Mahasiswa Asing UIN Bandung Didorong Jadi Duta Bangsa dan Kampus yang Visioner

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebanyak 91 mahasiswa asing yang menempuh studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengikuti Pembinaan Mahasiswa Asing Tahun 2026 yang digelar International Office (IO) di Gedung O. Djauharuddin AR Lantai 2, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat kapasitas akademik mahasiswa internasional dan meningkatkan pemahaman mereka mengenai administrasi kependudukan dan regulasi keimigrasian selama berada di Indonesia.

Dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Ahmad Bukhori Muslim, S.Pd., M.Ed., Ph.D., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menyampaikan materi Penulisan Karya Ilmiah, Yan Raspati, M.Si., Kepala Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, yang membahas Pencatatan Sipil bagi Warga Negara Asing (WNA), serta Fitita Reza, Kepala Subseksi Status Keimigrasian, yang memberikan pembekalan mengenai keimigrasian dan berbagai perizinan bagi warga negara asing.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Kelembagaan, Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M.Ag., menyampaikan permohonan maaf atas nama Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., yang tidak dapat hadir karena sedang melaksanakan agenda penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di Jakarta.

Mengawali arahannya, Prof. Fathonih menegaskan bahwa kegiatan pembinaan ini bukan diselenggarakan karena mahasiswa asing melakukan pelanggaran atau memiliki masalah tertentu. Menurutnya, pembinaan merupakan bentuk perhatian dan pendampingan kampus kepada seluruh mahasiswa internasional agar dapat menjalani proses studi dengan baik.

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul dalam kegiatan ini. Pembinaan ini bukan karena kalian nakal atau memiliki masalah yang harus dibina, tetapi sebagai bentuk perhatian dan pendampingan dari kampus agar proses studi berjalan dengan baik,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Syariah itu menegaskan bahwa mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung merupakan duta bagi negara dan masyarakat asalnya. Karena itu, tujuan utama datang ke Indonesia bukan sekadar memperoleh ijazah atau gelar akademik, melainkan mencari ilmu dan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan dan masa depan.

“Gelar dan ijazah bisa saja rusak atau hilang, tetapi ilmu akan tetap melekat dalam diri seseorang. Karena itu, manfaatkan kesempatan belajar ini sebaik-baiknya,” katanya.

Fathonih mengingatkan bahwa proses menuntut ilmu selalu diwarnai berbagai dinamika dan tantangan, terutama bagi mahasiswa yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar perkuliahan. Oleh sebab itu, mahasiswa asing didorong untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami materi maupun arahan akademik.

“Mencari ilmu penuh dengan dinamika dan cobaan. Bagi mahasiswa yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, jangan sampai terjadi salah persepsi ketika menerima arahan dosen atau mengikuti perkuliahan yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia,” pesannya.

Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan studi di Indonesia adalah kemampuan beradaptasi dan membangun komunikasi dengan lingkungan sekitar. Mahasiswa asing diharapkan tidak hanya berinteraksi dengan sesama warga negara asal, tetapi aktif bergaul dan berkolaborasi dengan mahasiswa Indonesia.

“Jangan menjadi tembok pemisah dengan masyarakat. Bergaullah, berbaurlah dengan mahasiswa lain, bangun komunikasi yang baik, dan jadilah bagian dari kehidupan kampus serta masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Wakil Rektor IV ini mengajak para mahasiswa asing untuk menjadi duta kampus yang visioner serta turut memperkenalkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung kepada calon mahasiswa internasional lainnya.

“Kalian sedang dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dan negara asal masing-masing. Karena itu, jadilah mahasiswa yang unggul dan berbeda sehingga kehadiran kalian di UIN Sunan Gunung Djati Bandung memberikan manfaat yang besar bagi diri sendiri maupun masyarakat. Ajak pula teman-teman dari negara asal untuk melanjutkan studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung,” tuturnya.

Dalam laporannya, Kepala International Office UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Munir, M.A., yang didampingi Dr. Gina Giftia Azmiana Delilah, M.Ag., Sekretaris International Office, menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa asing pada aspek akademik dan administrasi selama menempuh pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Pembinaan tahunan ini menghadirkan materi academic writing, administrasi kependudukan, dan keimigrasian sebagai bekal penting bagi mahasiswa asing selama menjalani studi di Indonesia.

“Jumlah mahasiswa asing yang tercatat saat ini sebanyak 91 orang, terdiri atas 63 mahasiswa program Sarjana (S1) dan 28 mahasiswa program Pascasarjana. Mereka berasal dari berbagai negara dan kawasan, di antaranya Yaman, Filipina, Malaysia, Patani Thailand, Singapura, Uzbekistan, dan Somalia. Sejatinya seluruh mahasiswa asing mengikuti kegiatan ini, namun sebagian di antaranya sedang melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) sehingga tidak dapat hadir secara penuh,” jelasnya.

Munir menuturkan penguatan keterampilan akademik menjadi salah satu fokus utama pembinaan. Melalui materi academic writing, mahasiswa asing didorong untuk memiliki kemampuan akademik yang memadai dalam menyusun karya ilmiah yang berkualitas dan layak dipublikasikan pada jurnal-jurnal ilmiah terakreditasi.

