Kuliah Umum FSH Bersama Wakil Ketua DPR RI: Pentingnya Peran Pendidikan, Etika Politik, dan Penegakan Hukum Menuju Indonesia Emas 2045

UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kuliah Umum bertajuk “Transformasi Politik dan Penegakan Hukum Menuju Indonesia Emas 2045: Perspektif Konstitusi dan Kebangsaan” di Gedung Anwar Musaddad, Kamis (17/9/2026).

Forum akademik ini menghadirkan narasumber utama Wakil Ketua DPR RI, Dr. H. Saan Mustopa, M.Si., guna membedah korelasi strategis antara dunia pendidikan tinggi, praksis politik, dan supremasi hukum.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., membuka kuliah umum FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kesempatan itu, Rektor didampingi Wakil Rektor II Prof. Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag., dan Wakil Rektor IV Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M.Ag. Kegiatan ini turut dihadiri anggota DPRD, Ketua Fraksi NasDem sekaligus Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat, Drs. H. Mamat Rachmat, M.Si., anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Gulam Mohamad Sharon, serta Ketua Umum HIPMI Kalimantan Barat, Kang Onnie Soerono Sandi (Kang Oni Sandi), Sekretaris Fraksi Partai NasDem.

Rektor menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para tamu undangan, khususnya para narasumber yang hadir di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Prof. Rosihon memperkenalkan sejumlah fasilitas dan pengembangan kampus kepada para tamu. “Pertama, saya menghaturkan terima kasih sekali lagi kepada para tamu undangan, khususnya para narasumber, Kang Saan, di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kita sekarang sedang berdiri di kampus pertama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kampus ini sudah sangat padat. Sudah 9 hektare ini sangat padat. Kita punya Kampus II, luasnya ada 29 hektare, baru sepertiga,” ungkapnya.

Guru Besar Ilmu Tafsir ini menyampaikan bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus melakukan pengembangan, termasuk rencana pendirian Fakultas Kedokteran di Kampus II. “Kita, Kang Saan, di Kampus II mohon doanya. Insyaallah kita sedang mengembangkan dan mendirikan Fakultas Kedokteran. Mudah-mudahan segera berdiri, baik itu izinnya maupun gedungnya. Mudah-mudahan kita doakan dari mana saja rezekinya, insyaallah,” tuturnya.

Keberadaan Kampus III di Cileunyi yang diperuntukkan bagi Ma’had, termasuk bagi mahasiswa tahfiz dan mahasiswa asing. Rektor menyampaikan apresiasi kepada Kang Saan atas perhatian dan kontribusinya terhadap mahasiswa UIN Bandung. “Alhamdulillah kita berterima kasih kepada Kang Saan yang sudah dengan UIN Bandung. Saya kira kita sudah seperti, ya bukan seperti, sudah saudara dan saya yakin beliau itu banyak membantu kepada para mahasiswa-mahasiswi kita semua,” ujarnya.

Rektor mengapresiasi capaian Fakultas Syariah dan Hukum, baik dari sisi program studi maupun prestasi mahasiswa. “Kedua, saya mengapresiasi kepada Pak Dekan Fakultas Syariah dengan tadi Kang Saan ini profilnya luar biasa. Prestasi Pak Dekan ini keren ya. Tadi prodinya unggul semua, alhamdulillah. Dengan prestasi mahasiswanya yang banyak. Bahkan kemarin pemenang Adi Djati Utama, wisudawan terbaik tiga kali berturut-turut, hattrick, diperoleh oleh Fakultas Syariah dan Hukum,” katanya.

Dengan berharap berbagai capaian ini dapat terus dikembangkan melalui peningkatan prestasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Rektor menegaskan pentingnya kegiatan kuliah umum sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis. “Ketiga, tentu saya mengapresiasi kegiatan ini. Inilah sarana para mahasiswa untuk menggabungkan antara ilmu teoritis dengan ilmu praktis. Oleh karena itu, kami sangat senang kehadiran para praktisi karena tidak saja nanti bicara tentang teoritis, tapi praktiknya seperti apa,” jelasnya.

Rektor sangat membuka peluang menghadirkan lebih banyak praktisi dalam kegiatan akademik mendatang agar mahasiswa memperoleh gambaran mengenai penerapan ilmu yang dipelajari. Setelah menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan, narasumber, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, serta seluruh pimpinan universitas, Rektor secara resmi membuka kegiatan kuliah umum dengan pembacaan Ummul Quran.

Dalam laporannya, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Fauzan Ali Rasyid, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Saan Mustopa sebagai narasumber dalam kuliah umum yang diselenggarakan FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Kami sangat berbangga pada hari ini dapat menyelenggarakan kuliah umum. Mudah-mudahan pengetahuan yang disampaikan oleh Pak Saan Mustopa dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa kami,” ujarnya.

Kegiatan ini sejalan dengan pengembangan kompetensi keahlian mahasiswa yang menjadi salah satu perhatian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Salah satu kompetensi yang dikembangkan adalah legal drafting, sehingga mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman dan wawasan langsung dari lembaga-lembaga legislatif.

“Kompetensi keahlian yang kami bangun, salah satunya adalah legal drafting. Karena itu, diperlukan kedekatan dengan lembaga-lembaga legislatif. Nantinya, beberapa mahasiswa akan mendapatkan kesempatan untuk magang di lembaga legislatif, termasuk di DPR dan DPRD,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik yang menghadirkan praktisi maupun tokoh dari lembaga legislatif diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai proses legislasi sekaligus menunjang kompetensi profesional mereka.

“Oleh karena itu, saya berharap adik-adik sekalian dapat mengikuti dengan khidmat arahan dan penyampaian dari narasumber kita. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi bagian dari kebaikan yang dibangun bersama, baik oleh Pak Saan Mustopa maupun oleh kita semua, serta mendapatkan keberkahan dari Allah Swt.,” bebernya.

Pendidikan Pemutus Rantai Kemiskinan dan Sandaran Akademik Politisi

Dalam pemaparannya, Dr. H. Saan Mustopa membagikan refleksi panjang kiprahnya yang berakar dari dinamika aktivisme mahasiswa di Bandung hingga memegang amanah pimpinan parlemen. Dengan menekankan bahwa mobilitas sosial dan pemerataan keadilan berakar kuat pada akses pendidikan tinggi.

“Pendidikan adalah instrumen paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan struktural. Anak-anak dari latar belakang ekonomi terbatas di pelosok daerah harus memperoleh proteksi dan kesempatan setara agar mampu mengubah masa depan keluarga dan bangsanya,” tegas Saan.

Saan menggarisbawahi pentingnya politisi dan pengambil kebijakan memiliki sandaran moral serta basis akademik yang kokoh. Tanpa nilai-nilai keilmuan, kepemimpinan publik rentan kehilangan komitmen etis dan integritas keberpihakan.

Caranya dengan mendorong mahasiswa untuk memperkuat idealisme, komitmen, serta keberpihakan kepada masyarakat dalam menghadapi tantangan bangsa. Pendidikan tidak sekadar memperkuat pengetahuan, tetapi harus membentuk kesadaran dan kepekaan terhadap kondisi masyarakat.

Saan menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadi benteng utama dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran. “Kita selalu punya harapan, punya ekspektasi bahwa kampus ini adalah garda terdepan dalam memperjuangkan, mempertahankan yang namanya idealisme, yang namanya kebenaran, yang namanya keadilan,” tegasnya.

Dengan berpesan agar para mahasiswa baru memanfaatkan masa perkuliahan secara optimal. “Dan saya juga berharap kepada para mahasiswa baru, di kesempatan menjadi seorang mahasiswa atau mahasiswi ini digunakan semaksimal mungkin, bukan hanya semata-mata menjalani rutinitas dia dari rumahnya atau dari kosannya.”

Optimisme Generasi Emas 2045

Sesi dialog interaktif berlangsung dinamis saat mahasiswa menyampaikan sejumlah pertanyaan kritis seputar penegakan hukum, keadilan sosial, serta kepemimpinan beretika dalam pusaran politik praktis. Menanggapi diskursus tersebut, Saan menegaskan bahwa dialektika antara pengalaman empirik para praktisi dan idealisme kritis mahasiswa menjadi prasyarat lahirnya tata kelola negara yang bersih.

Menutup sesinya, Saan mengapresiasi antusiasme dan daya kritis mahasiswa yang menjadi modal utama menyongsong masa depan bangsa.

“Menjawab pertanyaan dan diskursus kritis adik-adik sekalian seputar keadilan, kepemimpinan, etika politik, penegakan hukum, serta pengalaman empirik di lapangan—saya optimis dan yakin bahwa Indonesia Emas 2045 akan mampu terwujud. Hal ini karena fondasi generasi emas itu nyata terlihat hari ini dari antusiasme kritis mahasiswa yang sangat luar biasa,” tegasnya.

“Sekali lagi terima kasih kepada Pak Rektor dan seluruh sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Pak Dekan beserta jajaran, atas kesempatannya hadir di kampus ini, serta kepada para mahasiswa-mahasiswi atas diskursus yang sangat bermakna,” pungkasnya.

Kuliah umum ini menegaskan kembali peran strategis perguruan tinggi Islam, khususnya Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tidak hanya sebagai menara gading keilmuan, melainkan juga sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter kepemimpinan nasional.

Pertemuan gagasan antara regulator dan sivitas akademika ini membuktikan bahwa integrasi antara landasan teoritis-konstitusional di ruang kelas dengan dinamika empirik di parlemen merupakan kunci dalam mengawal transformasi politik dan supremasi hukum. Lebih dari sekadar agenda seremonial, forum ini menjadi ikhtiar nyata kampus dalam mencetak sarjana hukum yang berintegritas, melek realitas politik, serta siap menjadi pilar generasi emas penopang Indonesia 2045.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *