Refleksi Akhir Tahun: Musibah Datang di Saat Muhasabah

Ilustrasi berdoa. ©Shutterstock

UINSGD.AC.ID (Humas) — Hari ini kita berada di penghujung tahun masehi 2025. Akhir tahun adalah momentum muhasabah, saat manusia berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya pada diri sendiri: Apa yang telah aku perbuat? Apa yang telah aku kontribusikan? Apa amanah yang belum aku tunaikan? Bagi dunia akademik, momentum ini terasa sangat nyata.

Mahasiswa sedang berada pada masa libur semester, namun bukan masa tanpa beban. Justru di sinilah tugas akhir semester disusun, laporan akademik dirapikan, dan tanggung jawab intelektual dipertaruhkan. Begitu juga Para dosen dan pendidik pun demikian. Di akhir tahun, amanah profesional menumpuk: laporan bulanan, triwulanan, semesteran, hingga laporan kinerja tahunan.

Semua bukan sekadar dokumen administratif, tetapi catatan moral atas apa yang telah kita kontribusikan kepada ilmu, mahasiswa, dan masyarakat.

Memang kehidupan kita di dunia ini seperti melewati sebuah jalan dengan lintasan penuh dengan dinamika dan tantangan. Medan terjal yang harus terus kita daki, hingga medan menurun dan mendatar, tak boleh membuat kita terlena. Perjalanan kita menyisakan masa lalu sebagai pengalaman, masa kini sebagai kenyataan, dan masa yang akan datang sebagai harapan.

Sehingga kita butuh rambu-rambu agar kita senantiasa lancar dan selamat sampai ke tujuan dan ketakwaan lah rambu-rambu yang mampu memandu kita berada pada jalan yang benar dan bekal yang paling baik dalam perjalanan.

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya “Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat,” (QS Al-Baqarah: 197).

Dalam sebuah perjalanan panjang, kita haruslah menyempatkan diri berhenti istirahat untuk mengumpulkan kembali semangat dan tenaga guna melanjutkan perjalanan. Begitu juga dalam kehidupan di dunia, kita mesti harus menyediakan waktu untuk melakukan introspeksi, evaluasi, menghitung, sekaligus kontemplasi yang dalam bahwa Arab disebut dengan muhasabah.

Pentingnya muhasabah ini, Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Artinya: “Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.”

Sementara dalam Al-Qur’an Allah juga telah mengingatkan pentingnya melakukan introspeksi diri dengan melihat apa yang telah kita lakukan pada masa lalu untuk mengahadapi masa depan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari perintah Allah dan Rasul serta nasihat dari para sahabat, kita bisa mengambil beberapa catatan penting tentang manfaat dari introspeksi diri ini. Setidaknya, ada 5 manfaat yang bisa kita rasakan dari upaya melakukan ‘charging’ (mengecas) semangat hidup melalui introspeksi diri ini:

Pertama, sebagai wahana mengoreksi diri. Dengan introspeksi diri, kita akan mampu melihat kembali perjalanan hidup sekaligus mengoreksi manakah yang paling dominan dari perjalanan selama ini. Apakah kebaikan atau keburukan, apakah manfaat atau mudarat, atau apakah semakin mendekat atau malah menjauh dari Allah swt. Kita harus menyadari bahwa semua yang kita lakukan ini harus dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin: 65).

Hikmah yang dapat kita petik: (1) Tidak Ada yang Dapat Disembunyikan di Hadapan Allah Ayat ini mengajarkan bahwa pada hari kiamat, manusia tidak lagi dapat berdalih, beralasan, atau menutup-nutupi kesalahan. Seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi yang jujur atas setiap perbuatan yang pernah dilakukan. Ini mengingatkan kita agar hidup dengan integritas, karena semua amal tercatat dan kelak dipertanggungjawabkan. (2) Muhasabah Sebelum Hisab Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bermuhasabah di dunia sebelum tiba hari hisab di akhirat. Selama lisan masih dapat berbicara dan anggota tubuh masih bisa dikendalikan, manusia diberi peluang untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan meluruskan niat. (3) Amanah Anggota Tubuh: Tangan dan kaki bukan sekadar alat fisik, tetapi amanah dari Allah. Setiap langkah, setiap sentuhan, dan setiap tindakan akan dimintai kesaksian. Karena itu, Islam mengajarkan agar anggota tubuh digunakan untuk kebaikan, kemanfaatan, dan maslahat bagi sesama. (4) Kejujuran Hakiki Ada pada Perbuatan; Lisan bisa berkata apa saja, tetapi perbuatan tidak bisa berdusta. Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kebenaran sejati bukan pada ucapan, melainkan pada amal nyata. Dalam konteks kehidupan akademik dan profesional, ini mengingatkan bahwa kualitas diri diukur dari karya, etos kerja, dan kontribusi, bukan sekadar laporan atau klaim. (5) Motivasi untuk Memperbaiki Diri di Akhir Tahun; Mengingat kesaksian anggota tubuh kelak, maka setiap akhir tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi: sudahkah tangan kita digunakan untuk hal yang halal dan bermanfaat, dan sudahkah kaki kita melangkah ke jalan yang diridhai Allah.

