Kuliah Umum FSH UIN Bandung Bersama Menteri Wihaji, Keluarga Fondasi Utama Pembangunan Bangsa

UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kuliah Umum bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd., di Gedung Anwar Musaddad, Kamis (9/4/2026).

Mengusung tema “Transformasi Kebijakan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045”, kuliah umum dihadiri oleh Ketua DPD Golkar Jawa Barat H. Daniel Muttaqien Syaifuddin, S.ST., Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Ir. M.Q. Iswara, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si, Wakil Rektor II Prof. Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag., Wakil Rektor IV Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M.Ag., yang menjadi ruang strategis untuk memperkaya perspektif mengenai arah kebijakan nasional dan menegaskan peran generasi muda dalam menjadikan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Fauzan Ali Rasyid, M.Si., menegaskan bahwa kuliah umum ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang dialog penting antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam merumuskan arah pembangunan keluarga sebagai inti ketahanan negara.

Kiprah Alumni dalam Membangun Keluarga sebagai Madrasah Utama 

Menurutnya, FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran hukum keluarga di tengah masyarakat. Saat ini, FSH menyelenggarakan enam program studi strata satu unggulan yang berfokus pada integrasi hukum Islam dan hukum positif, yakni Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyyah), Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah), Hukum Pidana Islam (Jinayah), Hukum Tata Negara (Siyasah), Perbandingan Mazhab, dan Ilmu Hukum.

“Ada enam program studi di FSH dengan jumlah mahasiswa sekitar 4.300 orang, dan yang hadir dalam kuliah umum ini sekitar 2.000 peserta. Pada dasarnya kami mengundang Menteri untuk memperkuat gagasan membangun keluarga, karena salah satu kekuatan utama kami adalah Jurusan Hukum Keluarga. Alumni kami banyak berkiprah dalam bidang keluarga. Konsep negara membangun keluarga adalah proses inti dalam bernegara,” tegasnya.

Prof. Fauzan menjelaskan, FSH telah mencetak ribuan alumni yang kini berkiprah sebagai hakim, advokat, notaris, konsultan hukum, dosen, hingga pemimpin di berbagai lembaga pemerintahan maupun swasta. Dalam bidang hukum keluarga, kontribusi alumni sangat nyata, termasuk melalui layanan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di berbagai Pengadilan Agama di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

“Di setiap Pengadilan Agama ada Posbakum yang berkaitan dengan hukum keluarga. Banyak alumni kami yang menjadi hakim, advokat, dan pendamping hukum. Semua ini bermuara pada satu tujuan: membangun keluarga yang lebih harmonis dan lebih baik sebagai basis kehidupan bernegara,” ujarnya.

Prof Fauzan menambahkan bahwa FSH menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat dalam penguatan kesadaran hukum masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan hukum keluarga.

“Melalui kerja sama dengan Kemenkumham Jawa Barat, dosen-dosen kami aktif melakukan penyuluhan hukum yang diprioritaskan pada isu hukum keluarga. Ini penting, karena Jawa Barat menghadapi angka perceraian dan stunting yang masih tinggi. Penyuluhan hukum keluarga menjadi salah satu ikhtiar nyata untuk ikut membangun harmoni sosial,” paparnya.

Sinergi antara dunia akademik dan pemerintah ini diharapkan menjadi katalisator bagi terciptanya generasi unggul yang lahir dari keluarga-keluarga yang sehat, cerdas, dan religius.

Jalin Kerja Sama dan Kuatkan Kontribusi

Dalam Kuliah Umum dilakukan penandatangan nota kesepahaman bersama (MoU) antara Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., dengan Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI., Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd dan Perjanjian Kerjasama (MoA) antara Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Prof. Dr. H. Fauzan Ali Rasyid, M.Si., dengan Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si.

Prof Fauzan menjelaskan sinergi antara kebijakan kependudukan dan pembangunan sumber daya manusia merupakan langkah mendasar dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

“Isu kependudukan dan pembangunan keluarga adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa perlu memahami arah kebijakan ini agar mampu mengambil peran strategis di masa depan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan ucapan selamat datang kepada Menteri Wihaji dengan penuh kehangatan. Dengan bangga atas kehadiran tokoh nasional yang juga merupakan alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan kini dipercaya mengemban amanah sebagai menteri.

“Wilujeng sumping, ahlan wa sahlan. Kami sangat bangga, alumni PTKIN mampu menunjukkan kiprah terbaiknya hingga menjadi menteri,” ungkapnya.

Prof. Rosihon memperkenalkan perkembangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang pada tahun ini tengah merayakan Dies Natalis ke-58. Sambil mengenang keberadaan kampus I sebagai “kampus perjuangan”, tempat dirinya pernah menempuh pendidikan, yang kini terus berkembang dengan tiga kawasan kampus (untuk kampus II di Gedebage, samping Polda Jabar dan kampus III di Cileunyi) dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 37 ribu orang.

Mengenai capaian UIN Bandung tidak hanya terlihat dari pertumbuhan kelembagaan, tetapi bisa dilihat dari prestasi di tingkat global. Saat ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung meraih pemeringkatan Scimago Institutions Rankings by Subject 2026 ke-25 dunia pada bidang Religious Studies.

Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen institusi dalam memperkuat kualitas riset serta kontribusi keilmuan di tingkat global. Berdasarkan indikator Scimago, UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatatkan performa yang solid dengan capaian persentil 58 pada aspek keseluruhan, 69 pada riset, 79 pada inovasi, dan 21 pada dampak sosial.

Isu kependudukan sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an. Islam memberikan perhatian besar pada pengelolaan kehidupan manusia yang berkelanjutan.

“Tentu kita semua sangat mendukung kajian ini. Dalam Al-Qur’an banyak kata kunci seperti keluarga, syukur, negara, balad, dan bilad, yang menunjukkan bahwa Islam sangat memberi perhatian pada pembangunan masyarakat. Oleh karena itu, kami mendukung penuh program-program BKKBN dalam menyukseskan agenda pemerintah. UIN Bandung menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program Bangga Kencana,” katanya.

Untuk menjadikan visi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai kampus Rahmatan lil ‘Alamin dapat diwujudkan melalui komitmen seluruh sivitas akademika dengan menghadirkan manfaat nyata dan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Lulusan PTKIN memiliki tingkat keterserapan yang sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam mampu melahirkan sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa,” jelasnya.

Peran Keluarga dalam Investasi SDM

Dalam paparannya, Menteri Wihaji menekankan bahwa bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia hingga tahun 2030 merupakan momentum emas yang tidak boleh disia-siakan. Namun, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi beban jika tidak diimbangi dengan penguatan kualitas keluarga sebagai unit terkecil negara.

Kunci utama transformasi Indonesia menuju negara maju pada 2045 tidak terletak pada gedung-gedung pencakar langit, melainkan pada ketahanan 74.092.313 keluarga Indonesia.

Bonus demografi bukan semata soal besarnya jumlah penduduk usia produktif, melainkan tentang kualitas dan kesiapan mereka memasuki dunia kerja. “Di dalam angka produktivitas kita di Indonesia, umur 14 tahun sudah dianggap produktif sampai 65 tahun. Kenapa 14? Karena angka lama sekolah kita rata-rata sampai umur 14 tahun atau setingkat SMP. Kemudian angka harapan hidup kita adalah 65 tahun, sehingga rentang 14 hingga 65 tahun disebut usia produktif,” ujar Wihaji.

Pada periode 2020–2030 menjadi fase paling menentukan bagi Indonesia. Jika penduduk usia produktif tidak terserap dalam lapangan kerja, bonus demografi justru berpotensi melahirkan persoalan sosial baru.

“Pertanyaannya adalah: yang produktif itu nanti bekerja atau tidak? Atau hanya umurnya saja yang produktif, tetapi belum mendapat pekerjaan? Kita jangan sampai melewatkan momen bonus demografi ini,” tegasnya.

Fenomena aging population (penuaan penduduk) yang mulai menjadi tantangan serius Indonesia. “Perlu diketahui, angka harapan hidup kita di Indonesia saat ini sudah mencapai 74,3 tahun,” ungkapnya.

Mengingat persentase lansia di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan melonjak tajam pada tahun-tahun mendatang. “Saat ini persentase lansia kita sudah mencapai 11,7 persen, dan diprediksi pada tahun 2045 akan mencapai 45 persen,” katanya.

Kondisi ini menuntut kesiapan sistem sosial, ekonomi, dan ketenagakerjaan nasional, termasuk kemungkinan semakin banyak lansia yang tetap aktif bekerja sebagaimana terjadi di sejumlah negara maju.

Bangun Keutuhan Bangsa dari Keluarga

Dalam konteks tersebut, Wihaji menegaskan bahwa pembangunan kependudukan tidak cukup hanya melalui kebijakan makro. Menurutnya, kunci utama terletak pada keluarga sebagai fondasi dasar negara.

“Unit yang paling kecil di dalam negara namanya keluarga. Saya ulangi, unit terkecil dalam negara adalah keluarga. Maka, keyakinan saya untuk memperbaiki negara ini adalah dengan memperbaiki keluarga,” tegasnya.

Kualitas keluarga akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan, baik dalam menghadapi bonus demografi maupun tantangan aging population. “Jika keluarganya baik, insyaallah negaranya akan tambah baik dan semakin maju,” lanjutnya.

Wihaji mengingatkan bahwa banyak persoalan bangsa, termasuk korupsi dan ketimpangan social yang berakar dari lemahnya fondasi keluarga. Karena itu, generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang berkualitas.

“Tanpa kualitas SDM yang mumpuni, pengangguran tinggi akan menjadi ancaman. Itulah mengapa Kemendukbangga fokus pada penguatan kualitas keluarga, pencegahan stunting, hingga Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Investasi SDM bukan Sekadar angka, tapi kualitas,” ujar Wihaji.

Termasuk pentingnya Lansia Berdaya dan layanan keluarga yang berbasis pada hukum serta nilai keagamaan sebagai fondasi stabilitas sosial.

Kuliah umum ini menegaskan komitmen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menghadirkan ruang akademik yang relevan dengan agenda pembangunan nasional. Dengan bonus demografi yang sedang berlangsung dan ancaman aging population di depan mata, penguatan keluarga menjadi strategi jangka panjang yang tak terelakkan demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *