Meneguhkan Subjektifitas dan Rekognisi Perempuan dalam Ruang Akademik (Refleksi Hari Kartini)
UINSGD.AC.ID (Humas) — “Pengetahuan dan kuasa seperti dua sisi koin,” demikian Michel Foucault menggambarkan ikatan tak terpisahkan antara keduanya. Siapa yang menguasai pengetahuan, dialah pemegang kuasa.
Namun, realitas hari ini masih menyimpan luka lama: pengetahuan masih dimonopoli dalam ruang maskulin yang kaku, meminggirkan perempuan secara sistematis. Standar dan aturan dibentuk untuk melayani kepentingan laki-laki, mengabaikan perspektif perempuan yang penuh kedalaman dan keberagaman.
Dualitas patriarkal ini, warisan pemikiran lama yang usang, tak lagi relevan di era di mana realitas telah bergeser drastis—perempuan bukan objek pasif, melainkan subjek aktif yang mampu memproduksi pengetahuan.
Jejak Kartini: Api yang Tak Padam
Perayaan Kartini memang tidak sekedar tentang berkebaya. Tetapi dengan menggunakannya kita diingatkan bahwa perjuangan kesetaraan kita tidak tercerabut dari akar tradisi yang di situlah kita menemukan signifikansinya.
Bayangkan R.A. Kartini di penghujung abad 19, terkungkung di keputranan Jepara yang sunyi. Dengan pena sebagai senjatanya, ia menulis surat-surat membara: “Saya ingin melihat perempuan kita [Indonesia] maju, tidak lagi terbelenggu oleh kebodohan dan ketakutan.”
Hampir satu setengah abad kemudian, suaranya masih bergema nyaring di setiap perayaan Hari Kartini ini. Kisahnya bukan sekadar catatan sejarah, tapi obor yang menyala-nyala, memanggil kita untuk mewujudkan harapannya.
Lihatlah hari ini, Perempuan hadir di ruang-ruang pendidikan, meneguhkan subjektivitas, dan menjadikan pengetahuan sebagai kuasa kita sendiri. Kartini membuka pintu pertama; kini giliran kita merangsek masuk, mengubah ruang yang selama ini menutup diri.
Namun demikian, perjuangan ini belumlah usai. Di dunia akademik, perjuangan ini seperti mendaki gunung curam yang licin. Dominasi laki-laki sebagai lambang rasionalitas masih dianggap standar, sementara perempuan dicap “misterius dan irasional.”
Ruang kuliah, seminar, dan kepemimpinan masih dikuasai laki-laki; menempatkan perempuan di posisi strategis terasa seperti kaku dan tabu. Bukan karena perempuan tak mampu—bukti kemampuan perempuan melimpah!—tapi stereotype patriarkal yang terus menghantui.
Meniadakan perempuan dalam produksi pengetahuan berarti menyangkal kita sebagai subjek berdaulat. Itu sama saja dengan membiarkan narasi bahwa perempuan tak layak berpikir, tak pantas memimpin—dan akibatnya, kita terpinggirkan dari panggung intelektual yang seharusnya milik semua.
Menciptakan Ruang Bersama: Panggilan untuk Solidaritas
Di Hari Kartini ini, saatnya kita gugat dengan suara lantang atas nama kesetaraan. Pengetahuan bukan milik segelintir, tapi lahir dari mozaik pengalaman manusia—termasuk pengalaman perempuan yang selama ini terabaikan.
Solidaritas perempuan adalah kunci membuka gerbang keadilan. Mulailah dengan mengidentifikasi ketimpangan, gaungkan keluhannya ke angkasa menembus langit, dan bangun sistem baru yang adil, terbuka, dan penuh harapan.
Transformasi kesadaran kolektif tentang representasi perempuan di akademik bukanlah konfrontasi destruktif, melainkan konstruksi solidaritas yang saling mendukung. PSGA memimpin jalan dengan gender mainstreaming di kampus: melalui workshop, kajian, kebijakan inklusif, dan dialog terbuka yang memastikan perempuan bukan “pemanis” semata, tapi arsitek utama.
Peta jalan konstruktif diinisiasi untuk kemandirian akademik, karir dan memuluskan jalan kepemimpinan Perempuan untuk kesetaraan. Tema itu juga yang kami usung di PSGA UIN SGD Bandung sebagai bagian meneguhkan subjektifitas Perempuan akademisi dan membangun solidaritas Bersama.
Jalan tersebut mulai terang dengan akomodasi dan komitmen pimpinan di berbagai ruang untuk mengintegrasikan perspektif kesetaraan ke dalam kesadaran kita bersama. Untuk mewujudkannya, dukungan berbagai pihak termasuk laki-laki dan membuka pintu komunikasi, menciptakan dialog merupakan langkah strategis. Karena subjektifitas tidak dibangun dari ruang isolasi, tetapi dari interaksi keseharian.
Mari bangun ruang bersama untuk tumbuh membentuk pengetahuan yang manusiawi, produktif, dan inklusif. Kebaya yang kita pakai hari ini menandakan bahwa kita tidak melupakan sejarah; hari ini justru kita sedang menyematkan sejarah kita sendiri.
Irma Riyani, Ph.D., Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PGSA), UIN Sunan Gunung Djati Bandung