Lipstik Effect Antara Resesi dan Antrean Kopi Susu / Ilustrasi gambar AI

Antara Resesi dan Antrean Kopi Susu

UINSGD.AC.ID (Humas) — Belakangan ini, kita sering disuguhi berita tentang ancaman resesi ekonomi global. Harga bahan bakar naik, inflasi merangkak, nilai tukar rupiah tertekan, dan banyak perusahaan mulai melakukan efisiensi dengan merumahkan karyawan.

Jika membaca data makroekonomi, seharusnya kita semua menarik napas panjang dan mulai mengencangkan ikat pinggang. Tapi coba lihat ke luar jendela, atau sekadar buka Instagram Stories.

Ada yang aneh saat ini, kafe-kafe kekinian tetap ramai. Antrean panjang di gerai kopi premium masih terjadi setiap pagi dan sore. Teman-teman kantor masih dengan semangat memesan kopi susu seharga Rp45.000 per gelas, lengkap dengan foam art yang cantik, lalu difoto dari berbagai sudut sebelum diseruput. Mengapa?

Bukankah seharusnya di saat ekonomi sulit, orang justru berhenti membeli barang- barang yang tidak esensial? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Fenomena yang memiliki nama sendiri dalam dunia ekonomi perilaku Lipstick Effect atau dalam ejaan populer di Indonesia Lipstik Effect.

Apa Itu Lipstik Effect?

Istilah Lipstick Effect pertama kali populer pada tahun 2001 berkat pengamatan Leonard Lauder, sang chairman dari perusahaan kosmetik raksasa Estée Lauder. Dunia saat itu masih dalam keadaan syok berat. Serangan teroris 11 September di New York baru saja mengguncang Amerika Serikat. Ekonomi AS jatuh, pasar saham ambruk, dan tingkat kepercayaan konsumen berada di titik terendah. Namun Lauder melihat sesuatu yang aneh sekaligus menarik.

Penjualan lipstik di semua lini merek yang berada di bawah naungan Estée Lauder mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu tahun 2000 yang ekonominya relatif stabil. Bagaimana mungkin di tengah krisis, orang masih membeli lipstik, sementara barang-barang lain yang lebih mahal seperti pakaian desainer atau tas mewah justru sepi peminat?

Lauder menyimpulkan bahwa lipstik adalah indikator ekonomi yang kontradiktif. Semakin buruk kondisi ekonomi, semakin tinggi penjualan lipstick yang kemudian menamai fenomena ini sebagai Lipstick Index (Indeks Lipstik).

Sejak saat itulah, para ekonom mulai menggunakan indeks sederhana ini sebagai salah satu cara untuk membaca “mood” ekonomi masyarakat.

Namun, jauh sebelum Lauder, seorang ekonom sekaligus sosiolog Amerika bernama Juliet Schor sudah menuliskan pola serupa dalam bukunya The Overspent American yang terbit pada 1998. Schor mengamati bahwa ketika uang mulai ketat, Perempuan cenderung tetap membeli lipstik bermerek yang dipakai di tempat yang terlihat oleh orang lain, namun mulai menghindari produk perawatan kulit yang lebih mahal dan hanya dipakai di rumah. Mengapa?

Karena lipstik adalah affordable luxury, suatu kemewahan yang masih terjangkau yang memberikan rasa senang, kepercayaan diri, dan sensasi karena masih mampu membeli sesuatu yang mewah meskipun dompet sedang menipis.

Dari Lipstik ke Kopi ; Bentuk Lain di Zaman Sekarang

Lipstik effect tidak harus selalu berbentuk lipstik. Esensinya adalah ketika ekonomi lesu, masyarakat tidak benar-benar berhenti berbelanja. Mereka hanya mengalihkan pengeluaran dari barang-barang besar (seperti mobil, liburan ke luar negeri, atau gadget mahal) ke barang-barang kecil yang tetap memberikan kepuasan dan sensasi kemewahan, namun dengan harga yang masih masuk akal. Di Indonesia, bentuk paling nyata dari lipstik effect saat ini adalah kopi premium dan kebiasaan ngafe. Mari kita bedah:

1. Harga yang relatif terjangkau. Secangkir kopi susu di kafe kekinian harganya sekitar Rp35.000–Rp55.000. Dibandingkan dengan membeli tas branded seharga lima juta atau liburan ke Bali seharga dua juta, ngafe adalah “kemewahan kecil” yang masih bisa dijangkau oleh sebagian besar masyarakat kelas menengah perkotaan.

2. Memberikan kepuasan instan, seperti rasa manis, kafein, suasana kafe yang estetik, serta momen bersantai setelah lelah bekerja memberikan reward cepat bagi otak. Di tengah tekanan ekonomi dan pekerjaan, ngafe menjadi bentuk pelarian yang murah dan efektif.

3. Nilai sosial dan status, Ketika memegang gelas kopi dari merek tertentu sambil berswafoto dan mengunggahnya ke media sosial tetap dianggap sebagai bagian dari gaya hidup “kekinian”. Tentu sama dengan fungsi lipstick sebagai barang yang terlihat oleh orang lain, bukan produk perawatan rumah yang tidak terekspos.

