Jejak Sheva : Didengar Tanpa Suara, dan Terus Mengudara

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di balik Gerakan tangannya, tersimpan jutaan harapan. Pagi itu, Sheva menyambut hari dengan penuh kehangatan, menyapa Bandung dengan penuh keceriaan. Ia menyiapkan diri menghadapi hari dengan caranya sendiri melalui gerak bibir, membaca ekspresi, dan menyesuaikan langkah.

Bagi Sheva, setiap hari adalah proses belajar beradaptasi di dunia yang berjalan dengan iramanya sendiri.

“Aku asli Bandung, dan aku suka menghitung,” begitulah kata-kata yang ia ucapkan dengan bangga melalui gerakan kedua tangannya, seutas kalimat yang merepresentasikan dirinya.

Muhammad Sheva Aidan Irawan, itu nama lengkapnya. Sosok laki-laki yang tumbuh di tanah Bandung, hidup bersama keindahan Kota Kembang yang tak terhitung. Melalui nikmatnya hidup di Kota Perjuangan, ia berjalan beriringan dengan perjuangan hidupnya menuju mimpi yang ia harapkan. Hidup menjadi mahasiswa semester lima ternyata membuat matanya semakin terbuka, bahwa ada sisi lain dari kehidupan yang belum terungkap.

“Aku mahasiswa semester enam, jurusan Pendidikan Matematika di UIN Sunan Gunung Djati Bandung,” ungkapnya melalui bahasa isyarat, Kamis (11/6/2026).

“Orang ngira kalo aku pintar karena masuk jurusan ini. Padahal, aku salah jurusan!” tambahnya sambil terkekeh.

Sheva, begitu nama panggilannya, bercerita tentang kisahnya terjun ke dunia Pendidikan. “Jujur, sebenernya aku gak mau ada di sini. Dari kecil, aku suka menghitung dan aku mau masuk jurusan Matematika Murni,” ungkap laki-laki asal Rancaekek tersebut.

“Tapi orangtuaku mau aku masuk Pendidikan, katanya biar jadi guru. Yaudah deh, aku ngalah dan masuk jurusan Pendidikan Matematika. Jadi, baik aku dan orangtuaku sama-sama mewujudkan keinginan masing-masing,” tambahnya.

Menurut Sheva, saat ia masuk ke dunia perkuliahan, ia beradaptasi lagi dan lagi. Hidup di lingkungan sekolah umum membuatnya terkejut saat masuk ke lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), “Aku banyak adaptasi waktu awal kuliah.”

Terbiasa hidup di lingkungan teman dengar, membuatnya ingin menjelajah dunia baru. Ia ingin hidup di lingkungan teman tuli, merasakan indahnya ekspresi mereka yang begitu tulus.

“Aku mulai bergaul sama temen-temen tuli waktu awal kuliah. Jadi, selain adaptasi pembelajaran kuliah, akupun adaptasi juga dengan lingkungan pertemananku yang baru.”

Setelah beberapa saat menyandang status sebagai Mahasiswa Pendidikan, ia mulai menemukan “harta karun” yang dimaksud orangtuanya. Ia menyadari bahwa ada sisi lain dari keindahan Bandung.

Ternyata masih banyak teman-teman tuli yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak. “Awalnya orangtuaku mau aku masuk pendidikan biar jadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB), tapi aku tetep mau masuk Matematika karena hobiku yang suka menghitung. Dari jurusan kuliah ini aku baru tahu, banyak sekali teman-teman tuli yang belum mengerti Matematika. Padahal, Matematika itu berguna banget tau di kehidupan sehari-hari!”

Seiring berjalannya waktu, ia terus belajar dan belajar. Bukan sekedar belajar rumus, tapi belajar memahami sisi lain kehidupan yang sering ditinggalkan, memahami setiap sudut kota yang menyimpan senyum tulus. Ia mulai aktif di komunitas tuli, ikut berorganisasi sambil menebarkan manfaat untuk umat. Ia mulai meyakinkan banyak orang bahwa tuli bukan berarti tidak peduli.

“Bercengkerama gak harus lewat kata, tapi bisa melalui gerakan tangan dan tatapan mata yang menyimpan sejuta makna.”

Sheva mulai merasakan dunia baru. Ia mulai menyadari bahwa masih banyak teman-teman tuli yang belum bebas berekspresi. “Kami ingin sekali berkontribusi untuk negeri ini. Namun, kami terhalang akses komunikasi. Jadi, aku mulai mengajar menjadi Guru Bahasa Isyarat di Pusbisindo Jawa Barat, supaya teman-teman dengar bisa berkomunikasi dengan kami,” ungkapnya, dengan serangkaian rencana besar yang hadir di balik niat tulus tersebut.

Selain aktif di komunitas tuli, juga berkegiatan di Kampus. Menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himatika), Brand Ambassador UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan menjadi Duta Keterbukaan Informasi Publik UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan meraih kategori Program Inovatif. Misinya tetap sama, ingin menyuarakan bahwa teman tuli dan teman dengar itu setara, “Tuli terkenal sebagai disabilitas yang bodoh. Kami tidak mau disebut bodoh, hanya saja informasi tidak terdengar.”

Sheva semakin yakin, kalau ia bisa mengubah cara pandang orang lain terhadap teman tuli.

Ia terus berusaha mendobrak budaya masyarakat yang masih memandang teman tuli sebelah mata.

“Dari kecil aku sering merasa sendiri. Tapi aku terus berusaha untuk belajar dan tetap berkomunikasi meskipun terbatas. Aku sering bingung dengan diriku sendiri, tapi aku harus bangkit. Aku harus membuka gerbang untuk teman-teman tuli yang lain, agar mereka merasa aman dan nyaman saat berkomunikasi.”

Sheva ingin fasilitas untuk disabilitas semakin diperluas, baik itu fasilitas umum, hingga fasilitas di kampus. “Aku ingin teman tuli merasa dihargai dengan fasilitas yang semakin memadai karena kami sering kesulitan dalam belajar hal baru. Meskipun kami tak bisa mendengar, tapi kamipun ingin didengar. Semoga teman-teman tuli bisa menikmati indahnya dunia dengan aman dan nyaman. Kami hanya tak bisa mendengar, bukan terlahir untuk didiskriminasi.”

Di tengah dunia yang terlalu bising untuk benar-benar mendengar, Sheva mengajarkan satu hal sederhana: bahwa makna tidak selalu lahir dari suara.

Kadang, ia hadir dari keteguhan, keberanian, dan kepercayaan pada diri sendiri. Ia berhasil mendobrak budaya masyarakat, bahwa tuli bisa mengudara meskipun tak mampu berekspresi melalui suara. (Cantika Sari / Magang)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *