Kakaren Lebaran 1447 H

Kupat Lebaran Idul Fitri: Makna Kirata dan Zaman yang Berubah 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Pernahkah baraya sadayana merasa tertarik untuk berpikir sejenak tentang kupat lebaran? Keberadaan panganan ini dinisbahkan kepada Sunan Kalijaga sebagai penggagas bentuk ketupat ini. Hingga kini keberadaannya masih kental dalam kehidupan urang Sunda, bahkan menjadi bagian dari “jajanan pokok” yang dijual.

Di hari kemenangan idul fitri, jutaan urang Sunda berebut menyajikan makanan yang bentuknya terkurung rapat, dianyam dengan tingkat kerumitan yang bikin pegel jari. Ya, kupat. Ia duduk manis berdampingan dengan opor ayam, seolah menantang kita untuk membacanya sebelum memakannya. Oleh karuhun dan para ajengan, kupat dirancang sebagai monumen pengingat betapa ruwetnya benang kusut kesalahan manusia.

Membelahnya adalah simbol resolusi, pemaafan yang memutihkan hati. Namun sungguh celaka zaman ini; cangkang kupat kini bisa dibeli instan di pinggir jalan, direbus cepat pakai panci presto, lalu dimakan sambil lalu sembari asyik menatap layar gawai. Kita mengunyah ngaku lepat di mulut, tapi tak pernah benar-benar mencernanya di dalam kalbu.

Mesin Waktu di Atas “Hawu”

Padahal, coba tarik napas dalam-dalam kalau pagi menjelang Lebaran begini di Tatar Pasundan. Dulu, ada aroma magis yang menguar dari arah “pawon” (dapur). Bukan sekadar wangi semur daging atau rendang yang mendidih, tapi aroma daun kelapa muda—janur—yang direbus berjam-jam di atas “hawu” (tungku kayu bakar).

Bau itu seperti mesin waktu, menarik ingatan kita ke masa “budak baheula,” saat karuhun atau ibu kita duduk di “golodog”, jari-jarinya lincah menganyam janur jadi cangkang ketupat. Di tanah Sunda, hidangan ini bukan cuma soal karbohidrat pendamping opor. Ada jejak sejarah yang panjang, kreativitas bahasa yang luar biasa, dan potret sosial yang diam-diam bergeser dari kampung-kampung sampai ke tengah kota seiring urbanisasi atau mobilisasi sosial.

Kirata Ulama Sunda dan Filosofi “Hampura”

Kalau kita telusuri sejarahnya, penyebaran Islam di Tatar Pasundan itu sangat lentur dan membumi. Para ulama Sunda “baheula” punya kecerdasan linguistik yang luar biasa untuk mengenalkan ajaran agama lewat budaya lokal. Mereka sangat gemar menggunakan “kirata” (“dikira-kira sugan nyata” atau otak-atik kata agar penuh makna) untuk menyelipkan nilai tasawuf dan syariat ke dalam keseharian urang Sunda.

Termasuk urusan kupat ini. Oleh para kiai, kupat sering di-kirata-kan menjadi “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan). Bentuk anyamannya yang “pabeulit” (rumit dan saling silang) itu adalah cerminan dari interaksi sosial manusia yang sering kali ruwet, penuh salah paham, dan silap lidah. Hubungan antar-manusia itu gampang sekali kusut. Tapi, coba perhatikan saat kupat itu dibelah. Apa isinya? Nasi yang padat, putih, dan bersih.

Di sinilah terdapat esensi Idul Fitri bagi urang Sunda. setelah kita silih hampura (saling memaafkan), membuang gengsi untuk ngaku lepat, maka hati kita kembali pada fitrahnya. “Clik putih, clak herang”. Bersih tanpa tendensi, suci tanpa noda dendam. Terma “janur” yang membungkusnya pun sering dimaknai sebagai “jatining nur” (cahaya sejati) yang membimbing hati setelah sebulan penuh digembleng di madrasah Ramadhan.

Transformasi Sosial: Hilangnya Tarekat Kebersamaan

Tapi, mari kita buka mata melihat kenyataan zaman kiwari. Masyarakat Pasundan modern perlahan mulai bergeser. Dinamika zaman mengubah kupat dari sebuah “ritual kebersamaan” menjadi sekadar “komoditas praktis”.

Dulu, membuat kupat itu prosesi gotong royong yang mengikat tali silaturahmi. Bapak-bapak mencari daun kelapa, ibu-ibu ngisikan (mencuci) beras, anak-anak belajar menganyam meski bentuknya sering mencong tak karuan. Ada ngariung (berkumpul), ada canda tawa, ada laku kesabaran menjaga nyala api di hawu semalaman suntuk agar kupat matang sempurna dan tidak cepat basi.

Kehidupan yang serba cepat bikin kita kehilangan waktu untuk proses. Banyak dari kita yang lebih memilih beli cangkang ketupat yang sudah jadi di pinggir jalan, atau memborong ketupat matang di pasar-pasar seperti Cileunyi atau Ujung Berung. Bahkan, kepraktisan modern melahirkan “ketupat plastik” yang tinggal direbus cepat. Cepat, praktis, tanpa asap hawu yang bikin perih mata.

Tanpa sadar kita kehilangan nilai tarekat sosialnya. Kesabaran dan kebersamaan yang dulu anyam-menganyam di halaman rumah kini digantikan oleh transaksi jual beli yang instan. Makna kupat pun mengalami penyusutan; dari simbol kerendahan hati untuk ngaku lepat, menjadi sekadar syarat formalitas di meja makan.

Pada akhirnya, arus zaman memang tidak bisa kita bendung, Baraya. Bentuknya boleh berubah, cara masaknya boleh pakai panci canggih atau alat modern lainnya. Namun, esensinya jangan sampai ikut menguap. Jangan sampai perut kita kenyang makan kupat, tapi hati kita tetap keras enggan ngaku lepat.

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *