Tips Qurban ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal

Ilustrasi Tips Qurban ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ibadah qurban bukan hanya soal menyembelih hewan pada Hari Raya Idul Adha. Lebih dari itu, qurban adalah wujud ketakwaan, rasa syukur, sekaligus kepedulian sosial kepada sesama.

Dalam pelaksanaannya, umat Islam dituntut untuk memastikan bahwa hewan qurban dan proses penyembelihannya memenuhi prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Di era modern, pelaksanaan qurban tidak cukup hanya “sah secara agama”, tetapi harus memperhatikan standar kesehatan, kebersihan, dan keamanan pangan sebagaimana diatur dalam Fatwa MUI No. 32 Tahun 2022 dan SKKNI 147 Tahun 2022 tentang penyembelihan halal dan SNI 99003-2018 tentang pemotongan halal pada hewan ruminansia.

Berikut beberapa tips praktis agar qurban kita benar-benar berkualitas dan membawa maslahat lebih luas.

Funny goats family in farm. Goats peek out of the fence

1. Pilih Hewan Qurban yang Sehat dan Sesuai Syariat

Langkah pertama dimulai dari pemilihan hewan qurban. Islam telah menetapkan jenis dan usia minimal hewan yang sah untuk diqurbankan, seperti sapi atau kerbau minimal berumur dua tahun, kambing atau domba satu tahun, dan domba minimal enam bulan (jadza’ah) jika sudah tampak besar dan layak serta tanggal gigi depannya, apabila sulit ditemukan domba usia setahun.

Selain usia, kondisi fisik hewan juga harus diperhatikan. Rasulullah SAW melarang hewan yang buta, sakit parah, pincang berat, atau sangat kurus dijadikan hewan qurban.

Karena itu, sebelum membeli hewan qurban:

– Pastikan hewan aktif dan nafsu makannya baik.

– Mata terlihat cerah dan tidak berair.

– Bulu bersih serta tidak kusam.

– Tidak mengalami pincang atau luka serius.

– Memiliki surat keterangan kesehatan hewan jika memungkinkan.

– Pemeriksaan oleh dokter hewan atau paramedik veteriner juga sangat dianjurkan untuk memastikan hewan benar-benar layak disembelih.

2. Pastikan Penyembelihan Dilakukan Secara Halal

Kehalalan qurban tidak hanya bergantung pada hewannya, tetapi juga pada proses penyembelihannya. Penyembelih harus seorang muslim, berakal, sadar saat menyembelih, serta menyebut nama Allah ketika penyembelihan dilakukan.

Alat sembelih pun harus tajam dan tidak berasal dari tulang, kuku, atau gigi.

Dalam proses penyembelihan, saluran makanan, saluran napas, dan dua pembuluh darah utama harus terpotong agar penyembelihan berlangsung sempurna dan hewan tidak tersiksa.

Islam mengajarkan etika penyembelihan yang penuh kasih sayang terhadap hewan, seperti:

– Tidak menajamkan pisau di depan hewan.

– Tidak memukul hewan sebelum disembelih.

– Mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak merasakan sakit berkepanjangan.

3. Utamakan Kebersihan dan Higiene

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi saat qurban adalah mengabaikan kebersihan lokasi penyembelihan dan penanganan daging.

Padahal, SKKNI 147 Tahun 2022 menegaskan pentingnya higiene dan sanitasi dalam seluruh proses penyembelihan halal.

Beberapa hal sederhana namun penting antara lain:

– Gunakan alas bersih saat memotong daging.

– Pisahkan jeroan dan daging agar tidak terjadi kontaminasi.

– Cuci tangan dan alat secara berkala.

Gunakan wadah food grade untuk distribusi.

– Hindari meletakkan daging langsung di tanah.

– Kebersihan yang baik akan menjaga kualitas daging agar tetap aman dan sehat dikonsumsi masyarakat.

4. Gunakan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang Kompeten

Saat ini sudah banyak Juru Sembelih Halal (Juleha) bersertifikat yang memahami syariat sekaligus standar keamanan pangan. Kehadiran Juleha penting untuk memastikan proses penyembelihan berjalan cepat, tepat, manusiawi, dan sesuai aturan halal nasional.

Juleha memahami pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem, sehingga dapat membantu mendeteksi hewan yang tidak layak dikonsumsi.

5. Kelola Distribusi Daging Secara Tepat

Qurban tidak berhenti setelah penyembelihan selesai. Distribusi daging yang baik menjadi bagian penting agar manfaat qurban benar-benar dirasakan masyarakat.

Distribusi daging segar membutuhkan penanganan cepat dan rantai dingin (cold chain) yang baik agar kualitas daging tetap terjaga.

Menariknya, Fatwa MUI No. 32 Tahun 2022 juga memperbolehkan distribusi daging dalam bentuk olahan seperti abon, dendeng, atau kornet, terutama untuk daerah terpencil.

Dengan cara ini, manfaat qurban bisa menjangkau lebih banyak mustahik dan memiliki daya simpan lebih lama.

Qurban Berkualitas, Ibadah Lebih Bermakna

Qurban yang baik bukan hanya tentang banyaknya hewan yang disembelih, tetapi juga tentang kualitas pelaksanaannya. Ketika prinsip halal, kebersihan, kesehatan, dan profesionalisme dijaga, maka qurban akan benar-benar menjadi ibadah yang membawa keberkahan bagi semua pihak.

Qurban yang dilakukan dengan ilmu dan profesionalisme akan menghasilkan daging yang tidak hanya halal secara syariat, tetapi juga thayyib: aman, bergizi, dan bermanfaat bagi umat.

 

Arif Nursihah, S.Th.I., MA, selaku Koordinator Akademi Juleha UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *