Ketika Uhud Berbisik

Lokasi pemakaman syuhada di Jabal Uhud, Kota Madinah, Arab Saudi. (Liputan6.com/Wawan Isab Rubiyanto)

UINSGD.AC.ID (Kampus I) — Dalam sebuah kesempatan ziarah ke Jabal Uhud, setelah do’a disampaikan untuk arwah syuhada yang gugur, seketika pikiran teringat firman Allah.

“Dan sungguh  Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman”(Qs.Ali-Imran:152).

Pada ayat ini, Allah menceritakan sebab kegagalan para syuhada di medan Uhud. Mereka lemah tauhidnya. Sebelum tandang ke medan juang, mereka terprovokasi oleh manuver tokoh munafik Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul.  Hingga sebanyak 300 orang dari 1000 pasukan Rasul ingkar, membelot dan urung pergi ke Medan juang.

Sejarah perang Uhud, membisikan pesan penting bagi seluruh umat Islam. Pesan dimaksud adalah kemestian mewaspadai penumpang gelap yang kerap menyelinap dalam barisan orang beriman. Mereka adalah orang-orang munafik.

Karakter utama kaum munafik adalah provokatif. Hal ini dibangun untuk melemahkan semangat juang orang beriman dengan menggiring opini dan mengaburkan keyakinan untuk selalu buruk sangka kepada Allah dan Rasulullah.

Dalam Qs. Al-Fath:12, Allah menegaskan, “Bahkan (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selamanya, dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu, dan kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk, karena itu kamu menjadi kaum yang binasa.”

Karakter lainnya, orang munafik tidak akan pernah berhenti merendahkan orang beriman pada level yang teramat bawah. Sampai kapanpun mereka tidak senang melihat orang beriman hidup mulia. Karena itu, manakala diseru untuk beriman. Mereka bukan inklusif, malah menyerang balik orang beriman dengan memberi lebel yang teramat keji.

Dalam Qs. Al-Baqarah: 13, dijelaskan, “Apabila dikatakan kepada mereka (orang munafik): “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu”.

Bila terpaksa harus ikut serta ke medan juang. Orang munafik sangat pecundang, bukan berjuang, malah segera mencari tempat perlindungan bahkan persembunyian. Allah menggambarkan, “..(Kalau lagi peperangan), di (Medan Perang) mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lobang-lobang (di bawah tanah), niscaya mereka pergi (bersembunyi) kepadanya dengan secepat-cepatnya” (Qs. At-Taubah: 57).

Karakter orang munafik yang bisa ditelisik dari banyak petunjuk dalam Al-Qur’an dan hadis, mereka kerap kali bermuslihat dengan sesama bahkan dengan Allah. Dalam Qs. An-Nisa: 42, Allah menegaskan,  “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit.

Saat ziarah ke jabal Uhud, gunung yang dicintai Rasulullah itu seakan berbisik, “waspadailah kaum “sein kanan belok kiri”, yang lain di bibir lain di hati. Segala muslihatnya akan membinasakanmu”. Nau’dzubillah.

Aang Ridwan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter