Bahas STEM Inklusif dan Astronomi Islam
UINSGD.AC.ID (Humas) — Menyambut hadirnya Generasi Beta yang tumbuh di era kecerdasan buatan, transformasi digital, dan kolaborasi lintas disiplin, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar The International Seminar on STEM Education: COSMOS & CLASSROOM: Advancing Inclusive STEM and Islamic Astronomy Education di Aula Lantai 2 Gedung F FTK, Selasa (23/6/2026).
Seminar internasional ini menjadi ruang penguatan pendidikan STEM yang inklusif melalui integrasi sains modern dan astronomi Islam untuk mempersiapkan calon pendidik yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan masa depan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Dadan Rusmana, M.Ag., didampingi Wakil Dekan I FTK Dr. Irawan, M.Hum., serta Wakil Dekan II Prof. Dr. H. Hariman Surya Siregar, M.Ag. Seminar diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan praktisi pendidikan.

Dalam keynote speech-nya, Prof. Dadan Rusmana menegaskan bahwa pendidikan STEM tidak boleh berhenti pada penguasaan sains dan teknologi semata, tetapi harus dibangun secara inklusif, kontekstual, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Tema COSMOS dan Classroom sangat relevan. Kita ingin mahasiswa dan dosen mampu menghubungkan sains modern dengan khazanah keilmuan Islam, khususnya astronomi Islam. Selain itu, ekosistem STEM perlu mengarusutamakan nilai-nilai inklusivitas dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Wakil Dekan I FTK, Dr. Irawan, M.Hum., menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari penguatan kurikulum FTK berbasis integrasi sains dan Islam. “FTK berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran kosmologi Islam. STEM bukan hanya milik program studi MIPA, melainkan harus terintegrasi dengan seluruh jurusan, termasuk program studi keagamaan,” tuturnya.
Usai pembukaan, seminar menghadirkan dua narasumber yang membahas inovasi pendidikan STEM dari perspektif internasional dan nasional.

Narasumber pertama, Assoc. Prof. Dr. Nor Asniza Ishak dari Universiti Sains Malaysia (USM), membawakan materi bertajuk “Democratising STEM for Humanity: A Transdisciplinary Framework Integrating Science, Language, Islamic Values, and Sustainability.” Dengan menekankan bahwa STEM merupakan sebuah pedagogi, pola pikir, dan budaya kolaboratif yang harus dirancang secara inklusif sejak awal.
“STEM yang inklusif dimulai dari desain pembelajaran. STEM bukan sekadar mencetak ilmuwan, melainkan sebuah pedagogi, pola pikir, pendekatan pemecahan masalah, sekaligus budaya kolaboratif. Karena itu, setiap pendidik dapat mengembangkan kompetensi STEM melalui kolaborasi lintas disiplin,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Nor Asniza memperkenalkan ITS-H (Integrated Transdisciplinary STEM-Humanity) Framework yang terdiri atas tiga komponen utama. Pertama, Input, yakni menganalisis berbagai persoalan dan tantangan pembelajaran, baik pada bidang sains maupun keagamaan. Kedua, Collaborative STEM Inquiry, yaitu mengintegrasikan STEM dengan kurikulum, nilai-nilai Islam, inovasi digital, dan kepedulian sosial. Ketiga, Output, berupa pengembangan kompetensi peserta didik yang kritis, kreatif, komunikatif, beretika, memiliki kepemimpinan, menguasai inovasi digital, serta berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan materi “Integrating Islamic Astronomy into STEM Curriculum: From Falak to Physics.” Ia menunjukkan bahwa konsep-konsep astronomi Islam, seperti hisab-rukyat, penentuan arah kiblat, kalender Hijriah, hingga tata surya, dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Fisika dan Matematika sehingga lebih kontekstual dan bermakna.

“Astronomi Islam bukan hanya warisan sejarah. Konsep waktu salat, kalender Hijriah, dan arah kiblat merupakan contoh nyata penerapan STEM dalam konteks keislaman yang sangat aplikatif untuk pembelajaran di kelas,” ungkapnya.
Seminar ditutup dengan sesi diskusi yang berlangsung interaktif, dilanjutkan dengan foto bersama seluruh narasumber dan peserta. Dengan adanya kegiatan ini, FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap dapat melahirkan calon guru yang mampu mengembangkan pembelajaran STEM yang inovatif, menjadikan langit sebagai ruang belajar, serta keberagaman sebagai kekuatan dalam proses pendidikan.
Ke depan, seminar internasional ini ditargetkan menjadi agenda tahunan untuk memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong inovasi pembelajaran STEM yang memberikan dampak positif bagi madrasah, sekolah, dan dunia pendidikan Indonesia dalam menyiapkan Generasi Beta.
