UINSGD.AC.ID (Humas) — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dituntut untuk terus tanggap dan beradaptasi dalam menghadapi disrupsi teknologi serta dinamika minat calon mahasiswa. Transformasi mutu pembelajaran, penguatan ekosistem moderasi beragama, dan penerapan nilai-nilai ekoteologi kini menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing dan relevansi pendidikan Islam di kancah global.
Penegasan itu mengemuka dalam acara Pembinaan Pegawai dan Dialog Kebijakan yang dibuka oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., dengan menghadirkan Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., di Gedung O. Djauharuddin AR, Kampus I UIN Bandung, Jumat (16/10/2026).
Dengan mengusung tema “Masa Depan PTKIN: Transformasi Pendidikan Islam, Moderasi Beragama, dan Ekoteologi” ini menjadi ruang strategis bagi ratusan sivitas akademika untuk membedah arah kebijakan kementerian sekaligus memproyeksikan langkah pengembangan institusi ke depan.
Tren Pendaftar dan Capaian Indeks Keberagamaan
Dalam sambutannya, Prof. Rosihon menyoroti tren penurunan jumlah pendaftar perguruan tinggi secara umum dalam tiga tahun terakhir. Meski animo ke UIN Bandung masih dalam batas aman, Guru Besar Ilmu Tafsir menegaskan kondisi ini harus dibaca sebagai sinyal urgensi bagi kampus untuk terus berbenah dan beradaptasi dengan teknologi pembelajaran.
Selain transformasi akademik, Rektor melaporkan capaian impresif UIN Bandung dalam implementasi moderasi beragama. Indeks Keberagamaan mahasiswa UIN Bandung saat ini telah menyentuh angka 84, melampaui target Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Agama yang ditetapkan di angka 80.
“Capaian ini membuktikan bahwa nilai-nilai moderasi beragama sejatinya sudah tertanam kuat di ekosistem kita. Ke depan, nilai ini akan semakin diperkaya dengan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi yang kini telah masuk dalam iklim akademik dan tema riset sivitas akademika UIN Bandung,” tegas Prof. Rosihon.
Moderasi Beragama “Naik Pangkat” Jadi Roh Kebijakan
Menyambung paparan Rektor, Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., memberikan penajaman substansi (eksplorasi epistemologis) terkait arah kebijakan Kemenag. Farid menegaskan bahwa meski secara nomenklatur moderasi beragama tidak selalu dieksplisitkan dalam program baru, konsep tersebut justru telah “naik pangkat”.
“Moderasi beragama tetap menjadi substansi dan spirit terbesar yang menjiwai seluruh rangkaian program Kementerian Agama, termasuk dalam menerjemahkan Asta Cita Presiden menjadi Asta Protas Kemenag,” terang Farid.
Jadi kalau dulu moderasi beragama misalnya menjadi buah bibir dimana mana menjadi tema tema diskusi kita menjadi tema tema karya ilmiah. “Saya kira sambil tetap mempertahankan Spirit itu, kita bisa mengambil banyak tema dari kurikulum cinta, dari ekoteologi, dari religius diplomacy, pada semua bentuk bentuk implementasinya di perguruan tinggi kita. Dan ini akan menjadi hal yang menurut saya sangat promising, saya kira menjanjikan ke depan,” jelasnya.
Ekoteologi: Reinterpretasi “Khalifah” dan Kesadaran Lingkungan
Terkait isu ekoteologi, Farid menguraikan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap krisis lingkungan global yang kerap memakan banyak korban jiwa. Stafsus menilai, bahasa sains seringkali kurang efektif di tengah masyarakat beragama. Oleh karena itu, pendekatan ekoteologi yang menyampaikan isu lingkungan lewat bahasa dan tafsir agama ini menjadi krusial, persis seperti suksesnya kampanye Keluarga Berencana (KB) di masa lalu yang meminjam “mulut” dan bahasa ulama.
Ahli Tafsir ini mengajak sivitas akademika PTKIN untuk merekonstruksi teologi maskulin yang cenderung eksploitatif terhadap alam. Pemahaman manusia sebagai Khalifah (wakil Tuhan di bumi), maupun konsep Taskhir (penundukan alam), seringkali disalahartikan sebagai “cek kosong” untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas akibat ketamakan manusia.
“Kita harus mereinterpretasi makna Khalifah. Manusia bukan wakil Tuhan untuk menguasai dan mengeksploitasi, melainkan untuk memelihara bumi. Menanam pohon, misalnya, adalah ibadah yang paling tidak egois, karena hasilnya bukan untuk kita hari ini, melainkan oksigen untuk generasi yang akan datang,” paparnya.
Internasionalisasi Islam dan Wawasan Global PTKIN
Sebagai wujud respons terhadap disrupsi dan tantangan peradaban, Farid menekankan pentingnya agenda “Internasionalisasi Islam Indonesia” melalui diplomasi agama (religious diplomacy). Dengan mencontohkan Deklarasi Istiqlal bersama Vatikan baru-baru ini sebagai wujud nyata peran tokoh dan umat Islam dalam menyuarakan perdamaian dunia (global peace) dan isu lingkungan di tingkat global.
Untuk itu, Farid mendorong seluruh sivitas akademika PTKIN agar memiliki orientasi dan kesadaran sebagai warga dunia (global citizen). “Apapun kearifan lokal yang diterapkan di kampus, termasuk kebijakan paperless demi menyelamatkan pohon itu harus dilandasi kesadaran untuk menjaga keseimbangan tatanan global,” ujarnya.
Di akhir paparannya, Farid mengapresiasi posisi UIN Bandung yang konsisten berada di deretan kampus unggul nasional. Berharap PTKIN terkemuka seperti UIN Bandung dapat terus mempertahankan prestasi, meningkatkan kolaborasi riset berskala global, dengan merangkul Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) agar kesenjangan kualitas pendidikan tinggi Islam di Indonesia semakin mengecil.


