UINSGD.AC.ID (Humas) — Melalui kegiatan Capacity Building Tenaga Kependidikan (Tendik) Kantor Pusat Tahun 2025 UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan publik. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 19–21 Desember 2025, bertempat di Mercure Garut City Center, Kabupaten Garut.
Kegiatan yang dibuka oleh Rektor Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., ini diikuti oleh 223 tenaga kependidikan Kantor Pusat Al-Jamiah, dengan dukungan 20 orang panitia pelaksana.
Dengan menghadirkan trainer utama: Materi 1 bertema “Service Excellence SDM Berkelas: Standar, Etika, dan Loyalitas Publik” yang disampaikan oleh Alan Albana, M.Ikom., Penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung, Master Trainer BNSP dan Penulis Buku Ice Breaking.
Materi ini menekankan pentingnya budaya layanan prima, etika kerja, serta komitmen aparatur dalam memberikan pelayanan publik yang profesional dan berintegritas.
Materi 2 bertajuk “Public Speaking Kedinasan: Membangun Citra dan Komunikasi Efektif untuk Layanan Prima Universitas” yang disampaikan oleh Vivie Novida, S.I.Kom., CPR., Trainer public speaking nasional, Number One.
Seminar ini membekali peserta dengan keterampilan komunikasi kedinasan untuk mendukung citra positif dan pelayanan prima universitas. Rangkaian training ini menjadi bagian dari strategi penguatan sumber daya manusia UIN Bandung dalam mewujudkan tata kelola universitas yang profesional, modern, dan berorientasi pada layanan prima.
Dalam laporannya, Wakil Rektor II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag., menyampaikan bahwa capacity building ini dirancang sebagai sarana pembinaan sekaligus refreshment aparatur dengan sejumlah materi strategis, meliputi arah kebijakan pembinaan disiplin pegawai, service excellence SDM berkelas.
Mulai dari standar, etika, dan loyalitas publik, public speaking kedinasan untuk membangun citra dan komunikasi efektif layanan prima universitas, serta penguatan team building. “Seluruh materi ini diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme, kedisiplinan, dan kinerja tenaga kependidikan dalam mendukung tata kelola universitas yang akuntabel,” tegasnya.
Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa kegiatan Capacity Building ini selaras dengan visi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yakni “Menjadi Universitas Islam Negeri yang Unggul, Kompetitif, dan Inovatif berbasis Rahmatan lil Alamin di Asia Tenggara Tahun 2029.”
Menurutnya tenaga kependidikan diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam mendukung pendidikan berkualitas, tata kelola modern berbasis teknologi informasi, serta layanan administrasi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Prof Rosihon menekankan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan bagian dari misi universitas dalam menciptakan lulusan berkualitas, mendorong iklim akademik yang kondusif, serta memperkuat kontribusi pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui peningkatan etika kerja, komunikasi kedinasan, dan loyalitas aparatur, tenaga kependidikan diharapkan menjadi garda terdepan dalam menghadirkan layanan prima yang mencerminkan nilai-nilai keislaman dan moderasi beragama,” bebernya.
Rektor mengingatkan bahwa bekerja di lingkungan perguruan tinggi Islam bukan semata menjalankan tugas administratif, melainkan juga bagian dari ibadah. “Dengan menjadikan kerja sebagai ibadah, bentuk pengabdian, seluruh aparatur diharapkan menjaga integritas, meningkatkan kinerja, berkontribusi aktif dalam menyukseskan program prioritas universitas, termasuk digitalisasi layanan, penguatan SDM, dan internasionalisasi,” jelasnya.
Keberadaan dan keberlangsungan suatu organisasi sangat ditopang oleh tiga pilar utama agar dapat berjalan secara optimal. Ketiga pilar tersebut meliputi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sistem penataan organisasi yang baik, serta proses bisnis yang menjadi target capaian dalam visi dan misi organisasi. Dari ketiganya, aspek SDM memiliki peran sentral, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang tercermin dalam pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude).
Dalam konteks ini, capacity building dipahami sebagai proses sistematis untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membentuk sikap dan perilaku SDM agar mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara optimal. Secara umum, capacity building mencakup penguatan knowledge, skills, attitude, dan behaviour sebagai fondasi peningkatan kinerja organisasi.
Pembentukan dan pengembangan kapasitas ini dilaksanakan pada tiga level, yaitu individu, kelompok, serta institusi atau organisasi. Tujuannya adalah untuk menjamin kesinambungan organisasi melalui pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, sekaligus mendorong terciptanya budaya kerja yang profesional dan berorientasi pada pelayanan.
Selain penguatan kompetensi, kegiatan capacity building diarahkan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental tenaga kependidikan, sehingga tetap produktif, bersemangat, dan bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari maupun dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pekerjaan.
Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Biro AUPK UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Drs. H. Ajam Mustajam, M.Si., menegaskan pentingnya peningkatan pemahaman terhadap regulasi terbaru, penguatan layanan prima, serta komitmen peningkatan kinerja demi kemajuan kampus.
Dengan mengajak seluruh tenaga kependidikan untuk melakukan evaluasi diri, meninggalkan perilaku kerja yang kurang baik di masa lalu, dan membangun perilaku positif sebagai bekal menghadapi tantangan ke depan.
Kepala Biro AUPK menekankan pentingnya pengamalan nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam pelaksanaan tugas. Pelayanan harus dilakukan secara harmonis, sederhana, dan humanis, salah satunya melalui sikap ramah dan senyum dalam melayani.
Aparatur dituntut untuk mampu menjaga rahasia jabatan serta bekerja tidak semata berdasarkan rutinitas, melainkan berlandaskan pada aturan dan regulasi yang berlaku. Dengan adanya capacity building ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap seluruh tenaga kependidikan mampu mengimplementasikan nilai-nilai profesionalisme, kebersamaan, dan pelayanan prima dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.




