UINSGD.AC.ID (Humas) — Di sebuah kamar pesantren, seorang santri mungkin sedang membuka kitab sambil memeriksa penjelasan melalui layar ponsel. Dua dunia bertemu di tangannya, tradisi yang menuntut ketekunan dan teknologi yang menawarkan kecepatan. Pertemuan tersebut menyimpan kesempatan besar, sekaligus pertanyaan penting. Apakah kemudahan membuat pemahaman semakin dalam, atau sekadar membuat jawaban semakin cepat ditemukan?
Ada yang dapat dijawab mesin dalam hitungan detik, tetapi harus direnungkan manusia sepanjang hidup, untuk apa pengetahuan digunakan, kepada siapa keberhasilan dipersembahkan, dan siapa yang menanggung akibat dari keputusan kita?
Pertanyaan itu terasa semakin dekat pada Hari Santri 2026. Di tengah kecerdasan buatan yang mampu menyusun tulisan, menghasilkan gambar, dan merangkum pengetahuan, manusia menghadapi ujian yang lebih mendasar daripada kemampuan menguasai teknologi. Kita sedang diuji untuk tetap memiliki pertimbangan, kejujuran, dan keberanian bertanggung jawab.
Tema resmi Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, memberi arah bagi percakapan tersebut. Menguatkan negeri membutuhkan manusia yang sanggup membaca perubahan, menguasai pengetahuan, serta menjaga tanggung jawab moral ketika menggunakan kekuasaan dan kemampuan.
Tema ini menempatkan santri dalam pekerjaan besar menyiapkan masa depan Indonesia. Namun, negeri yang kuat tidak tumbuh hanya dari kecanggihan infrastruktur dan besarnya angka pertumbuhan. Kekuatan juga bersemayam dalam kepercayaan, dalam keyakinan bahwa guru mendidik dengan sungguh-sungguh, para pemimpin menjaga amanah, pelaku usaha berlaku jujur, dan sesama warga bersedia saling melindungi.

Ketika Jawaban Melimpah, Kebijaksanaan Diuji
Kita hidup dalam keadaan yang ganjil. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi memahami persoalan tetap membutuhkan kesabaran. Kita dapat membaca banyak judul tanpa menyelesaikan satu tulisan. Perdebatan dapat berlangsung panjang meskipun para pesertanya belum memeriksa persoalan yang dipertentangkan. Dan kelimpahan informasi ternyata tidak otomatis menghasilkan kejernihan.
Dalam tradisi belajar pesantren, pengetahuan memiliki perjalanan. Ada teks yang dibaca, guru yang menjelaskan, istilah yang diperiksa, dan pemahaman yang diuji melalui percakapan. Seseorang belajar mengenali batas pengetahuannya sebelum merasa berhak memberi kesimpulan.
Kebiasaan tersebut memperoleh arti baru dalam kehidupan digital. Ketika potongan ceramah, kutipan agama, dan pendapat tokoh beredar tanpa konteks, ketekunan memeriksa sumber menjadi bentuk tanggung jawab sosial. Kesalahan memahami satu kalimat dapat berkembang menjadi prasangka terhadap seluruh kelompok.
Tradisi sanad, dalam pengertian keterhubungan sumber dan pertanggungjawaban pengetahuan, memberi pelajaran yang berharga, bahwa sebuah pernyataan perlu diketahui asal-usulnya, kemudian dapat diterjemahkan menjadi kecakapan memeriksa dokumen, membandingkan sumber, membaca konteks, dan mengakui ketika bukti belum mencukupi.
Santri yang membawa kebiasaan tersebut ke ruang digital dapat membantu masyarakat memperlambat prasangka. Sebab, persoalan zaman ini sering bermula ketika kecepatan bereaksi melampaui kesungguhan memahami. Jari sudah menyebarkan kabar, sementara akal belum selesai menimbang. Kemarahan sudah menemukan sasaran, sementara kebenaran masih dicari. Dalam keadaan demikian, tabayun adalah latihan kedewasaan publik.

Ilustrasi guru dan murid asyik belajar/Foto: iStock
Kecerdasan Buatan dan Tanggung Jawab Belajar
Kehadiran kecerdasan buatan membuka banyak kemungkinan bagi pendidikan pesantren. Teknologi dapat membantu latihan bahasa, menata bahan belajar, menyusun pertanyaan awal, atau memperkenalkan beragam sudut pandang atas sebuah persoalan. Bagi lembaga dengan sumber belajar terbatas, kemungkinan tersebut patut dijajaki secara serius.
Namun demikian, penggunaan teknologi memerlukan kecermatan. Jawaban yang tersusun lancar dapat mengandung kesalahan. Rujukan yang tampak meyakinkan harus tetap diperiksa. Persoalan agama, terlebih yang menyangkut keputusan hidup seseorang, membutuhkan pembacaan sumber dan bimbingan orang yang memiliki kompetensi. Tantangan pendidikan kemudian bergeser.
Guru perlu mengetahui bagaimana murid sampai pada jawaban, sumber apa yang digunakan, bagian mana yang dipahami, dan kesimpulan mana yang masih meragukan. Kejujuran akademik juga perlu dibicarakan dengan terbuka. Mengakui bantuan teknologi merupakan bagian dari tanggung jawab kepengarangan.
Mengumpulkan tulisan yang tidak dipahami hanya memindahkan pekerjaan kepada mesin, sementara kesempatan belajar terlewat begitu saja. Pesantren memiliki bekal untuk menghadapi persoalan tersebut, bekal kesungguhan menuntut ilmu, penghormatan terhadap sumber, dan kesadaran bahwa pengetahuan membawa Amanah, perlu diterjemahkan ke dalam kebiasaan belajar yang sesuai dengan era kini.

Kebiasaan para santri saat usai mengaji kitab. Foto Pesantren Tebuireng/ Kopiireng)
Di Antara Adab dan Budaya Viral
Hari ini ruang digital menawarkan panggung kepada seluruh penggunanya. Kesempatan berbicara terbuka luas, termasuk bagi santri yang ingin menyampaikan gagasan, memperkenalkan karya, atau membangun usaha.
Suara dari pesantren dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit ditemui. Akan tetapi, panggung juga mengubah dalam cara menilai. Jumlah penonton dapat terasa seperti ukuran kebenaran. Banyaknya pengikut dapat dianggap sebagai bukti kedalaman ilmu. Konten yang menenangkan kalah menarik dibandingkan pernyataan yang memancing pertengkaran. Di sinilah santri membutuhkan kemerdekaan batin, kemampuan berkarya tanpa menyerahkan seluruh harga diri kepada angka di layar.
Menjadi relevan tentu memerlukan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Dakwah dapat menggunakan humor, video pendek, ilustrasi, dan percakapan sehari-hari. Kreativitas yang layak dikembangkan dengan tetap menjaga martabat dan ahlak ketika adab terasa hadir dalam keputusan yang sangat konkret. Apakah wajah seseorang boleh diunggah ketika sedang menangis? Apakah kesalahan seorang anak pantas dijadikan hiburan? Apakah perbedaan pendapat harus disampaikan dengan mempermalukan lawan bicara? Pertanyaan tersebut akan menentukan kualitas ruang bersama, dan santri dapat memperkenalkan ukuran keberhasilan yang lebih bermakna, percakapan menjadi lebih jernih, prasangka berkurang, dan mempertontonkan adab santri sejati

Beragama dengan Kedalaman dan Keberanian Bertanya
Tradisi keilmuan pesantren menyediakan ruang untuk mengenali perbedaan pandangan. Membaca pendapat para ulama dapat mengajarkan bahwa kesungguhan beragama berjalan bersama dengan kerja intelektual menelusuri alasan, memahami konteks, dan menimbang akibat. Kedalaman tersebut menjadi penting agar agama hadir sebagai sumber pertolongan bagi kehidupan.
Ketika seorang pekerja kehilangan penghasilan, pembicaraan agama dapat menyentuh keadilan upah dan solidaritas. Ketika keluarga terlilit utang, pendidikan keagamaan dapat membantu membangun kecakapan mengelola keuangan. Ketika lingkungan rusak, tanggung jawab manusia terhadap alam perlu diterjemahkan menjadi tindakan.
Santri juga perlu memiliki keberanian bertanya. Pertanyaan yang diajukan dengan sungguh-sungguh membuka jalan menuju pemahaman. Lingkungan pendidikan yang sehat memberi ruang bagi murid untuk mengakui kebingungan, menguji argumen, dan menyampaikan keberatan secara beradab, serta kebiasaan menghormati guru dapat berjalan bersama tumbuhnya daya pikir, sehingga pendidikan memperoleh kemuliaannya ketika kewibawaan digunakan untuk membimbing.
Kedekatan dengan ilmu seharusnya memperluas kesediaan mendengar, terutama terhadap mereka yang lebih muda dan memiliki pengalaman berbeda. Dari ruang belajar sepeti ini , para santri dapat membawa kebiasaan berdialog ke tengah masyarakat yang mudah terbelah.

Pesantren yang Aman, Santri yang Bertumbuh
Harapan besar kepada pesantren perlu disertai keberanian merawat kehidupan di dalamnya. Pembicaraan tentang masa depan santri akan kehilangan makna apabila kebutuhan akan keamanan, kesehatan, dan penghormatan terhadap martabat belum mendapat perhatian yang memadai.
Pesantren menanggung tanggung jawab pendidikan yang besar. Karena itu, dukungan terhadap lembaga Lembaga pesantren harus mencakup kualitas pengasuhan, kelayakan tempat tinggal, kesehatan lingkungan, kecukupan pendamping, dan saluran pengaduan yang dapat dipercaya.
Santri perlu mengetahui tempat meminta pertolongan ketika mengalami perundungan, kekerasan, atau perlakuan yang membuatnya takut.
Pengaduan harus diperiksa secara adil, dengan perlindungan terhadap pihak yang melapor dan penanganan yang bertanggung jawab. Kepatuhan juga perlu dipahami secara dewasa. Pendidikan kedisiplinan bertujuan menumbuhkan tanggung jawab, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap orang lain.
Pesantren yang mendidik dengan kasih, ketegasan, dan tata kelola yang baik akan memberi pengalaman berharga tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi, membimbing, dan bertumbuh.

Ilustrasi tafsir kemerdekaan ala santri / foto santrionline.net
Santri Menguatkan Negeri
Indonesia Emas akan memperoleh makna ketika cita-citanya terasa dalam kehidupan masyarakat, dengan kesempatan belajar yang lebih adil, pekerjaan yang layak, pelayanan yang dapat dipercaya, dan lingkungan yang memungkinkan para santri tumbuh sehat.
Santri dapat mengambil bagian melalui beragam profesi, menjadi pendidik, peneliti, pengusaha, tenaga kesehatan, pekerja kreatif, aparatur negara, atau penggerak masyarakat. Masing-masing memiliki ruang pengabdian yang penting. Dan nilai kesantrian akan terlihat dalam cara menjalankan pekerjaan tersebut.
Seorang santri yang menjadi aparatur menjaga amanah ketika menolak mempersulit pelayanan. Menjadi pengusaha yang menunjukkan tanggung jawab ketika membayar pekerja dengan adil. Menjadi seorang akademisi yang menjaga kehormatan ilmu ketika menyampaikan temuan secara jujur. Dan seluruh santri layak memperoleh kesempatan untuk berkembang dan tumbuh.

Nurani sebagai Penunjuk Arah
Namun, menyebut santri sebagai harapan bangsa juga membawa kewajiban untuk tidak membebani mereka dengan pujian kosong. Generasi muda memerlukan ruang mencoba, kesempatan gagal, bimbingan yang sabar, serta teladan yang dapat dipercaya. Mereka perlu melihat bahwa kejujuran memperoleh penghargaan dan kerja keras membuka peluang. Tanpa pengalaman itu, nasihat mudah terdengar jauh dari kenyataan.
Karena itu, Hari Santri layak menjadi momen untuk memeriksa hubungan antara ucapan dan tindakan kita. Sudahkah lembaga pendidikan memperlakukan murid dengan hormat? Sudahkah pemimpin bersedia dievaluasi? Sudahkah dunia kerja memberi kesempatan berdasarkan kemampuan?
Pertanyaan tersebut mengajak orang dewasa ikut bertanggung jawab atas masa depan yang diharapkan dari para santri. Penguatan negeri berlangsung ketika anak muda menemukan alasan untuk percaya bahwa berbuat baik tetap masuk akal, bahwa ilmu dapat memperbaiki kehidupan, dan bahwa pengabdian memiliki tempat yang terhormat.
Karena masa depan menghadirkan banyak kemungkinan yang belum kita ketahui. Pekerjaan akan berubah, alat belajar berkembang, dan cara manusia berhubungan terus bergerak. Karena itu, pendidikan tidak cukup menyiapkan seseorang untuk satu keadaan yang dianggap tetap.
Santri memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat, bersedia memperbarui pengetahuan, menerima koreksi, dan memasuki persoalan baru dengan kesungguhan. Tradisi menjadi bekal untuk membaca perubahan, sementara keterbukaan memungkinkan bekal itu terus bertumbuh. Dalam perjalanan tersebut, nurani tentu dapat membantu dalam memeriksa arah.
Hari Santri 2026 mengundang kita membayangkan generasi yang akrab dengan teknologi, tekun dalam ilmu, berani berkarya, dan lembut terhadap sesama. Generasi yang sanggup memasuki dunia luas sambil menjaga kesediaan untuk mendengar.
Dari pesantren, harapan dapat tumbuh melalui hal-hal yang sederhana, pelajaran yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, pertanyaan yang diterima dengan lapang, makanan yang tidak disia-siakan, usaha yang dikelola dengan jujur, dan tangan yang terulur ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
Dan di tengah dunia yang semakin cepat, santri dapat mengingatkan kita untuk tetap mengetahui arah pulang, kepada kemanusiaan yang dirawat,kepada amanah yang ditunaikan, dan kehidupan yang terus bermanfaa, karena masa depan akan menilai kita melalui jejak yang tertinggal dalam kehidupan orang lain. Dan ilmu menemukan kemuliaan ketika kecerdasan menjadikan manusia semakin beradab dan mampu menjaga sesamanya. Selamat hari santri 2026. Wallahu a’lam biss’showaab.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

