Dari Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk Peradaban Dunia

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

UINSGD.AC.ID (Humas) — Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat ini tengah berada dalam berbagai prestasi yang membanggakan baik skala nasional maupun skala international

Salah satu diantaranya ialah pengukuhan para Guru Besar saat ini yang memiliki ragam keahlian/keilmuan masing-masing. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga, para sahabat, para tabi’in dan umatnya hingga akhir zaman.

Saya merasa bangga dan bahagia dapat memberikan pengantar sekaligus arahan atas peluncuran buku yang berjudul  “Transformasi Keilmuan: Mewujudkan Rahmatan Lil ‘Alamin dari Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk Peradaban Dunia”.

Perjalanan Intelektual, Kontribusi Ilmiah

Buku ini merupakan kumpulan naskah akademik para Guru Besar yang mencerminkan perjalanan intelektual, kontribusi ilmiah, serta tanggung jawab akademik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.

Dalam tradisi akademik perguruan tinggi, pengukuhan Guru Besar tidak hanya menjadi pengakuan atas capaian akademik seseorang, tetapi juga merupakan amanah untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat tradisi ilmiah, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan peradaban dunia.

Al-Qur’an mengingatkan kemuliaan ilmu dengan pertanyaan yang menggugah kesadaran intelektual manusia, yaitu sebagaimana yang termaktub di dalam QS. Az-Zumar: 9 yang artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Ayat ini, menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang membedakan manusia dalam perjalanan peradabannya. Karena itu, setiap upaya menumbuhkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu adalah bagian dari ikhtiar luhur membangun peradaban yang beradab.

Benteng Keilmuan, Marwah Akademik

Dalam konteks itulah pengukuhan Guru Besar memiliki makna yang sangat penting. Ia bukan sekadar peristiwa akademik yang menandai capaian karier seorang ilmuwan, melainkan tonggak intelektual yang menegaskan tanggung jawab moral dan keilmuan yang semakin besar. Guru Besar adalah benteng keilmuan yang menjaga marwah akademik, sekaligus mercusuar moralitas yang menerangi arah perjalanan perguruan tinggi.

Kampus, dalam pengertian yang paling dalam adalah taman peradaban ilmu—tempat benih-benih gagasan ditanam, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah menjadi kebijaksanaan bagi kehidupan manusia. Di taman peradaban itulah para Guru Besar berdiri sebagai penjaga nilai, penggerak pemikiran, sekaligus penuntun generasi agar ilmu pengetahuan tidak kehilangan arah etik dan kemanusiaannya.

Al-Qur’an kembali menegaskan kemuliaan orang-orang berilmu, yaitu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11).

Ayat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kedudukan ilmu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan. Oleh karena itu, para Guru Besar diharapkan tidak hanya memperkuat dedikasi dalam ruang akademik, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata di tengah masyarakat, menjadikan ilmu sebagai jalan pencerahan, solusi, dan transformasi sosial.

Di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks, perguruan tinggi keagamaan Islam dituntut untuk terus merespons berbagai gagasan strategis yang berkembang oleh pemerintah. Dalam konteks ini, pemikiran besar yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia seperti penguatan paradigm ekoteologi dan pengembangan kurikulum berbasis cinta, hal ini merupakan ikhtiar penting untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar pada kepedulian ekologis, kemanusiaan, dan spiritualitas.

Peran Guru Besar menjadi sangat penting dalam mengartikulasikan gagasan-gagasan tersebut ke dalam narasi keilmuan yang kokoh dan visioner. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pemikir dan pelopor perubahan, yang menghadirkan arah baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam tradisi perguruan tinggi keagamaan Islam, narasi keilmuan tersebut menemukan pondasinya pada paradigma integrasi ilmu, yaitu wahyu memandu ilmu. Paradigma ini mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berjalan tanpa arah nilai, melainkan harus dipandu oleh wahyu agar tetap berada dalam koridor etika, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Dengan landasan tersebut, ilmu pengetahuan diharapkan mampu melahirkan peradaban yang maju sekaligus beradab—peradaban yang menghargai martabat manusia, menjaga keseimbangan alam, dan menumbuhkan keadilan sosial.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa risalah Islam membawa misi kemaslahatan universal, sebagaimana dalam QS. Al-Anbiyā’: 107, yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Raḥmatan Lil ‘Ālamīn, Ruh Pengembangan Ilmu

Nilai Raḥmatan Lil ‘Ālamīn inilah yang semestinya menjadi ruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi keagamaan Islam. Ilmu tidak hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk menebarkan manfaat; tidak hanya untuk diperdebatkan, tapi untuk menghadirkan kebijaksanaan bagi kehidupan.

Buku rampai ini merupakan refleksi dari semangat di atas. Di dalamnya terhimpun gagasan, refleksi, dan pemikiran para Guru Besar yang lahir dari perjalanan panjang pengabdian intelektual. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan juga jejak pemikiran yang diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi akademik berikutnya.

Kami berharap para Guru Besar terus menjadi teladan dalam menjaga integritas akademik, menyalakan semangat intelektual, serta menginspirasi sivitas akademika untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang semakin luas dan kontribusi yang semakin mendalam, perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai tantangan zaman.

Akhirnya, kami menyampaikan selamat dan penghargaan setinggitingginya kepada para Guru Besar yang pemikirannya dihimpun dalam buku rampai ini. Semoga capaian akademik ini semakin menguatkan dedikasi untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kemaslahatan umat, serta peradaban dunia.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *