Penguatan Sistem Pendidikan Tinggi

Menuju Manusia Seutuhnya di Tengah Pragmatisme Pasar 

 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Peta distribusi mahasiswa di Indonesia saat ini memberikan gambaran yang gamblang mengenai orientasi masa depan bangsa. Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), bidang Pendidikan, Ekonomi, dan Sosial secara konsisten mendominasi bangku perkuliahan. Sektor Pendidikan saja mencatat akumulasi lulusan yang menembus angka 12 juta jiwa, disusul rumpun Ekonomi yang menyerap sekitar 20% dari total populasi mahasiswa nasional.

Dengan demikian, struktur pendidikan tinggi di Indonesia saat ini mencerminkan potret besar orientasi sosial-ekonomi masyarakat yang masih sangat bertumpu pada sektor-sektor konvensional.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah cerminan dari pilihan yang sangat pragmatis. Secara analitik, tingginya minat pada bidang Pendidikan didorong oleh harapan menjadi aparatur negara (PPPK), atau besarnya serapan tenaga kerja di sektor publik, khususnya kebutuhan guru di daerah 3T.

Sementara Ekonomi dan Sosial tetap menjadi ”primadona” pilihan karena fleksibilitas kariernya di berbagai sektor jasa. Lulusan manajemen atau akuntansi, misalnya, relatif memiiki ambang batas masuk (entry barrier) yang lebih rendah untuk berbagai industri dibandingkan lulusan spesialis teknik.

Di sisi lain, terdapat anomali pada bidang Teknik dan Kesehatan yang jumlah mahasiswanya justru tertahan di peringkat menengah. Meskipun kedua bidang ini memiliki relevansi yang kuat sebagai mesin penggerak dalam visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam hal kedaulatan teknologi dan ketahanan kesehatan, namun minat calon mahasiswa pada keduanya masih kurang greget. Kontras yang paling tajam terlihat pada bidang Agama, Seni, dan Humaniora, yang konsisten berada di barisan paling belakang.

Berdasarkan data statistik, jumlah lulusan dan mahasiswa aktif di rumpun ini bahkan tidak mencapai 15% dari total mahasiswa nasional (Humaniora berada di kisaran angka 900 ribuan lulusan). Fenomena ini mengukuhkan argumen bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat bersifat “job-oriented” atau berbasis pragmatisme karier. Bidang agama, seni dan humaniora seringkali dianggap sebagai disiplin ilmu yang “kurang bernilai ekonomis” di mata pasar, meskipun secara fundamental ilmu-ilmu ini adalah pilar bagi pemikiran kritis dan pembangunan karakter bangsa.

Ketimpangan data distribusi mahasiswa di atas menunjukkan adanya mismatch  antara orientasi mahasiswa dengan kebutuhan industri masa depan. Pada satu sisi, Indonesia memiliki kelebihan suplai (over-supply) lulusan bidang sosial dan pendidikan, namun pada sisi lain, Indonesia masih kekurangan tenaga ahli bidang sains, teknologi, dan kesehatan spesifik. Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya reorientasi kurikulum atau insentif yang kuat bagi rumpun ilmu teknik dan sains, dikhawatirkan bonus demografi Indonesia hanya akan terserap pada sektor-sektor administrasi dan jasa menengah, alih-alih menjadi motor inovasi teknologi global.

Fenomena ini memerlukan respons konstruktif dengan reorientasi kurikulum yang holistik. Perguruan tinggi wajib bertransformasi secara simultan dan berkelanjutan. Perguruan tingga bukan hanya berperan sekadar tempat transit mencari kerja, melainkan institusi yang mencetak pemimpin masa depan yang kakinya berpijak kuat pada bumi persoalan bangsa, namun pikirannya mampu menjangkau cakrawala kompetisi global.

Integrasi antara karakter, logika, empati, dan teknologi adalah satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa bonus demografi Indonesia benar-benar menjadi berkah, bukan beban sejarah. Pada sisi lain, transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah kursi kuliah, tetapi harus disertai dengan perubahan pola pikir masyarakat mengenai nilai strategis bidang ilmu bagi pembangunan nasional secara jangka panjang.

Jebakan Pragmatisme dan Urgensi Karakter

Dominasi orientasi “asal kerja” (job-oriented) ini berisiko menjebak perguruan tinggi menjadi sekadar ”pencetak tenaga kerja” atau ”pabrik ijazah.” Jika universitas hanya fokus pada pemenuhan kuota pasar, kita akan melahirkan lulusan yang terampil secara teknis namun rapuh secara ideologis. Jika pendidikan tinggi hanya fokus pada keterampilan teknis tanpa akhlak, pendidikan hanya akan menghasilkan robot-robot industri dan birokrasi. Sebaliknya, jika hanya fokus pada moralitas tanpa keahlian IT dan daya saing, kita hanya akan melahirkan pengamat yang pasif.

Di sinilah letak urgensinya untuk mengembalikan perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka bagi pembentukan manusia seutuhnya, yang mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual dan keterampilan teknis. Di saat dunia industri muali mengeluhkan krisis integritas dan ”burnout” mental, maka pendidikan tinggi sejatinya menjadi instrumen transformasi yang membiasakan akhlak mulia, menajamkan intelektual, melatih skill, serta menguatkan kematangan spiritual.

Output utama pendidikan tinggi haruslah sosok yang memiliki akhlak sebagai integritas moral dan kemampuan berpikir kritis. Posisi karakter atau akhlak mulia memiliki posisi sentral dalam pendidikan individu dan masyarakat, agar setiap manusia terdidik (educated people) menjadi ”role model” (uswah hasanah) dari kompas moral yang ajeg. Pendidikan tinggi yang memberikan proporsi karakteriasi kuat akan membentuk sivitas akademikanya untuk membiasakan akhlak, sehingga akan melahirkan spesialis yang cerdas dan kokoh integritasnya.

Dalam konteks Indonesia, akhlak mewujud dalam bentuk kesopanan bertutur kata dan kesantunan dalam berprilaku, selain dalam bentuk integritas akademik dan tanggung jawab moral keilmuan. Alumni yang berakhlak dan berintegritas akan mampu bekerja prima saat berperan di masyarakat dan bekerja di dunia profesi.

Fondasi etis ini harus bersenyawa dengan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Di tengah riuh rendah informasi dan disrupsi post-truth, kemampuan melakukan dekonstruksi terhadap narasi yang menyesatkan dan hoax jauh lebih berharga daripada sekadar hafalan teori. Tanpa karakter dan logika yang kokoh, sarjana kita hanya akan menjadi sekrup-sekrup kecil dalam mesin birokrasi yang kaku.

Seorang guru tengah mengajar, foto: Mosaic Indonesia

Sinergi Kepekaan Sosial dan Literasi Digital

Selain aspek moral, sivitas akademika PT, termasuk mahasiswa, tidak boleh hidup dalam “menara gading” yang terisolasi dari realitas kemasyarakatan dan kebangsaan, serta realitas dinamika dunia profesi. Sesuai dengan semangat profetik, Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan bangsa. Ilmu yang dipelajari harus memiliki dimensi profetik tersebut, yakni mampu berpartisipasi aktif dalam menjawab problem kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan krisis lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan tinggi berperan menjadi katalisator dan ”Laboratorium sosial” di mana empati diuji dan keberpihakan terhadap kepentingan publik diasah.

Namun, empati sosial saja tidak cukup tanpa modalitas teknis yang relevan. Di era industri 4.0, penguasaan IT sesuai bidangnya adalah ”harga mati”. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan wajib menguasai IY sesuai bidangnya (domain-specific digital literacy).

Lebih khusus bagi mahasiswa dan alumni, seorang sarjana pendidikan harus mahir mengelola ekosistem digital pembelajaran (misal Learning Managemen System), sebagaimana sarjana hukum harus paham legal-tech. Inilah yang disebut sebagai individu yang terampil (skillful); mereka yang mampu mengawinkan kedalaman ilmu klasik (turâts) dengan ketangkasan teknologi modern. Penguasaan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan prasyarat (basic requirement) agar ilmu yang dipelajari tetap fungsional di kancah global.

Ilustrasi tiga orang sedang bekerja (Foto Pinterest)

Muara Akhir: Berdaya Guna dan Berdaya Saing Global

Tujuan akhir dari akumulasi akhlak, logika, empati, dan keterampilan tersebut adalah terciptanya individu yang berdaya guna bagi semesta (rahmatan lil alamin). Artinya, keberadaan mereka harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas melalui solusi-solusi nyata atas persoalan kebangsaan. Ini bukan hanya sekedar slogan, melainkan bentuk kepekaan dan kepedulian terhadap persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pendidikan integratif mendorong sivitas akademika, khususnya mahasiswa, untuk terlibat aktif dalam proses bermasyarakat, melalui pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang berbasis riset sesuai bidang keahliannya.

Namun, kebermanfaatan lokal ini harus dibarengi dengan daya saing global. Kita tidak ingin lulusan kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri atau merasa inferior di hadapan tenaga kerja asing. Standar kompetensi yang diakui internasional dan mentalitas pemenang adalah kunci agar Indonesia mampu melampaui jebakan kelas menengah (middle-income trap). Pada sisi ini, diakui ataupun tidak, rekognisi internasional, melalui sertifikasi, akreditasi, dan perankingan internasional, menemukan relevansinya.

Seorang guru tengah mengajar ngaji, foto: Mosaic Indonesia

Kontribusi PTKIN: Pilar Pendidikan Integratif-Holistik

Dalam konteks ini, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memegang peran strategis dalam menjembatani kesenjangan antara tuntutan pasar dan kebutuhan akan integritas moral. PTKIN hadir untuk meruntuhkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui paradigma integrasi ilmu. Mahasiswa dididik untuk melihat bahwa sains dan teknologi tidak pernah bebas nilai; keduanya harus dipandu oleh wahyu dan etika universal. Pada sisi ini, algoritma tidak harus menghegemoni akhlak karimah.

Keunggulan kompetitif PTKIN terletak pada penekanan karakter moderat (wasathiyah) yang menjadi kompas moral bagi mahasiswa. Di saat dunia industri mulai mengeluhkan krisis integritas, lulusan PTKIN dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang tangguh secara mental dan stabil secara spiritual. Dengan mengadopsi kemajuan digital dalam kajian sosial-keagamaan—seperti Digital Humanities—PTKIN membuktikan bahwa nilai-nilai tradisi dapat bersenyawa dengan inovasi masa depan. Dengan demikian, mahasiswa PTKIN tidak hanya masih membaca kitab-kitab turâts, tetapi cakap dengan mengoperasikan piranti-piranti analisis moder untuk menjawab tantanga jaman.

Integrasi antara karakter (akhlak-peka) dan kompetensi (kritis-terampil-IT) merupakan ruh sekaligus ”kunci sukses” (success key) bagi Indonesia untuk melampaui jebakan kelas menengah (middle-income trap).

Perguruan tinggi bukan lagi sekadar tempat mencari ijazah untuk bekerja, melainkan institusi transformasi yang menyiapkan pemimpin masa depan. ”Mereka yang kakinya berpijak kuat pada bumi persoalan bangsa, namun pikirannya mampu menjangkau cakrawala persaingan global. Hal ini menjadi salah jawaban dari pragmatisme pendidikan, yakni ”sukses sejati adalah ketika kecerdasan intelektual bersinergi dengan keluhuran budi demi peningkatan kualitas kehidupan manusia dan kemajuan bangsa”. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *