Berdikari atau Didikte, Seminar Nasional 2026 FEBI UIN Bandung Soroti Masa Depan Ekonomi Islam

UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Nasional 2026 bertema “Berdikari atau Didikte: Menavigasi Ekonomi Islam yang Berdampak di Tengah Krisis Asimetris” di Aula Utama Lantai 2 FEBI, Kamis (4/6/2026).
Dr. Juliana, S.Pd., M.E.Sy., AWP., CFP., (Akademisi, Praktisi dari Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia), Dr. Raden Khemal Youwangka, ST., MM.,Praktisi Ekonomi dan Bisnis Islam), Dr. Hamdan Sugilar, M.Pd., (Kepala Rumah Jurnal) tampil menjadi narasumber Seminar Nasional 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari Gunung Djati Conference Series (GDCS) ini menghadirkan akademisi, praktisi, dosen, dan mahasiswa untuk mendiskusikan arah masa depan ekonomi Islam dalam menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.

Seminar nasional yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan akademik, tetapi menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi ilmiah, meningkatkan literasi ekonomi Islam, mendorong lahirnya inovasi dan solusi nyata, serta menghasilkan luaran akademik berupa Prosiding GDCS UIN Bandung ber-ISBN.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., menegaskan bahwa seminar ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan posisi ekonomi Islam di tengah krisis asimetris yang saat ini melanda berbagai negara.

“Seminar ini bukan sekadar ruang akademik untuk bertukar gagasan, melainkan juga wadah silaturahmi, refleksi, dan saling mengingatkan dalam menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks, khususnya krisis asimetris yang tengah kita hadapi,” ujarnya.

Menurutnya, krisis asimetris tampak dalam berbagai bentuk ketimpangan, termasuk kesenjangan akses ekonomi dan pemanfaatan sumber daya yang masih dihadapi masyarakat. Padahal Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia yang menyimpan potensi besar untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Menurutnya arah pembangunan ekonomi Indonesia sesungguhnya telah memiliki landasan kuat melalui Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan asas kekeluargaan sebagai fondasi perekonomian nasional. Namun tantangan saat ini bukan hanya pada tataran konsep, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam praktik kehidupan ekonomi yang berkeadilan.

“Agama, regulasi, dan adab harus menjadi instrumen navigasi bersama dalam membangun ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam laporannya, Wakil Dekan I FEBI, Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Pd., M.E.Sy., menjelaskan bahwa seminar nasional ini merupakan agenda tahunan yang menghasilkan prosiding nasional sebagai media diseminasi gagasan dan hasil penelitian dosen maupun mahasiswa.

Dunia saat ini menghadapi bentuk perang baru yang tidak lagi berlangsung di medan terbuka, melainkan melalui gangguan rantai pasok global, konflik geopolitik, dan tekanan ekonomi yang dampaknya dirasakan secara tidak merata.

“Ketika negara-negara besar mengalami konflik, negara berkembang seperti Indonesia sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya melalui kenaikan harga pangan, energi, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Karena itu, kemandirian ekonomi menjadi kebutuhan yang mendesak,” jelasnya.

Dalam sesi pemaparan utama, Dr. Juliana, S.Pd., M.E.Sy., AWP., CFP., dari Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia menyoroti kondisi ekonomi global yang ditandai oleh ketidakpastian akibat konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, perubahan iklim, disrupsi teknologi, krisis energi, serta krisis pangan.

Krisis yang terjadi saat ini bersifat asimetris karena memberikan dampak yang berbeda bagi setiap negara, bergantung pada kapasitas pemulihan, akses modal, teknologi, dan tingkat kerentanan masyarakatnya.

Indonesia memiliki peluang strategis berupa bonus demografi, posisi sebagai ekonomi digital terbesar di ASEAN, dan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Potensi tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional berbasis ekonomi syariah.

“Pilihan yang kita hadapi hari ini adalah berdikari atau didikte. Berdikari berarti membangun kapasitas nasional, mendorong inovasi, dan memperkuat kedaulatan ekonomi. Sebaliknya, didikte menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap kekuatan eksternal,” ungkapnya.

Kehadiran ekonomi Islam memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan krisis karena bertumpu pada aset riil, mendorong sektor produktif, menjunjung keadilan distribusi, serta menghindari praktik spekulatif. Penguatan ekonomi syariah dapat dilakukan melalui optimalisasi zakat, wakaf, filantropi Islam, pengembangan UMKM syariah, serta penguatan industri halal.

Pada sesi berikutnya, Dr. Raden Khemal Youwangka, ST., MM., membahas perspektif kewirausahaan dalam menghadapi krisis asimetris. Ia menyoroti berbagai tekanan ekonomi yang muncul akibat turbulensi geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perang dagang yang memengaruhi stabilitas usaha.

Dampak krisis tidak dirasakan secara merata. Banyak usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi justru menghadapi tantangan besar akibat lemahnya struktur usaha, keterbatasan modal, dan rendahnya kapasitas manajerial.

“Krisis global tidak bisa dihindari, tetapi bisa dinavigasi. Pelaku usaha harus memperkuat manajemen keuangan, membangun jaringan bisnis yang sehat, serta menerapkan akad-akad syariah sebagai fondasi usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Rumah Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Hamdan Sugilar, M.Pd., memaparkan strategi peningkatan peringkat Webometrics sebagai bagian dari upaya memperkuat reputasi akademik perguruan tinggi di tingkat global.

Penilaian Webometrics mencakup aspek visibility, transparency, dan excellence yang mencerminkan kualitas ekosistem akademik kampus secara keseluruhan.

“Peningkatan ranking Webometrics bukan hanya tugas pengelola website. Dosen, peneliti, mahasiswa, rumah jurnal, repositori, perpustakaan, dan humas memiliki peran yang sama penting dalam memperkuat visibilitas dan dampak akademik institusi,” jelasnya.

Diskusi yang berlangsung interaktif turut membahas berbagai isu aktual, mulai dari kebijakan ekonomi nasional, penguatan koperasi berbasis syariah, pengembangan UMKM, hingga implementasi akad-akad syariah dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan adanya Seminar Nasional 2026, FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap berbagai gagasan yang lahir dari forum akademik ini tidak berhenti pada tataran diskursus, melainkan dapat diterjemahkan menjadi program dan kebijakan yang memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ekonomi umat serta pembangunan masyarakat yang berkeadilan.

Semangat “berdikari” yang diusung dalam seminar ini diharapkan menjadi pijakan bersama untuk membangun ekonomi Islam yang lebih visioner, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman di tengah dinamika krisis global yang terus berkembang.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *