya menjadi imam tetap Masjid Baitul Mu’min, Antapani Kidul, Kota Bandung. Amanah itu justru menjadi cara terbaik baginya untuk terus menjaga hafalan.

“Menjadi imam membantu saya terus mengulang hafalan karena setiap hari membaca ayat-ayat Al-Qur’an di depan jamaah,” katanya.

Di luar aktivitas akademik, Fattah aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab pada bidang Pengembangan Intelektual. Ia juga terlibat sebagai relawan dan aktivis dakwah di Masjid Salman ITB serta Daarut Tauhiid Bandung, pengalaman yang semakin memperluas ruang pengabdiannya kepada masyarakat.

Konsistensi menjaga hafalan turut membawanya menorehkan berbagai prestasi di bidang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ). Di antaranya Juara 1 MHQ 5 Juz di Ma’had Darul Arqam Ciparay, Juara 1 MHQ 5 Juz di Medina Insan Qur’ani, serta Juara Harapan 1 MHQ 10 Juz tingkat Jawa Barat pada Festival Qur’an UPTQ UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Setiap perlombaan menjadi pengalaman untuk menguji kualitas hafalan sekaligus melatih mental. Dari sana saya belajar bahwa menjaga konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar prestasi,” ujarnya.

Saat diumumkan sebagai lulusan berprestasi Tahfidz 30 Juz sekaligus penerima beasiswa penuh (full scholarship) jenjang Magister di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fattah mengaku tidak menyangka.

“Saya sangat bersyukur. Pencapaian ini menjadi penyemangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri di jenjang berikutnya,” ungkapnya.

Kabar tersebut disambut hangat oleh keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Ucapan selamat serta doa terus mengalir sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah ia tempuh sejak remaja.

Meski telah meraih berbagai penghargaan, bagi Fattah pengalaman yang paling membekas justru hadir dari proses membersamai orang lain. Kesempatan membimbing ratusan mahasantri membuatnya belajar bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan.

“Selama tiga tahun membimbing mahasantri, saya bertemu begitu banyak orang. Sampai sekarang ketika berjalan di kampus selalu ada yang menyapa. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.”

Menutup perbincangan, Fattah mengajak mahasiswa untuk terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, tanpa melihat banyak atau sedikitnya hafalan yang dimiliki.

“Bagi teman-teman yang memiliki hafalan Al-Qur’an, baik 30 juz, 15 juz, 10 juz, bahkan baru satu atau beberapa surah, jangan pernah berhenti murajaah dan mengaji. Sesibuk apa pun kuliah atau organisasi, Al-Qur’an tetap harus menjadi bagian dari kehidupan. Al-Qur’an akan menjadi kompas terbaik ketika kita sedang bingung, lelah, atau dihadapkan pada berbagai persoalan hidup.”

Perjalanan Fattah menunjukkan bahwa kesungguhan, manajemen waktu, dan istiqamah mampu berjalan beriringan dengan kehidupan akademik.

Predikat sebagai lulusan berprestasi Tahfidz 30 Juz menjadi salah satu bukti bahwa menjaga Al-Qur’an bukan penghalang untuk berprestasi, melainkan bekal yang menguatkan langkah dalam menempuh pendidikan, mengabdi kepada masyarakat, dan menatap masa depan. (Mohamad Farhan Fadilah / Magang)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *