UINSGD.AC.ID (Humas) – Tiga institusi pendidikan tinggi lintas negara, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dan Hartford International University for Religion and Peace (HIU) Amerika Serikat, resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama akademik.
Penandatanganan dan Kuliah Umum yang berlangsung di Gedong Bodas, UIN Bandung, Ahad (23/8/2026) ini difokuskan pada penguatan studi lintas iman (interreligious studies), literasi agama, dan bina damai (peace-building) global.
Momen bersejarah ini ditandatangani oleh Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Rektor UIN Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., Presiden HIU, Sherry L. Turner, Ph.D., dengan disaksikan langsung oleh Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., dan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Kerukunan, Layanan Keagamaan, Pengawasan, dan Kerjasama Luar Negeri, H. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D.
Visi Internasionalisasi dan “Baitul Hikmah Kedua”
Dalam arahannya, Menag Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa “Internasionalisasi bukan sekadar tentang memperbanyak program internasional atau menandatangani Nota Kesepahaman, yang lebih penting, ini adalah tentang memperkuat pengakuan global, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas jaringan akademik internasional, meningkatkan penelitian kolaboratif, dan menarik lebih banyak mahasiswa internasional ke Indonesia,” tegasnya.
“Kolaborasi dengan Hartford International University for Religion and Peace ini sangatlah berharga. Bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kemitraan ini memberikan peluang penting untuk memperkuat pemerataan akademik, khususnya di bidang studi antaragama, pembangunan perdamaian, literasi agama, penelitian internasional, serta kolaborasi akademik global,” jelasnya.
Menurutnya kemitraan ini harus menjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman dua arah. Hartford International University dapat memperoleh wawasan berharga dari kekayaan pengalaman Indonesia dan posisinya sebagai negara demokrasi dengan mayoritas Muslim terbesar, negara yang dicirikan oleh keragaman agama, pluralisme budaya, dan tradisi panjang dalam keterlibatan antaragama.
Indonesia telah mengembangkan banyak pengalaman berharga dalam mengelola keragaman, mempromosikan moderasi beragama, membangun harmoni sosial, dan mendorong kerja sama antarkomunitas agama yang berbeda.
“Oleh karena itu, kemitraan ini tidak boleh dipahami sekadar sebagai kerja sama antara satu universitas di Indonesia dan satu di Amerika Serikat. Ini harus menjadi wadah untuk saling belajar dan menciptakan pengetahuan bersama antara dua tradisi akademik dan dua masyarakat,” paparnya.
Mengingat pentingnya mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, yang tidak hanya ahli dalam studi Islam, tetapi harus menguasai sains, teknologi, dan kecerdasan buatan.
“Saya ingin mengusulkan sebuah cita-cita intelektual yang penting bagi umat Islam di Indonesia dengan menciptakan Baitul Hikmah Kedua,” tegasnya.
Untuk mencapai visi ini, penguatan sumber daya manusia di PTKIN mutlak diperlukan. Kita membutuhkan cendekiawan yang tidak hanya ahli dalam studi Islam, tetapi mampu terlibat secara percaya diri dengan sains, teknologi, ilmu sosial, ekonomi, hukum, psikologi, ilmu lingkungan, kecerdasan buatan, dan bidang-bidang baru lainnya. Kita membutuhkan universitas yang memproduksi pengetahuan yang bukan sekadar mengonsumsinya.
Dalam konteks ini, “Saya ingin mengusulkan sebuah cita-cita intelektual yang penting bagi umat Islam di Indonesia dengan menciptakan Baitul Hikmah Kedua,” paparnya.
Baitul Hikmah pertama di Baghdad menjadi simbol luar biasa dari Zaman Keemasan Islam, sebuah pusat di mana pengetahuan dari berbagai peradaban diterjemahkan, dipelajari, dikembangkan, diperdebatkan, dan diubah menjadi pencapaian intelektual baru.
“Hari ini, kita tidak boleh sekadar mengingat sejarah tersebut, kita harus menghidupkan kembali semangatnya. Oleh karena itu, mari kita ubah kerja sama ini dari sekadar kesepakatan formal menjadi kemitraan yang hidup melalui penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, publikasi internasional, program akademik bersama, inisiatif pembangunan perdamaian, dan proyek kolaboratif yang menjawab tantangan nyata yang dihadapi umat manusia. Semoga Allah SWT memberkahi upaya kita, memperkuat kemitraan kita, dan membimbing kita dalam menjadikan pengetahuan sebagai sumber perdamaian, kemakmuran, dan manfaat bagi umat manusia. Terima kasih banyak,” tandasnya.
Kerja sama ini harus berjalan dua arah. Amerika Serikat, melalui Hartford, dapat memetik pelajaran berharga dari pengalaman Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas Muslim terbesar yang sukses mengelola keragaman, kerukunan sosial, dan moderasi beragama.
Bukti Rekam Jejak UIN Bandung
Visi internasionalisasi ini sejalan dengan capaian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kampus ini telah membuktikan diri mampu bersaing di tingkat dunia dengan berbagai raihan pemeringkatan global pada 2026, di antaranya:
- Webometrics (Januari 2026): Peringkat ke-1 di antara PTKIN di Indonesia, ke-29 secara nasional, dan ke-2.444 secara global.
- QS Top Universities (2026): Peringkat ke-4 di antara PTKIN, dengan posisi global di urutan ke-233.
- SCImago Institution Rankings (2026): Peringkat ke-1 di antara PTKIN, ke-4 secara nasional, dan ke-25 secara global dalam Studi Agama. UIN Bandung menunjukkan kinerja yang kuat di peringkat global lainnya, termasuk UniRank, EduRank, dan SINTA.
Dalam sambutnnya, Rektor UIN Bandung, Prof. Rosihon Anwar, menyampaikan suatu kehormatan dan kebanggaan besar, “Saya mewakili seluruh civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung, untuk menyambut dengan hangat Presiden Hartford International University beserta delegasi yang terhormat.
Kami merasa sangat terhormat hari ini dengan kehadiran Bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Profesor Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. Sungguh, kehadiran Bapak memberikan makna istimewa bagi acara ini dan mencerminkan komitmen kuat Kementerian Agama dalam memajukan pendidikan tinggi Islam Indonesia di kancah akademik global,” jelasnya.
Selamat datang di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, selamat datang di Bandung ”Paris van Java” kota yang konon tercipta saat Tuhan sedang tersenyum, sebagaimana dikisahkan dalam cerita rakyat setempat.
UIN Bandung ini didirikan pada tahun 1968, usia yang tergolong muda dibandingkan Hartford International University yang berdiri sejak tahun 1833.
Awalnya, universitas ini merupakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang berfokus pada studi keislaman, kemudian bertransformasi menjadi universitas pada tahun 2005 dengan memperluas cakupan bidangnya ke ilmu-ilmu umum melalui paradigma integratif.
Saat ini, universitas ini memiliki sembilan fakultas dan program pascasarjana untuk jenjang MA dan PhD, termasuk program Studi Agama, serta memiliki lebih dari 38.000 mahasiswa yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, negara-negara tetangga ASEAN, serta negara-negara di Timur Tengah dan Afrika.
“Kami terus berupaya keras untuk meraih prestasi yang lebih tinggi dengan standar kualitas yang lebih baik. Oleh karena itu, pertemuan hari ini bukan sekadar kunjungan resmi antaruniversitas. Ini adalah kesempatan untuk mempertemukan komunitas akademik dari latar belakang budaya dan tradisi intelektual yang beragam dalam upaya bersama mengejar ilmu pengetahuan, pemahaman, dan kemajuan umat manusia,” ujarnya.
Dengan menegaskan komitmennya untuk mengawal implementasi nyata dari MoU ini. “Bagi kami, kemitraan internasional memiliki makna sejati ketika tercipta interaksi akademik yang nyata. Identitas kami sebagai universitas Islam bercita-cita menjadi wadah di mana agama dan sains, serta kearifan lokal dan pengetahuan global, dapat berdialog secara produktif,” papar Rektor.
Membangun Perdamaian Melalui Pendidikan
Presiden HIU, Sherry L. Turner, Ph.D., menyambut hangat kolaborasi strategis ini. Dengan menyoroti tantangan dunia saat ini yang dipenuhi konflik, di mana isu agama kerap memperuncing keadaan.
“Pekerjaan kami menjadi unik karena kami percaya bahwa alih-alih memisahkan diri satu sama lain, penting bagi kita untuk berkumpul dan belajar bersama, sehingga kita dapat menjadi pembangun perdamaian di dunia,” ungkapnya.
Turner sangta mengapresiasi para cendekiawan muda Indonesia dari program Pendidikan Kader Ulama (PKUMI) yang telah menempuh studi di kampusnya sejak 2023. Menurutnya, mahasiswa Indonesia tidak hanya datang untuk belajar, tetapi mengajarkan dunia tentang praktik toleransi dan moderasi beragama di Indonesia.
Empat Pilar Kerja Sama Akademik
Sebagai tindak lanjut MoU, ketiga universitas telah menyepakati sejumlah program strategis yang mencakup:
– Program Gelar Ganda (Dual Degree): Membuka peluang transformasi pertukaran mahasiswa Indonesia dan Amerika Serikat untuk mendapatkan gelar di institusi mitra.
– Penelitian dan Publikasi Bersama: Kolaborasi riset internasional lintas negara untuk menjawab tantangan nyata umat manusia.
– Pertukaran Dosen (Visiting Professor): Membuka kesempatan bagi para dosen untuk mengajar dan berbagi kepakaran antar-universitas.
– Pertukaran Mahasiswa: Keberlanjutan dan perluasan program beasiswa, konferensi akademik, serta pertukaran bahan literatur ilmiah dalam format digital.
Dengan adanya kerja sama ini yang dihadiri oleh para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan dan Wakil Dekan, Direktur Pascasarjana dan Wakil Direktur, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Kepala Bagian dan Ketua Tim Kerja, Ketua dan Sekretaris Prodi, Ketua dan Sekretaris Internasional Office, Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dean of Master of Interreligious Studies Dr. Deena Grant, Ph.D., dan Director of Master of Peace-Building Phoebe Milliken dari Hartford International University, diharapkan PTKIN di Indonesia dapat semakin mengukuhkan perannya dalam mengembangkan kajian keislaman, kemanusiaan, dan ikut memperkuat kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.

