Satu Perjalanan, Dua Panggung: dari Presentasi Akademik Berubah Jadi Pertunjukan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebuah presentasi ilmiah tidak selalu harus berakhir pada slide terakhir. Ia dapat bergerak lebih jauh, menjadi suara, musik, emosi, bahkan pertunjukan.

Semangat itulah yang dibawa empat akademisi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus praktisi public speaking, Dr. Dedi Sulaeman, M.Hum., Anugrah Imani, Ph.D., M. Aminuddin, Ph.D., dan Dr. Dyah Rahmi Astuti, M.Si., CRP, dalam sebuah perjalanan akademik yang berlangsung di dua panggung.

Mengusung gagasan “Transforming from Presenting to Performing”, keempatnya mengubah ruang akademik menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, bahasa, komunikasi, psikologi, sastra, dan musik.

Perjalanan itu bermula dari panggung Kalijaga International Conference on Education (KICE), Selasa (15/9/2026). Di forum internasional ini, keempatnya tidak sekadar menyampaikan makalah, tetapi memperagakan secara langsung gagasan yang mereka tawarkan: presenting can be transformed into performing.

Panggung pertama dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: words.

Dari Grammar hingga Makna yang Hidup
M. Aminuddin, Ph.D. membuka pembahasan melalui perspektif linguistik. Words ditelusuri dari pemahaman dalam grammar tradisional hingga perspektif Systemic Functional Linguistics (SFL). Kata tidak hanya ditempatkan sebagai unsur bahasa yang memiliki bentuk dan fungsi gramatikal, tetapi sebagai bagian dari sistem makna yang bekerja dalam konteks sosial.

Dari linguistik, pembahasan kemudian bergerak menuju komunikasi. Dr. Dyah Rahmi Astuti, M.Si., CRP., yang merupakan pakar komunikasi sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, membawa audiens melihat words sebagai instrumen komunikasi yang memiliki kekuatan luar biasa. Kata bukan sekadar apa yang diucapkan, melainkan bagaimana ia disampaikan, kepada siapa ia diarahkan, dalam konteks apa ia digunakan, dan bagaimana ia membentuk pemahaman antara manusia.

Perjalanan makna kemudian memasuki wilayah psikologi melalui paparan Anugrah Imani, Ph.D. Dengan mengajak audiens melihat bahwa words tidak berhenti sebagai kumpulan huruf yang memiliki makna linguistik. Sebuah kata dapat membawa asosiasi, pengalaman masa lalu, kenangan, emosi, dan memori yang sangat personal.

Satu kata yang bagi seseorang terdengar biasa, dapat menjadi kata yang sangat bermakna bagi orang lain karena memiliki sejarah psikologis yang berbeda.

Dengan demikian, kata bukan hanya sesuatu yang kita baca atau dengar. Kata merupakan sesuatu yang kita rasakan dan ingat. Dan di titik itulah panggung akademik mulai berubah menjadi panggung pertunjukan.

“More Than Words”
Bagian akhir sesi menjadi momen yang mempertemukan bahasa, rasa, dan musik. Dr. Dedi Sulaeman, M.Hum. membawa pembahasan words ke wilayah yang lebih luas bahwa kata dapat menjadi lebih dari sekadar struktur bahasa dan bahkan lebih dari sekadar pembawa rasa. Kata dapat hidup melalui suara, musik, pengalaman, dan performa.

Gagasan itu kemudian tidak hanya dijelaskan, tetapi dipertunjukkan. Dedi menutup sesi dengan membawakan lagu “More Than Words” karya Extreme. Lagu ini menjadi semacam metafora sekaligus penegasan terhadap keseluruhan gagasan yang dibangun sejak awal: bahwa komunikasi manusia tidak selalu selesai pada kata-kata.

Pada momen itu, audiens tidak lagi hanya mendengarkan pemakalah. Mereka menyaksikan bagaimana sebuah konsep akademik menjelma menjadi pengalaman. Inilah esensi Transforming from Presenting to Performing.

Panggung Kedua: Ketika Akademisi Kembali Menjadi Performer
Perjalanan tidak berhenti di KICE. Keempat akademisi itu mendapat undangan dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga untuk mengisi kegiatan guest lecturer. Jika panggung pertama memperkenalkan gagasan presenting to performing, panggung kedua menjadi ruang untuk membuktikannya secara lebih leluasa.

Kali ini, panggung dibuka oleh Anugrah Imani, Ph.D. Dengan penuh sukacita, Anugrah membawakan lagu “Kita” karya Sheila on 7. Musik menjadi pintu masuk yang sederhana tetapi kuat untuk menciptakan suasana yang lebih cair. Audiens yang semula berada dalam posisi sebagai peserta kuliah perlahan berubah menjadi bagian dari sebuah pertunjukan.

Setelah suasana menjadi lebih terbuka dan hangat, M. Aminuddin, Ph.D. dan Dr. Dedi Sulaeman, M.Hum. membawa audiens kembali memasuki wilayah akademik melalui materi linguistik dan sastra modern.

Namun kali ini, ilmu tidak hadir sebagai sesuatu yang berjarak. Ia disampaikan melalui dialog, ekspresi, cerita, humor, suara, dan performa. Batas antara ruang kuliah dan ruang pertunjukan menjadi semakin tipis.

Pesan-pesan akademik kemudian diperkaya dengan motivasi, mengajak peserta untuk tidak hanya memahami ilmu, tetapi berani mengartikulasikan gagasan, menemukan suara personal, dan membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

Panggung Pun Berubah Menjadi Ruang Emosi
Puncak sesi guest lecturer hadir ketika Dr. Dyah Rahmi Astuti, M.Si., CRP. mengambil mikrofon. Ia membawakan “Bunda” karya Melly Goeslaw.

Jika sebelumnya kata dibahas sebagai konsep linguistik, psikologis, dan komunikasi, kali ini kata dan suara bekerja langsung pada ruang emosi.

Lagu tentang ibu tersebut menghadirkan suasana yang berbeda. Peserta yang sebelumnya aktif mengikuti materi tiba-tiba larut dalam keheningan dan penghayatan. Beberapa di antaranya bahkan tak kuasa menahan air mata.

Pada titik inilah, musik tidak lagi sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi komunikasi yang melampaui kata-kata.

Dari Presentasi Menuju Pengalaman
Dua panggung tersebut pada akhirnya membentuk satu perjalanan yang utuh.
Pada panggung pertama, mereka memperkenalkan gagasan bahwa presentasi dapat ditransformasikan menjadi performance.

Pada panggung kedua, gagasan itu memperoleh bentuk yang lebih nyata: lagu membuka ruang emosi, ilmu membuka ruang pemikiran, dan performa membuka ruang keterlibatan.

Empat akademisi itu menunjukkan bahwa dunia akademik tidak harus selalu dibatasi oleh teks, slide, podium, dan terminologi ilmiah. Ilmu dapat dibicarakan, tetapi dapat dimainkan; dapat dijelaskan, tetapi dapat dirasakan.

Perjalanan dari grammar ke komunikasi, dari komunikasi ke psikologi, dari psikologi menuju sastra dan musik, akhirnya membawa satu pesan penting: words are never merely words.

Satu perjalanan. Dua panggung. Empat akademisi. Dan satu keyakinan bahwa ilmu akan menjadi lebih hidup ketika tidak hanya dipresentasikan, tetapi dipertunjukkan.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *