UINSGD.AC.ID (Humas) — Bulan Agustus yang tahun ini berjalan seiring dengan pertengahan bulan Safar selalu menghadirkan semangat kebersamaan. Bagi bangsa Indonesia, Agustus merupakan bulan yang sarat dengan ingatan perjuangan, persatuan, pengorbanan, dan kemerdekaan.
Semangat tersebut mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar tidak dibangun oleh satu kelompok, satu golongan, atau satu daerah, melainkan oleh kebersamaan seluruh anak bangsa.
Nilai kebersamaan bahkan dapat kita pelajari melalui berbagai sisi kehidupan, termasuk dunia olahraga. Pertandingan sepak bola mempertemukan dua kesebelasan yang berjuang untuk meraih kemenangan.
Akan tetapi, pertandingan pada akhirnya bukan sekadar persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di dalamnya terdapat pendidikan tentang disiplin, kerja sama, sportivitas, penghormatan terhadap lawan, dan kemampuan menerima hasil dengan lapang dada.
Kemenangan tidak seharusnya melahirkan kesombongan. Kekalahan pun tidak seharusnya berubah menjadi kebencian. Perbedaan dukungan jangan sampai merusak persaudaraan. Fanatisme terhadap kelompok, klub, daerah, maupun identitas apa pun tidak boleh mengalahkan nilai kemanusiaan dan ukhuwah.
Dalam kehidupan berbangsa, pesan itu sangat penting. Kita boleh berbeda pilihan, berbeda daerah, berbeda suku, berbeda organisasi, bahkan berbeda klub sepak bola yang kita cintai. Namun, jangan sampai perbedaan itu memutus persaudaraan dan merusak persatuan. Allah Swt. berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103).
Ayat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam: kekuatan umat terletak pada persatuan. Perbedaan tidak harus melahirkan perpecahan. Keragaman justru dapat menjadi kekuatan apabila dibingkai dengan iman, akhlak, sikap saling menghargai, dan tujuan bersama. Rasulullah Saw. juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang satu bagian menguatkan bagian lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menggambarkan kehidupan orang beriman seperti sebuah bangunan. Sebuah bangunan akan berdiri kokoh apabila setiap bagiannya saling menopang. Sebaliknya, apabila satu bagian merusak bagian lainnya, bangunan itu akan kehilangan kekuatannya.
Oleh karena itu, dalam momentum Safar dan bulan kemerdekaan ini, marilah kita renungkan empat ikhtiar penting dalam menjaga persaudaraan dan memperkuat persatuan bangsa:
Pertama, Menjaga Persaudaraan sebagai Perintah Keimanan.
Islam menempatkan persaudaraan sebagai bagian penting dari kehidupan orang beriman. Persaudaraan bukan sekadar hubungan emosional, tetapi ikatan keimanan yang melahirkan tanggung jawab untuk saling menjaga, menolong, mengingatkan, dan mendoakan. Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika terjadi perselisihan, tugas seorang Muslim bukan memperkeruh keadaan, bukan menyebarkan kebencian, bukan pula memperbesar perbedaan. Tugas kita adalah menjadi bagian dari perdamaian.
Di zaman media sosial, menjaga persaudaraan semakin penting. Satu kalimat yang tidak terjaga dapat melukai banyak orang. Satu informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan fitnah. Satu komentar penuh kebencian dapat memicu pertengkaran yang panjang.
Karena itu, menjaga ukhuwah pada masa sekarang juga berarti menjaga lisan, tulisan, unggahan, komentar, dan berbagai bentuk komunikasi kita. Jangan sampai tangan yang seharusnya digunakan untuk kebaikan justru menjadi alat menyebarkan permusuhan.
Kedua, Menghargai Perbedaan sebagai Kekayaan Bangsa.
Indonesia adalah anugerah Allah yang dibangun di atas keberagaman. Kita memiliki ribuan pulau, beragam suku, bahasa, adat, budaya, dan tradisi. Perbedaan itu bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan kekayaan yang harus disyukuri dan dijaga. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman merupakan sunnatullah. Tujuannya adalah lita‘ārafū—agar manusia saling mengenal, memahami, menghargai, dan bekerja sama. Dalam pertandingan olahraga, kita mungkin mengenakan warna berbeda dan meneriakkan dukungan kepada kesebelasan yang berbeda. Tetapi setelah pertandingan berakhir, kita tetaplah saudara sebangsa.
Demikian pula dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan jangan diubah menjadi alasan permusuhan. Kita harus belajar berbeda tanpa membenci, bersaing tanpa mencaci, menang tanpa merendahkan, dan kalah tanpa kehilangan persaudaraan. Itulah kedewasaan yang dibutuhkan bangsa Indonesia.
Ketiga, Bergandeng Tangan Membangun Negeri.
Persaudaraan tidak cukup berhenti pada ucapan. Persaudaraan harus melahirkan kerja sama dan kemanfaatan. Allah Swt. berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Bangsa ini tidak mungkin dibangun sendirian. Ulama membutuhkan umara, pemerintah membutuhkan masyarakat, guru membutuhkan orang tua, generasi tua membutuhkan generasi muda, dan kelompok yang satu membutuhkan kelompok lainnya.
Semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa harus terus dipelihara. Membangun Indonesia dapat dimulai dari lingkungan terdekat: menjaga kebersihan, membantu tetangga, mendidik anak dengan baik, menghormati guru dan orang tua, bekerja dengan jujur, menunaikan amanah, menjaga fasilitas umum, serta tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam perspektif kohesi sosial, masyarakat akan berkembang apabila memiliki rasa saling percaya, saling menghargai, rasa memiliki, serta semangat bekerja sama. Persaudaraan yang kuat akan melahirkan stabilitas sosial, memperkokoh persatuan, dan mempercepat terwujudnya masyarakat yang maju dan harmonis.
Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, kebencian berkembang, dan setiap kelompok hanya memikirkan kepentingannya sendiri, kekuatan masyarakat akan melemah. Karena itu, persaudaraan sesungguhnya merupakan modal sosial sekaligus modal spiritual dalam membangun negeri.
Keempat, Menghadirkan Indonesia yang Damai, Maju, dan Penuh Keberkahan.
Tujuan akhir dari persaudaraan bukan sekadar agar kita tidak bertengkar. Lebih jauh daripada itu, persaudaraan harus menjadi energi untuk menghadirkan kehidupan yang damai, adil, maju, beradab, dan penuh keberkahan. Allah Swt. menggambarkan sebuah negeri yang ideal dengan ungkapan:
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’ [34]: 15).
Negeri yang baik tidak lahir hanya dari pembangunan fisik. Jalan yang lebar, gedung yang tinggi, teknologi yang maju, dan ekonomi yang tumbuh memang penting. Akan tetapi, semuanya harus ditopang oleh pembangunan manusia yang beriman, berakhlak, jujur, toleran, amanah, serta mampu hidup berdampingan dengan sesama.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita memperbarui makna kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga membebaskan diri dari kebencian, permusuhan, kesombongan, fanatisme berlebihan, berita bohong, dan berbagai perilaku yang dapat memecah belah bangsa. Cinta kepada Indonesia hendaknya diwujudkan dengan menjaga kedamaian, merawat persatuan, memperkuat persaudaraan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Dari empat pesan tersebut kita memperoleh pelajaran bahwa menjaga persaudaraan berarti menjaga kekuatan umat dan bangsa. Menghargai perbedaan berarti mensyukuri sunnatullah. Bergandeng tangan berarti mengubah persaudaraan menjadi kekuatan pembangunan. Sedangkan menghadirkan kedamaian berarti mengantarkan negeri menuju keberkahan Allah Swt.
Mari kita jadikan momentum 23 Safar 1448 H dan bulan kemerdekaan ini sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Mari kita jaga keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat kita, dan Indonesia tercinta dengan iman dan persaudaraan.
Berbeda bukan berarti bermusuhan. Bersaing bukan berarti saling menjatuhkan. Menang tidak harus merendahkan. Kalah tidak harus melahirkan kebencian.
Karena di atas segala perbedaan, kita tetap bersaudara dan bersama-sama memiliki tanggung jawab menjaga Indonesia. Semoga Allah Swt. menjadikan negeri kita negeri yang aman, damai, maju, adil, berkeadaban, serta senantiasa berada dalam limpahan rahmat dan keberkahan-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

