UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul di rumah Allah ini untuk menunaikan salat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah ritual yang kita lakukan, tetapi juga dalam sejauh mana ibadah tersebut melahirkan manfaat bagi kehidupan sesama manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang mengandung dimensi spiritual dan sosial yang sangat kuat. Setelah seorang muslim kembali dari Tanah Suci, kemabruran hajinya tidak hanya diukur dari gelar yang disandang atau cerita perjalanan yang dibagikan, tetapi dari perubahan sikap dan kontribusi nyata yang dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani).
Hadis ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa ukuran kemuliaan seorang muslim bukan hanya pada kesalehan pribadinya, tetapi juga pada manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita renungkan agar kemabruran haji benar-benar melahirkan manfaat bagi sesama.
Pertama, Meningkatkan Kepedulian Sosial.
Meningkatkan kepedulian sosial pasca haji adalah wujud nyata dari kemabruran, mengubah kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial. Hal ini dapat dicapai melalui tiga langkah utama: berbagi secara konsisten (sedekah/infak), menjadi teladan dengan menebar kedamaian, dan terlibat aktif dalam program kemasyarakatan setempat, Allah SWT berfirman:
وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Haji mengajarkan empati, kesederhanaan, dan kepedulian. Ketika jutaan manusia mengenakan pakaian ihram yang sama, kita belajar bahwa semua manusia setara di hadapan Allah. Oleh karena itu, sepulang haji hendaknya semakin ringan tangan membantu fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, serta berbagai kegiatan sosial yang membawa kemaslahatan umat. Sedekah, infak, dan zakat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana menghadirkan keberkahan bagi kehidupan masyarakat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Menjadi Teladan dalam Akhlak.
Menjadi teladan pasca haji adalah ujian utama seorang Muslim untuk meraih predikat Haji Mabrur, di mana akhlak dan ibadah semakin meningkat setelah kembali ke tanah air. Nilai-nilai spiritual dari Tanah Suci harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata di tengah masyarakat. Kemabruran akan tampak melalui perubahan perilaku. Orang yang mabrur semakin jujur, amanah, santun, rendah hati, dan mudah memaafkan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
Artinya: “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari).
Dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dunia kerja, bahkan media sosial, seorang muslim dituntut menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatannya. Akhlak yang baik sering kali menjadi dakwah yang lebih efektif daripada banyaknya kata-kata.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, Mengembangkan Ekonomi yang Berkeadilan.
Pengembangan ekonomi yang berkeadilan pasca-haji direalisasikan melalui pembangunan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang terintegrasi, yang memastikan perputaran dana tidak hanya terjadi di Arab Saudi. Kebijakan ini berfokus pada pemerataan manfaat finansial untuk memperkuat UMKM dan meningkatkan kemaslahatan umat Islam. Islam mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi juga merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan kejujuran dan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ الْأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
Kemabruran haji hendaknya mendorong lahirnya pelaku usaha yang jujur, pemimpin yang amanah, serta masyarakat yang bekerja keras untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Membuka lapangan pekerjaan, membantu usaha kecil, dan memberdayakan ekonomi umat merupakan bentuk nyata menebar manfaat bagi sesama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat, Menjadi Rahmat bagi Lingkungan dan Bangsa.
Puncak kemabruran ibadah haji terlihat dari akhlak mulia, kedisiplinan, dan kepedulian sosial yang ditebarkan dalam kehidupan sehari-hari. Haji bukan sekadar gelar, melainkan proses spiritual berkelanjutan yang menuntut seorang Muslim menjadi agen perubahan. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Seorang muslim yang mabrur tidak hanya peduli kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada lingkungan, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Ia menjaga kebersihan, merawat alam, memperkuat persaudaraan, serta berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, bangsa Indonesia memerlukan semakin banyak pribadi-pribadi yang memiliki semangat kemabruran. Mereka yang jujur dalam bekerja, amanah dalam memimpin, santun dalam berkomunikasi, peduli terhadap sesama, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, marilah kita jadikan ibadah haji dan seluruh ibadah yang kita lakukan sebagai sarana transformasi diri. Kesalehan pribadi harus melahirkan kesalehan sosial. Kedekatan kepada Allah harus melahirkan kepedulian kepada manusia.
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menebar manfaat, memperbanyak amal saleh, dan memperoleh kemuliaan di dunia maupun di akhirat. Wallahu A’lam bish Shawab.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal saleh, menjaga akhlak mulia, memperkuat kepedulian sosial, serta menebarkan manfaat bagi sesama. Semoga setiap langkah kehidupan kita menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.