UINSGD.AC.ID (Humas) — Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menilai perguruan tinggi keagamaan memiliki peran penting dalam mempertemukan kajian agama dengan persoalan kemanusiaan. Salah satunya melalui pengembangan studi antaragama yang dapat memperkuat upaya membangun perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.
Menag mengatakan, kajian keagamaan di perguruan tinggi perlu terus berkembang mengikuti kompleksitas kehidupan masyarakat. Interaksi antarkelompok agama, perubahan sosial, hingga berbagai persoalan kemanusiaan membutuhkan pendekatan keilmuan yang mampu menjembatani perbedaan.
“Studi antaragama, pembangunan perdamaian, dan literasi keagamaan menjadi bidang yang sangat penting untuk kita kembangkan,” ujar Menag di Gedong Bodas Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ahad (23/8/2026).
Pengembangan kajian tersebut penting agar perguruan tinggi keagamaan tidak hanya menghasilkan pengetahuan tentang agama, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap kehidupan bersama. Terlebih, masyarakat saat ini hidup dalam ruang yang semakin terbuka dan mempertemukan beragam identitas, keyakinan, serta cara pandang.
Perspektif ini menjadi perhatian Dekan Magister Studi Antaragama, Hartford International University for Religion and Peace, Deena Grant. Dalam paparannya, Deena menjelaskan bahwa studi antaragama berangkat dari realitas bahwa kehidupan beragama tidak berlangsung dalam ruang yang terisolasi.
Studi antaragama memadukan beragam disiplin, mulai dari studi agama, teologi, sejarah, antropologi, sosiologi, hingga studi perdamaian dan konflik. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami bagaimana orang-orang dari latar belakang agama berbeda bertemu, berinteraksi, dan membangun hubungan satu sama lain.
Dalam pendekatan tersebut, memahami orang lain tidak sama dengan menyetujui seluruh pandangannya. Perbedaan tetap memiliki tempat, tetapi tidak semestinya menjadi alasan untuk menghentikan komunikasi dan hubungan antarsesama.
Menjaga relasi di tengah perbedaan justru menjadi tantangan dalam studi antaragama. Ketika perbedaan pandangan menimbulkan ketidaknyamanan, ruang perjumpaan dan komunikasi tetap diperlukan agar masing-masing pihak dapat mengenal dan memahami satu sama lain.
Proses itu menjadi jalan untuk menumbuhkan pemahaman dan empati. Dari sana, agama dapat mengambil peran sebagai kekuatan yang mendukung perdamaian, bukan justru memperdalam perpecahan.
Menag melihat pengembangan studi antaragama dan pembangunan perdamaian sebagai salah satu bidang yang relevan untuk terus diperkuat di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. “Perguruan tinggi kita harus mampu menghadirkan kajian keagamaan yang menjawab persoalan kemanusiaan dan memberikan kontribusi bagi perdamaian,” pungkasnya.