Juliet Schor menyebut fenomena ini sebagai cara orang melarikan diri dari kenyataan sehari-hari yang terasa berat dan melelahkan. Hidup di tengah inflasi, PHK, dan ketidakpastian membuat stres. Maka, menyeduh atau membeli kopi premium adalah bentuk kecil dari self-reward yang menjaga kewarasan.

Bukti Lipstik Effect Terjadi di Sekitar Kita

Anda mungkin bertanya, apakah ini hanya teori atau memang benar terjadi? Jawabannya: nyata, terdokumentasi, dan sedang terjadi di sekitar kita. Beberapa indikator sederhana:

Selama masa pandemi COVID-19, ketika banyak usaha tutup, sebaliknya muncul gelombang baru kedai kopi kekinian dan coffee shop rumahan.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah kedai kopi di Indonesia meningkat pesat hingga ribuan outlet baru meskipun daya beli sedang tertekan.

Rantai kopi besar seperti Starbucks, Fore Coffee, dan Janji Jiwa melaporkan bahwa meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku, tetapi tingkat kunjungan pelanggan tidak turun drastis. Bahkan pada momen-momen tertentu seperti payday, antrean membludak.

Fenomena “#NgafeDulu” menjadi semacam gerakan tidak resmi. Saat gaji turun atau THR menipis, orang semakin sering mengajak teman ke kafe untuk sekadar “curhat” atau “me time”, bukan untuk membeli barang elektronik atau pakaian mahal. Para ekonom modern menyebutnya sebagai ‘kontra-siklus konsumsi’ .

Artinya, permintaan terhadap barang-barang “mewah kecil” justru bergerak berlawanan arah dengan kondisi ekonomi makro. Semakin buruk ekonomi, maka semakin laku produk-produk tersebut.

 Tapi Hati-Hati, Jangan Terjebak!

Sekarang kita sampai pada pertanyaan paling penting: apakah lipstik effect itu buruk?

Jawabannya: tidak selalu, asalkan kita sadar akan perilaku kita sendiri. Yang menjadi masalah bukanlah membeli kopi atau lipstik. Masalahnya adalah ketika kita tidak lagi mampu membedakan antara kebutuhan dan pelarian sesaat yang malah menguras tabungan.

Leonard Lauder sendiri tidak pernah menganjurkan orang untuk boros di masa krisis. Dengan hanya mengamati pola. Juliet Schor, di sisi lain, memberi peringatan halus, bahwa produk affordable luxury seperti lipstik branded atau kopi mahal bisa menjadi jebakan psikologis.

Kita merasa bahwa dengan membelinya, kita “masih baik-baik saja”, padahal pengeluaran kecil yang tidak terkendali bisa terakumulasi menjadi kebocoran besar dalam keuangan pribadi. Coba hitung: jika Anda membeli kopi premium setiap hari kerja seharga Rp45.000, dalam sebulan (22 hari kerja) Anda menghabiskan hampir satu juta rupiah.

Dalam setahun, lebih dari 11 juta rupiah. Dengan uang sebesar itu, Anda bisa membeli mesin kopi rumahan yang lebih hemat, atau menabung untuk dana darurat yang sangat dibutuhkan di masa resesi.

Kesadaran Adalah Kunci

Fenomena lipstik effect mengajarkan kita bahwa konsumsi tidak akan pernah mati. Ekonomi lesu tidak serta-merta mengubah manusia menjadi makhluk yang tidak pernah membeli barang non-esensial. Kita tetaplah manusia dengan emosi, hasrat, dan kebutuhan akan kebahagiaan kecil.

Yang terpenting adalah ‘kesadaran’. Tanyakan pada diri sendiri setiap kali ingin membeli kopi premium atau produk “kemewahan kecil” lainnya, Apakah saya membeli ini karena benar-benar membutuhkannya, atau hanya karena stres? Apakah uang yang saya keluarkan sebanding dengan manfaat jangka panjangnya? Apakah kebahagiaan dari produk ini hanya sesaat, sementara saya mengorbankan tujuan keuangan yang lebih besar seperti tabungan, investasi, atau dana darurat?

Tidak ada yang salah dengan sesekali menikmati kopi di kafe atau membeli lipstik baru. Namun jadikan itu sebagai hadiah, bukan kebiasaan yang tidak disadari. Di saat ekonomi sedang tidak menentu, survival harus tetap menjadi prioritas dan tetap waras.

Tetap Bersenang-senang, Tetap Bijak

Lipstik effect adalah fenomena nyata yang sedang terjadi di Indonesia. Buktinya ada di sekitar Kita, orang-orang tetap antre kopi, kafe tetap penuh, dan gaya hidup “ngafe” masih menjadi bagian dari identitas perkotaan.

Hal ini bukanlah kemunafikan, melainkan mekanisme psikologis untuk bertahan di tengah tekanan. Namun seperti kata pepatah ‘segala sesuatu yang berlebihan tidak baik’ . Nikmatilah kemewahan kecil di masa resesi, tapi jangan sampai “lipstik” atau “kopi susu” menggerus masa depan finansial Anda.

Jadi, lain kali Anda memegang gelas kopi mahal sambil berswafoto, tanyakan apakah ini hadiah untuk diri sendiri atau kebiasaan yang mulai tidak terkendali? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Anda benar-benar menikmati lipstik effect, atau menjadi korbannya.

Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi  Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah  MPP ICMI

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *