UINSGD.AC.ID (Humas) –Sarjana studi Islam terkenal Profesor John L. Esposito telah meninggal dunia pada Rabu (15/7/2026) usia 86 tahun.
Kabar wafatnya disampaikan oleh Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat lamanya sekaligus pendiri Sound Vision Foundation dan mantan Ketua Parliament of the World’s Religions.
Menurut Mujahid, Jean Esposito, istri almarhum, mengonfirmasi bahwa Esposito meninggal dunia pada pukul 14.00 waktu setempat akibat komplikasi setelah menjalani prosedur pemasangan stent beberapa hari sebelumnya.
Profesor Esposito adalah salah satu cendekiawan Islam dan studi Islam paling berpengaruh di dunia. Sebagai seorang akademisi Amerika di Universitas Georgetown, ia mengabdikan lebih dari lima dekade untuk mempelajari Islam, masyarakat Muslim, dan hubungan Muslim-Barat.
Esposito memberikan kontribusi yang signifikan terhadap studi akademis Islam melalui berbagai buku, ensiklopedia, dan proyek penelitiannya. Karya utamanya, termasuk The Oxford Dictionary of Islam, The Oxford History of Islam, dan Islam: The Straight Path, menjadi referensi standar bagi pelajar dan cendekiawan di seluruh dunia.
Sebagai direktur pendiri Pusat Pemahaman Muslim-Kristen Universitas Georgetown, ia membantu menjadikan studi Islam sebagai bidang penelitian akademis yang penting.
Sepanjang karirnya, Esposito menekankan keberagaman masyarakat Muslim dan menantang stereotip tentang Islam dan Muslim. Keilmuannya mengeksplorasi topik-topik seperti sejarah Islam, Islam politik, demokrasi, dan hubungan antaragama, menjadikan isu-isu kompleks dapat diakses oleh kalangan akademis dan umum.
Saya pernah korespondensi dengan beliau melalui email tahun 2000 ketika minta izin utk mengambil dan menerjemahkan tulisannya tentang Islam dalam buku saya Asia Tenggara dan Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam (2003).
Ketika menulis beberapa makalah tentang hubungan Islam-Barat, John L. Esposito adalah nama yang hampir selalu saya kutip karena simpatinya dia pada dunia Islam seperti dalam bukunya Voices of Islamic Resurgence (1983) atau Islamic Threat (1992) dll.
Kalau kita mencari orientalis yang bersuara simpatik pada dunia Islam dan banyak meluruskan salah paham Barat atas Islam, Esposito adalah tokohnya yang menonjol.
Ada kabar yang menyatakan dia telah masuk Islam dibimbing oleh Hamzah Yusuf, tapi belum ada berita resmi yang memberitakan mualafnya Prof. Esposito. Semoga Allah SWT merahmatinya.
Saya teringat pernah menyaksikan sebuah video wawancara Prof. John Esposito dengan seorang jurnalis di depan sebuah cafe di Amerika Serikat sekitar tahun 2015an tentang Islam dan dunia Islam. Ada satu pertanyaan dan jawaban yang saya tak pernah lupa dari seorang Esposito.
Jurnalis: “Perempuan-perempuan Islam memakai hijab di ruang publik dan menuntut pelaksanaan syariat Islam dalam politik modern. Apakah Anda melihat itu sebagai penonjolan identitas eksklusif dalam kehidupan publik? Dan fenomena tuntutan syariat Islam apakah itu hanya hasrat kekuasaan sekelompok elit Muslim sebagai intoleransi politik dalam keragaman yang mengancam demokrasi?”
Prof. Esposito: “Kita sebagai orang Barat mengatakannya begitu, tapi bagi Muslim itu adalah bentuk komitmen keagamaan mereka. Di masyarakat Muslim, seseorang tidak dipandang sebagai Muslim baik bila tidak memiliki komitmen keislamannya. Memakai hijab bagi perempuan adalah adalah tuntutan ajaran agamanya. Pelaksanaan syari’at Islam, sebagian politisi ada yang menyalahgunakan untuk meraih simpati, tapi aspirasi itu adalah tuntutan identitas politik mereka. Bagaimana kita akan menyalahkannya? Dan itu bukan bentuk penegasian atas demokrasi karena tidak semua negara Muslim menolak demokrasi, tapi bentuk keyakinan bahwa mereka memiliki sistem politiknya sendiri yang mereka yakini lebih baik dari demokrasi. Maka, politik Islam dan demokrasi akan terus berhadapan. Disini saya kira, Barat harus paham tentang Islam, perlu dibangun religious understanding antara Barat dan Islam untuk menghindari kecurigaan yang kurang beralasan.”
Oleh jawaban itu, saya terpuaskan. Esposito telah memberikan jawaban simpatik atas dunia Islam dan telah menjadi jembatan dialog Islam-Barat sebagaimana yang diperankannya selama ini.
Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