Kedua, upaya memperbaiki diri. Dengan introspeksi diri, kita akan mampu melihat kelebihan dan kekurangan diri yang kemudian harus diperbaiki di masa yang akan datang. Dengan memperbaiki diri, maka kualitas kehidupan akan lebih baik dan waktu yang dilewati juga akan senantiasa penuh dengan manfaat dan maslahat bagi diri dan orang lain. Allah SWT, mengigatkan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11;

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Hikmah dan Pelajaran dari ayat diatas; 1) Perubahan kualitas hidup harus dimulai dari diri sendiri; 2) Introspeksi adalah pintu awal menuju perubahan; 3) Evaluasi diri tanpa perbaikan adalah sia-sia; 4) Sangat relevan dengan mahasiswa dan dosen: peningkatan mutu tidak datang dari sistem semata, tetapi dari kesadaran pribadi. Hadis Nabi ﷺ menginatkan tentang Orang Cerdas dan Muhasabah

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”(HR. Tirmidzi).

Hikmah dan Pelajaran yang dapat diambil dari makna hadis tersebut: (1) Kecerdasan sejati dalam Islam bukan hanya intelektual, tetapi spiritual dan moral. (2) Introspeksi diri adalah tanda kematangan iman. (3) Amal dan perbaikan diri harus berorientasi jangka panjang (akhirat). (4) Sangat kontekstual untuk akhir tahun: evaluasi bukan demi laporan, tetapi demi kebermaknaan hidup.

Ketiga, momentum mawas diri; Diibaratkan ketika kita pernah memiliki pengalaman melewati jalan yang penuh lika-liku, maka kita bisa lebih berhati-hati ketika akan melewatinya lagi. Mawas diri akan mampu menyelamatkan kita dari terjerumus ke jurang yang dalam sepanjang jalan. Allah berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْاۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Artinya: “Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (ajaran Allah) dengan jelas.” (QS. An-Nūr: 54).

Hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini adalah: (1) Mawas Diri adalah Bentuk Ketaatan; Perintah “waḥżarū” (berhati-hatilah) menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menuntut ketaatan formal, tetapi juga kewaspadaan moral dan spiritual. Mawas diri menjadi benteng agar seseorang tidak mengulangi kesalahan yang sama. (2) Pengalaman Hidup sebagai Guru Terbaik: Ayat ini mengajarkan bahwa pengalaman masa lalu baik kegagalan maupun musibah harus melahirkan sikap kehati-hatian. Orang beriman belajar dari jejak langkahnya sendiri agar tidak kembali terperosok ke dalam jurang yang sama. (3) Tanggung Jawab Pribadi atas Pilihan Hidup Ketika Allah menegaskan bahwa tugas Rasul hanyalah menyampaikan, itu berarti manusia memikul tanggung jawab penuh atas ketaatan atau pembangkangannya. Mawas diri menumbuhkan kesadaran bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. (4) Kehati-hatian Menyelamatkan dari Kerusakan; Dalam kehidupan, termasuk dunia akademik dan profesional, sikap ceroboh sering berujung pada kesalahan yang berulang. Mawas diri menjadikan seseorang lebih bijak, terukur, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. (5) Evaluasi Berkelanjutan sebagai Jalan Keselamatan; Ayat ini menguatkan bahwa keselamatan hidup bukan hasil kebetulan, tetapi buah dari ketaatan, kehati-hatian, dan evaluasi diri yang terus-menerus.