“Kami ingin mahasiswa asing memiliki keterampilan akademik yang mumpuni. Karena itu, materi academic writing menjadi bagian penting dalam pembinaan ini agar mereka mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan dapat dipublikasikan pada jurnal-jurnal terakreditasi,” tuturnya.

Mengingat aspek administrasi menjadi perhatian penting. Dosen Fakultas Ushuluddin tersebut mengingatkan agar mahasiswa asing memahami prosedur administrasi kependudukan dan keimigrasian, termasuk terkait izin tinggal selama berada di Indonesia.

“Kami berharap mahasiswa asing segera mengurus berbagai kebutuhan administrasi, terutama terkait izin tinggal dan dokumen keimigrasian. Jangan menunggu hingga mendekati masa berlaku habis. Saat ini beberapa layanan yang sebelumnya cukup melalui RT, RW, dan kelurahan, sudah harus diproses melalui Disdukcapil dengan kehadiran pemohon secara langsung,” katanya.

Munir menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas, para narasumber, dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pembinaan mahasiswa asing tahun 2026 dapat berjalan dengan baik berkat dukungan penuh pimpinan universitas serta sinergi berbagai instansi yang terlibat.

Pada sesi akademik, peserta mendapatkan materi Penulisan Karya Ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Ahmad Bukhori Muslim, S.Pd., M.Ed., Ph.D., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Mengawali pemaparannya, Prof. Bukhori mengaku senang dapat kembali hadir di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi semacam napak tilas karena dirinya pernah mengajar di kampus ini pada tahun 2001–2002.

“Ini menjadi momen napak tilas bagi saya karena pernah mengajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 2001 sampai 2002. Saya senang bisa kembali berbagi pengalaman akademik dengan mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di sini,” tandasnya.

Dalam pemaparannya, Bukhori menjelaskan pentingnya keterampilan menulis dan meneliti bagi mahasiswa. Menurutnya, setiap jenjang pendidikan memiliki standar karya ilmiah yang berbeda. Skripsi umumnya ditulis sekitar 12 ribu kata, tesis sekitar 16 ribu kata, sedangkan disertasi dapat mencapai 60 hingga 70 ribu kata. Selain itu, mahasiswa juga perlu membiasakan diri menulis artikel ilmiah sekitar 5 ribu kata yang dapat dikirimkan ke jurnal dan dipublikasikan.

“Apapun pilihan akademiknya, baik skripsi, tesis maupun disertasi, semuanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa mampu menyelesaikannya dengan baik dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,” katanya.

Guru Besar UPI ini menjelaskan struktur karya ilmiah harus disusun secara sistematis. Pada skripsi, Bab I memuat latar belakang dan rumusan masalah, Bab II berisi tinjauan pustaka, Bab III menjelaskan metodologi penelitian, Bab IV memuat hasil dan pembahasan, sedangkan Bab V berisi simpulan. Menurutnya, prinsip yang sama juga berlaku dalam penulisan artikel ilmiah yang harus memiliki alur argumentasi yang jelas dan runtut.

Judul dan abstrak merupakan bagian penting dalam karya ilmiah. “Judul dalam sebuah artikel ibarat kepala pada tubuh manusia. Tanpa judul yang baik, pembaca akan sulit memahami arah tulisan. Sementara abstrak merupakan ringkasan penelitian yang harus ditulis secara jelas, padat, dan mampu menggambarkan keseluruhan isi penelitian,” jelasnya.

Tradisi menulis dan meneliti tidak hanya penting bagi penyelesaian studi, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi akademik yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang. Ia mengingatkan bahwa ilmu yang ditulis dan disebarluaskan melalui karya ilmiah dapat menjadi salah satu bentuk amal jariah yang pahalanya terus mengalir.

“Dalam hadis disebutkan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Karena itu, menulis dan meneliti merupakan bagian dari upaya menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Dengan mengajak mahasiswa untuk selalu menjawab pertanyaan mendasar sebelum melakukan penelitian, yakni mengapa penelitian tersebut penting dilakukan dan apa manfaat yang ingin diberikan kepada masyarakat. Dari situlah lahir karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi syarat akademik, tetapi memberikan dampak nyata bagi kehidupan.

Selain penguatan akademik, peserta memperoleh materi mengenai Pencatatan Sipil bagi Warga Negara Asing (WNA) yang disampaikan oleh Yan Raspati, M.Si., Kepala Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Materi ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya kelengkapan dokumen kependudukan sebagai bagian dari legalitas keberadaan mahasiswa asing selama tinggal di Indonesia.

Untuk narasumber dari Kantor Imigrasi, Fitita Reza, Kepala Subseksi Status Keimigrasian, memberikan pembekalan mengenai keimigrasian warga negara asing dan berbagai perizinannya. Dalam sesi ini dijelaskan prosedur izin tinggal, kewajiban pelaporan, mekanisme perpanjangan izin, serta berbagai ketentuan keimigrasian yang harus dipatuhi selama menjalani studi di Indonesia.

Dengan adanya kegiatan ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya untuk memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa internasional sekaligus memperkuat atmosfer akademik yang inklusif, multikultural, dan berdaya saing global. “Pembinaan ini diharapkan mampu membantu mahasiswa asing beradaptasi dengan lingkungan kampus, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi duta yang membawa nama baik UIN Sunan Gunung Djati Bandung di tingkat internasional,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *