UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebanyak 15 mahasiswa semester 3 Magister Studi Agama-Agama (SAA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengikuti kuliah lapangan mata kuliah Praktik Tradisi Keagamaan di Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri, Sariwangi, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (24/9/2026).
Didampingi dosen pengampu Dr. Neng Hannah, M.Ag., mahasiswa tidak hanya mempelajari tradisi keagamaan melalui buku dan ruang kelas, tetapi hadir secara langsung untuk mengamati, mengalami, dan merefleksikan praktik spiritual masyarakat Penghayat Kepercayaan Perjalanan.
Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri merupakan salah satu pusat musyawarah dan kegiatan spiritual masyarakat Penghayat Kepercayaan Perjalanan di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Dalam kunjungan ini, mahasiswa diperkenalkan pada salah satu praktik keseharian yang ternyata memiliki dimensi spiritual dan filosofis yang mendalam, yaitu nyangu, atau proses memasak nasi.
Dipandu oleh Teh Wiwin (Puanhayati Kota Bandung), para mahasiswa mempraktikkan langsung tahapan nyangu dengan metode nyeupan atau mengukus. Proses dimulai dari mengambil beras dari padaringan/pabéasan di dalam goah, mencuci beras (ngisikan), mengukus hingga setengah matang (ngagigihan), melakukan ngarih, mengukus kembali hingga matang (timus), kemudian ngakeul hingga nasi menjadi pulen dan siap disajikan.
Setiap tahapan tidak dipahami semata-mata sebagai teknik memasak. Di dalamnya terdapat tata krama, pantangan (kapamalian), doa, dan penghormatan terhadap beras, makanan, alam, leluhur, serta kehidupan. Bahkan, sejumlah peralatan seperti boboko, dulang, aseupan, sééng, dan hihid memiliki tempat penting dalam keseluruhan proses.
Abah Wahyu sesepuh Penghayat Kepercayaan Perjalanan Bandung Barat juga Ketua RT 01/RW012 Sariwangi Parongopng KBB dan Teh Wiwin menjelaskan mitologi yang melatarbelakangi tradisi nyangu. Cerita leluhur ini menjadi bagian dari tradisi oral yang menjelaskan mengapa proses memasak nasi harus dilakukan secara tertib, bertahap, penuh kehati-hatian, dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Mahasiswa diperkenalkan dengan jampé yang secara tradisional dirapalkan dalam proses memasak nasi. Salah satu jampé mengandung ungkapan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Suci, para leluhur, Ibu Agung, Rama Agung, serta Nyi Mas Pohaci Sang Dayang Trisnawati. “Praktik ini menunjukkan bagaimana aktivitas domestik dapat menjadi ruang artikulasi religiusitas dan hubungan manusia dengan yang sakral.”
Rangkaian kuliah lapangan ditutup dengan makan bersama. Momen sederhana ini justru menjadi bagian yang sangat bermakna. Setelah mahasiswa terlibat langsung dalam proses mengambil beras, mencuci, mengukus, mengolah, hingga memasak nasi, mereka kemudian menyantap hasil olahan secara bersama-sama.
Dalam kesempatan itu, Abah Wahyu mengajak mahasiswa merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan makanan yang dikonsumsinya. Menurut penjelasannya, manusia pada dasarnya memiliki hutang budi kepada alam. “Setiap butir nasi yang masuk ke dalam tubuh bukan sekadar makanan, tetapi merupakan hasil dari rangkaian kehidupan: tanah, air, matahari, benih, tumbuhan, kerja manusia, serta berbagai unsur alam lainnya.”
Karena itu, makanan tidak dipandang sekadar sebagai sesuatu yang mengenyangkan tubuh. Zat-zat yang masuk ke dalam tubuh diyakini turut memengaruhi kualitas spiritual seseorang. Cara memperoleh makanan, mengolahnya, memperlakukannya dengan hormat, hingga cara menyantapnya menjadi bagian dari hubungan manusia dengan kehidupan dan alam semesta.
Refleksi itu membuat makan bersama menjadi lebih dari sekadar penutup kegiatan. Mahasiswa diajak menyadari bahwa setiap suapan memiliki sejarah, kerja, kehidupan, dan relasi ekologis yang panjang. Kesadaran ini mengajak manusia untuk tidak mengambil alam secara berlebihan dan tidak memandang makanan sebagai komoditas semata.
Bagi mahasiswa SAA, pengalaman ini menjadi pembelajaran penting bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk doktrin, ritual formal, atau institusi keagamaan. Agama dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari, makanan, relasi dengan alam, tradisi lisan, tubuh, benda, dan cara manusia memperlakukan kehidupan.
“Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa belajar untuk tidak buru-buru menilai sebuah tradisi berdasarkan kategori agama yang sudah mereka miliki. Mereka belajar hadir, mendengar, mengamati, mengalami, dan memahami makna dari sudut pandang komunitas pemilik tradisi,” ujar Dr. Neng Hannah.
Dengan demikian, nyangu akhirnya bukan sekadar praktik memasak nasi. menjadi pintu masuk untuk memahami cara sebuah komunitas memaknai Tuhan, leluhur, alam, makanan, tubuh, dan kehidupan. Dari dapur dan tungku sederhana, mahasiswa belajar satu hal yang sangat mendasar dalam studi agama, bahwa pengalaman keberagamaan sering kali justru hidup dan berakar kuat dalam praktik keseharian manusia.


