UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebagai bagian dari upaya penguatan layanan informasi yang inklusif dan ramah disabilitas. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Workshop Bahasa Isyarat. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan Lantai 2 kampus 1, Kamis (21/5/2026)
Pada awalnya, kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari pembinaan Duta Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Namun, untuk memperluas manfaat kegiatan, cakupan peserta diperluas dengan mengundang perwakilan tenaga kependidikan dari unit PPID, PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), dan Humas yang bergerak dalam layanan informasi. Hadir beberapa mahasiswa non-Duta KIP yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa isyarat dan isu inklusivitas turut bergabung dalam kegiatan tersebut.
Workshop menghadirkan dua narasumber utama dari Pusbisindo, yaitu Kak Eka dan Kak Hasbi, serta didampingi oleh dua Juru Bahasa Isyarat. Tujuannya untuk mengenalkan dasar-dasar bahasa isyarat kepada peserta sebagai langkah awal membangun komunikasi yang lebih inklusif khususnya kepada Teman Tuli. Kegiatan ini diikuti oleh 44 peserta dari berbagai unsur mahasiswa dan tenaga kependidikan yang terlibat dalam pelayanan informasi di lingkungan kampus.
Materi yang disampaikan meliputi prinsip dasar bahasa isyarat, budaya Tuli, pengenalan alfabet, kosa kata dasar, kalimat tanya, perkenalan diri, hingga percakapan sederhana dalam bahasa isyarat. Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Hal tersebut terlihat dari aktifnya peserta dalam mengajukan pertanyaan serta keterlibatan langsung dalam praktik bahasa isyarat bersama narasumber.
Workshop dibuka oleh Dian Nuraiman, M.Si., M.Sc., Ph.D. selaku Koordinator PPID Pelaksana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas, khususnya dalam aspek pelayanan publik.
Menurutnya, hak atas informasi melekat pada siapapun tanpa terkecuali, termasuk bagi penyandang disabilitas. “Oleh karena itu, peningkatan pemahaman terhadap bahasa isyarat menjadi salah satu langkah penting dalam membangun pelayanan informasi yang lebih aksesibel dan setara,” tegasnya.
Dengan adanya kegiatan ini, PPID UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap tumbuh kesadaran bersama mengenai pentingnya inklusivitas dalam pelayanan publik, sekaligus menjadi langkah awal menghadirkan layanan informasi yang semakin ramah bagi semua kalangan.

