Menguasai Diri

(UINSGD.AC.ID)-Diriwayatkan dari Anas RA: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Setelah Allah SWT membentuk tubuh Adam AS di dalam surga, maka dibiarkannya dalam waktu beberapa lama. Kemudian Iblis berputar-putar mengelilingi sambil memperhatikannya. Setelah Iblis tahu bahwa tubuh Adam berongga, Iblis tahu bahwa manusia diciptakan-Nya sebagai makhluk yang tidak dapat menguasai diri’.” (HR Muslim).

Demikianlah, mengapa manusia itu disebut tempatnya salah dan lupa. Diturunkan kepada manusia, para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah agar kehidupan manusia berada di jalan yang lurus.

Diajarkan dan dilatih untuk bersabar dalam kejayaan dan kesusahan, mau memaafkan kepada yang menyakitinya. Sedari awal manusia itu berpotensi tidak mampu menguasai dirinya.

Syahwat dan amarah itu hal yang alamiah. Setiap manusia memiliki dan akan mengalaminya. Sejauh dapat dikendalikan dan diarahkan kepada kebaikan, tidak akan menjadi masalah. Ketika diumbar tak terkontrol, akan membuat resah dan susah.

Seimbang, proporsional itulah prinsip dasarnya. Marah saat melihat kezaliman, kejahatan, dan pengingkaran nilai-nilai kemanusiaan adalah hal yang harus dilakukan seorang beriman.

Namun, ekspresinya seperti apa, koridor syariat telah mengajarkan. Membalas setiap kejahatan dengan hukuman setimpal itu diperbolehkan, sebagaimana hukum qishash. Namun memaafkan pelaku jauh lebih dihargai oleh Tuhan.

Derajat kemuliaan diberikan kepada para pemaaf. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Rasulllah SAW: Beliau bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, Allah akan menambah kemuliaan kepada kepada orang yang bersifat pemaaf, dan Allah akan menaikkan derajat orang yang bersifat tawadhu (rendah hati).” (HR Muslim).

Bagaimana kalau tetap tak sanggup menahan marah? Diajarkan kepada kita agar saat marah, bacalah “A‘uudzubillaahi minasy syaithaanirrajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Belajarlah mengelola amarah walau itu tidak mudah, apalagi anak muda yang selalu merasa gagah. Rasanya kalau tidak dilampiaskan, seolah tidak memiliki martabat. Padahal memaafkan akan jauh lebih terhormat.

Menguasai diri itu ditandai dengan kemampuan bersedekah terbaik, memaafkan, bersabar, menahan syahwat dan amarah, tidak serakah serta rendah hati. Sikap seimbang ke dalam diri dan kepada sesama dengan terus memberikan manfaat. Menebar keselamatan akan mampu dilakukan karena dalam diri terbentuk karakter kuat sebagai seorang yang termotivasi untuk menebar kebaikan.

Mereka yang mampu menguasai diri dinilai sebagai manusia yang hebat. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA: Rasulullah SAW bersabda, ”…apakah yang kamu sebut shura’ah (seorang jagoan)?”

Jawab kami, “Orang yang dapat merobohkan lawannya.”

Sabda beliau, ”Bukan itu seorang jagoan, tetapi jagoan ialah seseorang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah.” (HR Muslim). Wallaahu a’lam.

Iu Ruslinana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber, Hikmah Republika 25 Mei 2021

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *