id Indonesian

3 Memaknai Spirit Qurban

(UINSGD.AC.ID)-Hari raya Iduladha disebut juga hari raya Qurban karena setiap umat Islam sangat dianjurkan untuk setidak-tidaknya sebagai sunnah muakkadah untuk menyembelih Qurban,” diunkapkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam tayangan video ucapan Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah, Sabtu (9/7/2022).

Hari raya Qurban, sebagai momentum untuk mengenang peristiwa qurban yang diawali oleh dua hamba Allah yang sholeh melaksanakan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. ditugaskan oleh Allah SWT untuk mengurbankan putra kesayangannya. Ismail, a.s. melalui mimpi. Nabi Ibrahim a.s, dalam dialognya seperti yang dilukiskan dalam bahasa yang sangat indah dan menyejukkan di dalam al-Qur’an surat Ash-Shafaat:102: “…….Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shafaat [37]:102).

Dalam suasana yang sangat mengharukan itu, dan detik-detik yang amat menegangkan, saat Ismail sudah dibaringkan untuk dilakukan penyembelihan seperti yang dikisahkan, bahwa bukanlah Ismail yang tersembelih, melainkan atas kekuasaan dan kebesaranNya, tiba-tiba Allah SWT mengganti dengan seekor gibas besar yang dibawa oleh malaikat jibril.

Tidak dapat kita bayangkan, bagaimana kegembiraan hati orang tua yang telah lama mendambakan generasi pengganti dirinya dari sekian tahun lamanya, dan bagaimana tingkat kecintaannya terhadap putra tunggal, anak kandung sibiran tulang, cahaya mata, pelepas rindu, tiba-tiba harus dijadikan qurban, merenggut nyawa anaknya oleh tangan ayahnya sendiri. Namun, cintanya kepada Allah jauh lebih besar dan jauh lebih di atas segala galanya daripada cintanaya kepada anak, isteri, harta benda dan materi keduniaan lainnya.

Sejak peristiwa itu, penyembelihan qurban merupakan suatu tindakan penundukan dan penguasaan kecenderungan-kecenderungan hewani dalam diri manusia itu sendiri yang dalam bahasa agama disebut al-nafsu al-ammârah dan al-nafsu al-lawwamah, yakni keinginan-keinginan rendah yang selalu mendorong atau menarik manusia ke arah kekejian dan kejahatan. Selanjunya, Qurban disyariatkan guna mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Akan tetapi yang dikorbankan bukan manusia, bukan pula kemanusiaan. Namun yang dikorbankan adalah binatang, yang sempurna tanpa cacat, sebagai indikasi agar sifat-sifat kebinatangan dalam diri harus dibuang jauh-jauh.

Hikmah inilah yang diajarkan dalam berqurban, seperti dalam firman Allah swt.,: “Daging-daging dan darah binatang qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi apa yang akan sampai kepadaNya hanyalah ketaqwaan. Demikianlah dia memperuntukkan binatang ternak itu bagiMu semoga kamu mengagungkan Allah…..”. (QS. Al-Hajj [22]:37).

Oleh karena itu, ibadah penyembelihan hewan qurban 1443 H ini, sepantasnya dapat menumbuhkan kesadaran baru, untuk memahami akan hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Allah, pada tata aturan yang sempurna dan hukum-hukum adilnya menjelmakan sangsi-sangsi seimbang dalam kekuasaan Allah SWT yang tidak akan pernah tertipu kepalsuan. Namun sayang makna dari kerelaan berqurban masih kurang mendapat perhatian dan penghayatan yang memadai, karena masih banyak di antara yang berperan di bundaran dunia fana? ini, cuma menanti pengorbanan orang lain.

Melalui perintah qurban, Islam mengajarkan bagaimana “membangkitkan kepekaan dan kepedulian sosial” kepada sesama saudara kita yang lain, yaitu membantu terbinanya persaudaraan yang hakiki, cinta kasih dan tanggung jawab antara sesama umat, serta terwujudnya pemerataan pendistribusian protein hewani untuk meningkatkan gizi masyarakat dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga dapat meningkatkan pengabdian-nya kepada Allah dan sesamanya.

Dari uraian hikmah Qurban di atas, paling tidak didapat tiga pembelajaran yaitu: Pertama; Ibadah qurban mengandung aspek ilahiah, di samping aspek insaniah. Dalam aspek insaniah (sosial) adalah menumbuhkan kekentalan persaudaraan (silaturrahim) dan meningkatkan protein dalam rangka mendorong semangat pengabdian kepada Allah dan sesama manusia lainnya.

Kedua; Makna lain dari berqurban adalah upaya mereformasi diri sendiri dengan jalan menyembelih serta membunuh watak dan tabiat hewaniyah yang kita miliki, seperti: mau menang sendiri, tamak dan rakus serta bakhil, gila kekuasaan, ambisi yang tidak terekendali, sombong dan arogansi, iri hati dan dengki, tidak mau mendengar kritikan dan nasehat, dan lain-lain sebagainya dari segala sifat yang tidak terpuji.

Ketiga; Seseorang dituntut berkorban, baik harta, jabatan dan kedudukan, bahkan jiwa sekalipun dan nilai pengorbanan tidak dilihat dari kuantitas, tetapi dari niat dan kualitas ketulusan dan keikhlasan.

Prof Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Tinggalkan Pesanx
()
x