Ramadan Madrasah Qana’ah

Kesederhanaan yang Melahirkan Keberkahan

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Kita bersyukur karena hari ini berada pada hari kesembilan Ramadan, bagian dari sepuluh hari pertama yang oleh para ulama disebut sebagai fase rahmat. Rasulullah SAW bersabda:

أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Awal Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Pada fase rahmat ini Allah SWT mendidik hati kita agar menemukan makna kecukupan dalam kesederhanaan. Di sinilah Islam menghadirkan konsep qana’ah, yaitu merasa cukup dengan karunia Allah tanpa kehilangan semangat ikhtiar. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan qana’ah. Kita menahan lapar dan dahaga bukan karena tidak mampu makan, tetapi untuk merasakan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya materi, melainkan pada hati yang pandai bersyukur. Allah SWT berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7),

Dari sinilah setidaknya ada tiga pelajaran qana’ah di sepuluh hari pertama Ramadan:

Pelajaran Pertama: Qana’ah melahirkan ketenangan dan kebahagiaan.

Qana’ah menjadikan hati tenang karena tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Orang yang qana’ah tidak diikat oleh dunia, tetapi dunia berada di tangannya. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Rasulullah SAW juga bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.”(HR. Muslim).

Hikmah ayat dan hadis ini: Ketenteraman hidup tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kemampuan menahan pandangan dari milik orang lain. Puasa mendidik kita menikmati kesederhanaan. Saat berbuka hanya dengan air dan kurma, kita merasakan nikmat luar biasa. Itulah pendidikan qana’ah yang melahirkan kebahagiaan batin.

Pelajaran Kedua: Qana’ah menumbuhkan empati sosial.

Ketika seseorang merasa cukup, ia akan mudah berbagi. Sebaliknya, orang yang selalu merasa kurang akan sulit bersedekah. Allah SWT berfirman:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Rasulullah SAW bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang meminta).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah ayat dan hadis ini: Qana’ah melahirkan kepedulian sosial. Orang yang merasa cukup akan mudah berbagi karena hatinya tidak dikuasai rasa takut kekurangan. Puasa membuat kita merasakan lapar agar tumbuh empati kepada fakir miskin. Kita sadar bahwa kebahagiaan bukan pada menumpuk harta, tetapi pada berbagi dan memberi manfaat.

Pelajaran Ketiga: Qana’ah melahirkan jiwa merdeka.

Qana’ah membebaskan manusia dari perbudakan dunia. Ia tidak mudah iri, tidak gelisah, dan tidak putus asa. Inilah kemerdekaan batin yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”(QS. An-Nahl: 97),

Rasulullah SAW bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Hikmah ayat dan hadis ini: Kehidupan yang baik (ḥayāh ṭayyibah) adalah kehidupan yang dipenuhi ketenangan, bukan kemewahan. Qana’ah menjadikan seseorang merdeka dari penilaian manusia. Ia hidup dengan standar Allah, bukan standar dunia. Inilah kebebasan jiwa yang dilatih melalui puasa.

Jamaah rahimakumullah,

Sebagaimana hikmah para ulama yang dirangkum dari penjelasan di laman NU Online, sepuluh hari pertama Ramadan adalah momentum turunnya rahmat Allah kepada hamba yang: Memperbanyak syukur- Memperbaiki ibadah – Menumbuhkan kepedulian sosial – Membersihkan hati dari iri dan dengki. Orang yang qana’ah adalah orang yang paling kaya, meskipun hartanya sedikit. Ia bahagia karena hatinya dekat dengan Allah. Qana’ah adalah sikap mental mulia yang merasa cukup dengan rezeki dari Allah, menjadikannya kekayaan hati sejati di atas kelimpahan harta. Singkatnya Orang yang qana’ah selalu bersyukur, tidak tamak, dan ridho terhadap ketetapan-Nya, sehingga hidup mereka tenang, damai, dan Bahagia karena dekat dengan Allah,

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebagai penutup: Marilah kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum menumbuhkan qana’ah dalam kehidupan kita: -Qana’ah dalam keluarga, agar rumah tangga penuh ketenangan- Qana’ah dalam bekerja, agar hidup penuh keberkahan- Qana’ah dalam bermasyarakat, agar tumbuh kepedulian. Qana’ah bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menerima hasil dengan penuh syukur. Mari kita isi sepuluh hari pertama Ramadan ini dengan: -Memperbanyak syukur- Memperbanyak sedekah- Memperbaiki hati- Menguatkan ibadah

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *