UINSGD.AC.ID (Humas) — Gerhana bulan total yang terjadi hari ini, Selasa 3 Maret 2026, mencapai puncak gerhana sekitar pukul 18.33.39 WIB, 19.33.39 WITA, dan 20.33.39 WIT menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada saat itu bagian Bulan akan tampak semakin gelap hingga kemerahan (blood moon) akibat cahaya Matahari yang terbiaskan atmosfer Bumi. Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan fenomena ini di langit senja hingga malam hari, dan umat Islam dianjurkan untuk menunaikan shalat gerhana bulan (shalat khusuf) sebagai bentuk pengagungan dan penghambaan kepada Allah Swt.
Hukum Shalat Gerhana Bulan
Shalat gerhana bulan, atau shalat khusuf, hukumnya sunnah muakkadah — ibadah yang sangat dianjurkan. Ketentuan ini merujuk pada praktik Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan melalui hadis-hadis sahih.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Ketika keduanya mengalami gerhana, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat, berdoa, dan beristighfar sebagai respon spiritual atas tanda kebesaran tersebut.
Shalat ini bisa dilaksanakan berjamaah di masjid ataupun sendirian, namun lebih utama dilaksanakan berjamaah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Waktu Pelaksanaan
Shalat gerhana bulan dilaksanakan sejak gerhana terlihat mulai terjadi hingga gerhana berakhir. Dalam konteks gerhana malam ini, umat Islam dapat menunaikannya sejak fase gerhana sebagian setelah terbit bulan, berlanjut hingga fase akhir. Biasanya, waktu paling utama adalah saat fase puncak gerhana ketika Bulan tampak paling gelap atau meredup.
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan
Secara umum, shalat gerhana bulan terdiri dari dua rakaat, tetapi masing-masing rakaat memiliki dua kali rukuk. Berikut ini tata caranya secara ringkas:
1️⃣ Niat
Niat dilakukan di dalam hati. Jika dilafalkan, dapat berbunyi:
Ushalli sunnatal khusufi rak’ataini lillahi ta’ala.
2️⃣ Rakaat Pertama
– Takbiratul ihram
– Membaca doa iftitah
– Membaca Al-Fatihah dan surat yang panjang
– Rukuk pertama, i’tidal
– Membaca kembali Al-Fatihah dan surat yang lebih pendek
– Rukuk kedua, i’tidal
– Sujud dua kali seperti biasa
3️⃣ Rakaat Kedua
– Membaca Al-Fatihah dan surat
– Rukuk pertama, i’tidal
– Membaca Al-Fatihah dan surat
– Rukuk kedua, i’tidal
– Sujud dua kali
– Tasyahud akhir dan salam
Setelah shalat, dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, dan sedekah. Jika dilaksanakan berjamaah, dapat disertai khutbah berisi nasihat spiritual yang relevan dengan hikmah fenomena gerhana.
Hikmah Shalat Gerhana
Fenomena gerhana bulan mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah Swt. bahwa segala yang terjadi di alam semesta berada dalam ketetapan-Nya.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, momen langit seperti ini menjadi ajang refleksi diri, memperkuat kesadaran akan keterbatasan manusia, serta memperbanyak hubungan spiritual melalui doa dan ibadah.
Peristiwa gerhana bukanlah pertanda buruk atau lahirnya mitos tertentu — melainkan tanda kebesaran Allah yang patut disikapi dengan tawadhu, rasa takut dan harap kepada-Nya.
Dengan memahami hukum dan tata caranya, umat Islam dapat menjalankan shalat gerhana bulan dengan benar dan penuh kekhusyukan, menjadikan momen langit ini sebagai momentum untuk memperkuat iman dan ketakwaan.