UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam kitab Miftahul Falah, Ibnu Atthaillah As-Sakandari menyebut ada tiga jenis dzikir yaitu pertama, dzikir jalli atau dzahar, yaitu dzikir yang jelas dilafalkan dengan keluarnya suara dari kalimat yang dibaca. Biasanya dzikir ini dilakukan dalam rangka proses pembiasaan agar terjadi sinkronisasi antara lisan dan hati.
Kedua, dzikir khafi yaitu dzikir samar-samar dalam hati sehingga nyaris tidak diketahui oleh orang lain bahwa dirinya sedang berdzikir. Ketiga, dzikir hakiki yaitu dzikir yang sesungguhnya secara otomatis seluruh aktivitasnya terjaga, selalu berdzikir mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan sehingga senantiasa terpelihara untuk melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT (taqwa).
Dzikir bermakna mengingat Allah SWT dari segala karunia dan nikmat yang telah diberikan sehingga tumbuh kesadaran bahwa misi utama manusia yaitu beribadah atau menghamba hanya kepada Allah SWT kemudian menjadi khalifah fil ard, atau pemimpin yang memakmurkan bumi.
Kesadaran pada misi utama ini merupakan titik tolak dalam membangun peradaban sebagaimana dicontohkan para nabi dan rasul di Mekkah, Madinah dan Palestina. Seluruh rukun Islam mulai syahadat sampai haji memiliki dimensi yang menuntut kesadaran bahwa keterhubungan ruhani antara manusia dan Allah perlu dirawat agar tidak lupa diri (lalai).
Islam hadir sebagai peringatan untuk membangun dan memelihara kesadaran manusia agar tidak lalai. Dalam Al-Qur an, lalai disebut dengan kalimat ghafil sebagaimana dalam firman Allah: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ya siin, Demi Al-Qur an yang penuh hikmah, sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus,agar engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai”. (Q.S. Yāsīn [36]:1-6).
Menurut teori Psikoanalisis Sigmund Freud, kesadaran memiliki tiga level, pertama alam sadar pada kondisi apa yang dipikirkan saat ini, kedua prasadar memori yang mudah diakses (diingat), ketiga alam tak sadar seperti insting dan trauma.
Kesadaran yang dibangun dan terpelihara dari kehadiran pikiran sehat dan tindakan baik dan benar dipastikan butuh tuntunan yaitu dengan mengingat (dzikir). Sebaliknya jika abai pada proses mengingat, maka akan terdegradasi kembali jatuh pada level tidak sadar.
Akhirnya ada diantara dua pilihan yaitu trauma, enggan berbuat sesuatu lagi atau tidak sadar mengikuti insting nya menjadi seperti binatang.
Firman Allah: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah/ lalai”. (Q.S. Al-A’raf [7]: 179).
Haji dan umrah sebagai puncak ibadah seyogianya tidak diposisikan dari sudut pandang peristiwa ekonomi atau bisnis, tetapi perjalanan suci untuk memelihara kesadaran manusia agar menjadi sejatinya manusia yang dekat dengan Allah, sehingga hidupnya penuh dengan cinta pada semesta alam. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Wasekjen Perkumpulan Ahli Manajemen Haji dan Umrah.
Sumber Pikiran Rakyat 14 Juli 2026.