Keempat, memperkuat komitmen diri. Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Oleh karenanya, introspeksi diri menjadi waktu untuk memperbaiki diri dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu. Jangan jatuh di lubang yang sama. Buang masa lalu yang negatif, lakukan hal positif hari ini dan hari yang akan datang. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Artinya: “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).

Hikmah Pelajaran Hadis ini mengingatkan tentang Komitmen Perbaikan Diri: (1) Hidup Beriman Harus Bergerak ke Arah Perbaikan; Hadis ini menegaskan bahwa standar hidup seorang mukmin bukan stagnasi, apalagi kemunduran, tetapi kemajuan moral dan spiritual. Introspeksi diri bertujuan melahirkan komitmen untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari (2) Kesalahan Masa Lalu Tidak untuk Diulang, tetapi Dijadikan Pelajaran (3) Setiap manusia pasti pernah salah, namun Islam tidak membenarkan seseorang terus jatuh pada kesalahan yang sama. Mawas diri dan komitmen perbaikan adalah bentuk kecerdasan iman: jangan jatuh di lubang yang sama. (4) Kerugian Sejati adalah Diam di Tempat Hadis ini mengingatkan bahwa tidak berubah ke arah kebaikan pun sudah tergolong kerugian. Orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti menyia-nyiakan waktu dan nikmat umur yang Allah berikan. (5) Kemunduran Moral adalah Tanda Bahaya Spiritual; Lebih buruk dari hari sebelumnya menunjukkan lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu, introspeksi harus diiringi tekad kuat untuk meninggalkan kebiasaan negatif dan menggantinya dengan amal positif. (6) Komitmen Diri adalah Investasi Masa Depan Dengan membuang masa lalu yang negatif dan memperbaiki hari ini, seseorang sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah hakikat keberuntungan menurut Islam.

Kelima, sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan tahu diri. Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa keberadaan kita sampai dengan saat ini sama sekali tak bisa lepas dari nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan Allah. Oleh karenanya, introspeksi diri akan membawa kita mengingat nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu. Jangan sampai kita menjagi golongan orang-orang yang tak tahu diri dan kufur kepada nikmat Allah. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Hikmah Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat di atas: (1) Syukur adalah Kesadaran Akan Keterbatasan Diri; Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak berdiri atas kemampuannya sendiri. Segala pencapaian, keselamatan, dan keberlangsungan hidup adalah hasil karunia Allah. Introspeksi diri menumbuhkan tahu diri kesadaran bahwa tanpa nikmat Allah, kita tidak mampu berbuat apa-apa. (2) Syukur Menjadi Sebab Bertambahnya Nikmat (3) Allah menjanjikan penambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Nikmat itu tidak hanya berupa materi, tetapi juga ketenangan hati, kesehatan, keberkahan ilmu, dan kemudahan dalam urusan. Dengan muhasabah, seseorang belajar mengenali nikmat agar tidak merasa kurang. (4) Kufur Nikmat Berasal dari Lupa dan Lalai; (5) Kufur nikmat sering bukan karena menolak secara lisan, tetapi karena lupa, meremehkan, atau menyalahgunakan nikmat. Introspeksi diri menjadi benteng agar manusia tidak terjatuh pada sikap merasa paling berjasa dan lupa kepada Pemberi Nikmat. (6) Syukur Melahirkan Kerendahan Hati dan Etika Hidup; Orang yang bersyukur akan lebih rendah hati, tidak sombong, dan tidak merendahkan orang lain. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan, sehingga harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. (7) Syukur Menguatkan Iman dan Menjaga Keselamatan Hidup; Ancaman azab bagi yang kufur nikmat menjadi peringatan keras agar manusia tidak mengabaikan rasa syukur. Dengan bersyukur, iman terjaga dan hidup menjadi lebih aman, tenang, serta diridhai Allah.

Dari uraian ini, mari kita senantiasa melakukan introspeksi diri setiap saat. Terlebih saat ini kita berada di penghujung tahun 2025 dan akan memasuki tahun baru 2026 yang menjadi waktu ideal untuk melakukan introspeksi diri. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk yang terbaik dari Allah dan mampu melihat perjalanan tahun lalu untuk menjalani tahun yang akan datang.

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *