Mengokohkan Soft Power Moral Global
UINSGD.AC.ID (Humas) — Gagasan mengumpulkan para imam masjid dari berbagai negara dalam satu konferensi internasional merupakan gagasan yang sangat visioner. Ini bukan sekadar menghadirkan orang-orang yang berjubah, bersongkok, atau berserban dalam sebuah forum seremonial. Lebih dari itu, ini adalah upaya mempertemukan para penjaga nurani masyarakat untuk bertukar pengalaman, gagasan, dan praktik terbaik dalam membangun kehidupan manusia yang lebih bermartabat.
Selama ini, dunia memiliki banyak saluran untuk membicarakan perdamaian, pembangunan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kemajuan peradaban. Namun, harus diakui bahwa tidak semua saluran tersebut selalu berhasil menjangkau ruang terdalam kehidupan manusia. Tidak sedikit program besar yang berhenti pada dokumen, kesepakatan, atau pidato. Sementara itu, di tingkat akar rumput, masyarakat tetap menghadapi keterasingan, krisis makna hidup, polarisasi sosial, kesepian, dan melemahnya ikatan kemanusiaan.
Di tengah situasi seperti itu, imam masjid memiliki posisi yang unik. Mereka berbicara langsung kepada masyarakat. Mereka hadir di tengah masyarakat bukan hanya ketika masyarakat sedang bahagia, tetapi juga ketika menghadapi kematian, konflik keluarga, kemiskinan, kegelisahan, dan berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, para imam sesungguhnya menyimpan pengetahuan sosial yang sangat kaya tentang kondisi nyata masyarakat yang sering tidak terbaca oleh laporan statistik maupun dokumen kebijakan.
Mengumpulkan mereka dalam satu konferensi internasional berarti mempertemukan ribuan pengalaman kemanusiaan dari berbagai belahan dunia. Dari sana dapat lahir pertukaran gagasan tentang bagaimana membangun toleransi, merawat kerukunan, mengatasi ekstremisme, memperkuat keluarga, membimbing generasi muda, hingga menghadapi tantangan kecerdasan buatan. Forum semacam ini bukan sekadar forum keagamaan, melainkan laboratorium peradaban yang mempertemukan nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan nyata masyarakat modern.
Lebih jauh lagi, konferensi imam masjid internasional dapat menjadi sarana untuk membangun apa yang dapat disebut sebagai peradaban spiritual yang fungsional. Spiritualitas tidak lagi dipahami hanya sebagai urusan ritual pribadi, tetapi sebagai energi sosial yang mampu melahirkan perdamaian, kejujuran, solidaritas, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Spiritualitas yang hidup bukanlah yang hanya terdengar di mimbar, melainkan yang mampu diterjemahkan menjadi solusi sosial.
Dunia hari ini memiliki teknologi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama juga mengalami krisis makna yang akut. Manusia semakin terhubung melalui perangkat digital, tetapi sering kali semakin jauh secara emosional dan moral. Karena itu, peradaban manusia tidak cukup hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, politik, atau teknologi. Ia juga membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh.
Dalam konteks tersebut, gagasan mempertemukan para imam masjid dari berbagai negara bukanlah agenda pinggiran. Ia merupakan investasi peradaban. Sebab yang sedang dibangun bukan hanya jaringan para pemimpin agama, melainkan jaringan penjaga kemanusiaan. Ketika para imam saling menginspirasi, yang diperkuat sesungguhnya adalah kemampuan masyarakat dunia untuk hidup lebih damai, lebih beradab, dan lebih bermartabat.
Mungkin inilah saatnya dunia mulai menyadari bahwa sebagian jalan menuju masa depan yang lebih manusiawi tidak selalu dimulai dari ruang-ruang kekuasaan atau pusat-pusat ekonomi global. Terkadang, ia justru lahir dari pertemuan para penjaga nilai, salah satunya para imam masjid, yang setiap hari membimbing hati manusia. Dari sana, peradaban spiritual yang fungsional dapat tumbuh dan menghidupkan kembali cita-cita besar tentang kemanusiaan yang terhormat.
Soft Power Moral Global
Kita dapat membayangkan puluhan imam masjid—apalagi kalau ratusan atau ribuan—dari berbagai negara berkumpul dalam satu forum internasional, mendiskusikan persoalan-persoalan kemanusiaan, lalu menyampaikan sikap moral bersama terhadap suatu isu global. Pernyataan tersebut kemudian disebarluaskan oleh media dan berbagai platform digital ke seluruh dunia. Dampaknya berpotensi jauh melampaui batas-batas forum seremonial lainnya.
Imam masjid merupakan salah satu otoritas simbolik yang hingga kini masih sangat kuat di banyak negara. Mereka berbicara dari posisi yang oleh masyarakat dipandang memiliki legitimasi moral. Karena itu, ketika para imam menyampaikan pesan tentang perdamaian, persatuan, kepedulian sosial, atau kemanusiaan, pesan tersebut sering kali diterima bukan sekadar sebagai informasi, melainkan sebagai tuntunan moral.
Dengan bantuan media, sebuah gagasan yang asalnya hanya didengar oleh jamaah di satu masjid, kini dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit melalui televisi, portal berita, media sosial, dan berbagai platform digital. Akibatnya, otoritas moral lokal dapat berubah menjadi pengaruh sosial global.
Karena itu, ketika para imam masjid dunia berbicara secara kolektif mengenai isu kemanusiaan, perdamaian, perlindungan anak, lingkungan hidup, kemiskinan, atau etika penggunaan teknologi, yang muncul bukan sekadar suara sebuah konferensi. Yang muncul adalah akumulasi legitimasi moral dari ribuan komunitas yang mereka wakili. Dalam ilmu sosiologi politik, ini sering disebut sebagai soft power moral, yaitu kemampuan memengaruhi masyarakat melalui kepercayaan dan nilai, bukan melalui paksaan.
Tentu pengaruh tersebut tidak berarti bahwa para imam dapat menentukan kebijakan negara atau memaksakan keputusan politik tertentu. Namun, mereka memiliki kemampuan yang sangat penting, yaitu membentuk kesadaran moral publik. Dalam banyak kasus sejarah, perubahan sosial besar sering kali diawali oleh perubahan cara pandang masyarakat sebelum kemudian diikuti perubahan kebijakan dan institusi.
Oleh karena itu, gagasan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, untuk mempertemukan para imam masjid dunia sesungguhnya bukan hanya tentang memperkuat jaringan keagamaan. Di baliknya terdapat potensi untuk membangun ruang dialog moral global yang mampu menghadirkan perspektif kemanusiaan di tengah dominasi narasi politik, ekonomi, dan teknologi.
Ketika banyak institusi mengalami krisis kepercayaan, otoritas simbolik yang masih dimiliki para imam dapat menjadi modal sosial yang berharga untuk memperkuat perdamaian, memperluas solidaritas, dan mengingatkan dunia bahwa kemajuan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas moral manusia yang menggunakannya.
Rosihon Anwar, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung

