UINSGD.AC.ID (Humas) — Di Waduk Jatiluhur, eceng gondok selama ini lebih banyak dipandang sebagai gulma. Tumbuhan yang memenuhi permukaan waduk tersebut kerap mengganggu aktivitas masyarakat dan menjadi persoalan lingkungan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Namun, bagi Tanissa Puti Rahmadiva, lulusan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, eceng gondok bukan sekadar tanaman pengganggu yang harus disingkirkan. Dari persoalan itu, justru melihat peluang untuk menghadirkan solusi sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat.
Keresahan itu yang mengantarkan Tanissa mengembangkan Bumi Kreasi Jatiluhur, sebuah inisiatif yang mengolah eceng gondok menjadi berbagai produk bernilai ekonomi sekaligus berkelanjutan.
Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Asep Shodiqin, M.Ag., menyambut positif capaian tersebut.
“Alhamdulillah, dalam program British Council Indonesia mengenai pengusaha hijau, Bumi Kreasi terpilih dari hasil penyaringan se-Jawa Barat untuk mewakili Indonesia ke Inggris dalam pembelajaran bersama Lancaster University,” ungkapnya, Rabu (23/9/2026)
Capaian ini menjadi salah satu bukti bahwa gagasan yang tumbuh dari persoalan masyarakat dapat berkembang menjadi inovasi yang memperoleh ruang untuk dipelajari dan dikembangkan dalam jejaring internasional.

Dari Eceng Gondok Menjadi Peluang
Bersama masyarakat, terutama kelompok perempuan, Tanissa mengolah eceng gondok menjadi berbagai produk bernilai guna. Mulai dari produk kerajinan, pupuk, hingga inovasi polybag berbahan eceng gondok yang kini masih berada dalam tahap pengembangan dan riset.
“Saya percaya, masalah lingkungan di sekitar kita bisa menjadi titik awal lahirnya solusi dan peluang bagi masyarakat,” ujar Tanissa.
Baginya, Bumi Kreasi Jatiluhur bukan sekadar upaya memanfaatkan tanaman yang selama ini dianggap sebagai masalah. Inisiatif tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali potensi lingkungan di sekitarnya, mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus membuka peluang ekonomi.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui pendampingan Agile Innovation Labs dan INCREASE Inclusive.
Melalui pelatihan, mentoring, dan pengembangan inovasi, kedua organisasi tersebut mendampingi Tanissa dalam memperkuat model solusi, mengembangkan potensi ekonomi berbasis lingkungan, serta menghubungkan inovasi lokal dengan ekosistem pembelajaran dan kolaborasi yang lebih luas.
Di mata Agile Innovation Labs dan INCREASE Inclusive, Bumi Kreasi Jatiluhur menjadi salah satu portofolio inovasi sosial dan aksi iklim yang menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberi nilai bagi masyarakat sekaligus lingkungan.

Dari Jatiluhur Menuju Inggris
Proses berharga itu membawa cerita dari Jatiluhur ke ruang pembelajaran global.
Pada 27 September–3 Oktober 2026, Tanissa akan mengunjungi Inggris untuk mengikuti rangkaian kegiatan Climate Skills Global Collaboration Programme yang diinisiasi oleh British Council melalui kolaborasi dengan Lancaster University Management School, INCREASE Inclusive, dan Agile Innovation Labs.
Rangkaian kegiatan itu mencakup sesi akademik, workshop, serta kunjungan ke kampus Lancaster University dan organisasi yang bergerak di bidang keberlanjutan (sustainability).
Untuk Tanissa, perjalanan ke Inggris bukan sekadar kesempatan untuk belajar di lingkungan akademik dan praktik internasional. Program ini menjadi ruang untuk memperdalam pengetahuan, bertukar pengalaman, memperluas jejaring, dan mengembangkan inovasi berbasis solusi iklim.
Pada saat yang sama, Tanissa membawa pengalaman dari Jatiluhur ke dalam percakapan global mengenai aksi iklim dan pemberdayaan masyarakat.
Ia membawa sebuah cerita sederhana bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar masyarakat. Bahkan dari eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gangguan.

Belajar ke Dunia, Kembali untuk Jatiluhur
Climate Skills Programme menjadi ruang untuk memperkuat keterampilan terkait iklim, kepemimpinan pemuda, dan keterlibatan masyarakat melalui kolaborasi internasional serta pertukaran pengetahuan.
Namun, bagi Tanissa, perjalanan tersebut bukanlah tujuan akhir.
Setelah menyelesaikan rangkaian program di Inggris, terus berkomitmen membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh untuk memperkuat pengembangan Bumi Kreasi Jatiluhur.
Harapannya, inovasi yang dirintis dari lingkungan masyarakat tersebut dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat serta lingkungan.
Dari Jatiluhur untuk dunia. Dari dunia kembali untuk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Perjalanan Tanissa menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari laboratorium, pusat riset, atau kota besar. Ia bisa lahir dari keresahan sederhana di tengah masyarakat.
Dari sebuah waduk. Dari persoalan eceng gondok. Dari tangan masyarakat. Dan dari keberanian untuk bertanya: bagaimana jika masalah ini kita ubah menjadi solusi?
Untuk di lingkungan FDK UIN Bandung, perjalanan Tanissa ini menjadi gambaran bahwa pendidikan dan pemberdayaan masyarakat tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat tumbuh menjadi inovasi yang menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Dari eceng gondok di Waduk Jatiluhur, Tanissa kini melangkah menuju Inggris. Ia berangkat membawa pengalaman dari masyarakat dan pulang dengan harapan membawa pengetahuan baru untuk masyarakat.
Sebuah perjalanan yang bermula dari keresahan lingkungan, tumbuh menjadi inovasi, dan kini membuka jalan menuju kolaborasi global.

