So What? Mahasiswa, Aktivisme, dan Kebiasaan Melangit

UINSGD.AC.ID (Humas) — Mahasiswa hari ini terlalu sibuk membahas “dunia” sampai lupa menyentuh tanah. Mereka bisa menjelaskan ketimpangan sosial dengan istilah yang rumit, dan njlimet, mengutuk sistem ekonomi global dengan penuh keyakinan, sumpah serapah atas ketimpangan di akar rumput karena kebijakan nasional, tetapi kebingungan ketika diminta menyelesaikan persoalan kecil di sekitarnya sendiri.

Kampus—atau, lebih tepatnya para mahasiswa yang tergabung sebagai para aktivis memenuhi diskusi tentang perubahan, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar berubah. Maka pertanyaannya: so what?

Ada generasi yang sangat pandai mengkritik, namun tidak cukup tahan berkeringat. Mereka fasih bicara tentang kemiskinan sambil menunggu kiriman uang bulanan. Mengutuk kapitalisme lewat postingan-postingan melalui gawai handphone keluaran terbaru hasil cicilan.

Membela rakyat kecil di ruang seminar berpendingin udara, lalu pulang tanpa pernah sungguh mengenal bagaimana rakyat kecil hidup. Ini bukan soal kemunafikan, melainkan keterputusan antara pengetahuan dan tindakan

Kita hidup pada masa ketika kecerdasan sering berhenti sebagai pertunjukan.

Semakin rumit seseorang berbicara, semakin dianggap hebat dia. Padahal hidup tidak bergerak oleh istilah-istilah akademik. Hidup bergerak oleh kerja nyata.

Karl Marx dalam Theses on Feuerbach (1845) pernah bilang bahwa para filsuf itu kerjaannya hanya menafsirkan dunia, padahal yang penting adalah mengubahnya. Celakanya, banyak mahasiswa berhenti pada tahap menafsirkan. Mereka menikmati posisi sebagai orang-orang “kritis”, seolah membongkar masalah sudah sama dengan menyelesaikannya. Padahal tidak.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Sarjana terus bertambah, kampus tumbuh di mana-mana, seminar datang silih berganti, publikasi yang dikapitalisasi pun semakin menjamur di mana-mana. Tetapi kreativitas produktif masih berjalan lambat. Banyak anak muda lebih percaya membuat forum diskusi daripada membangun usaha nyata.

Proposal kegiatan lebih mudah lahir daripada gagasan bisnis yang sederhana tetapi berjalan. Pendidikan kita terlalu lama menghasilkan penonton yang pandai bicara, tetapi ragu mengambil risiko.

Di banyak daerah, termasuk Jawa Barat misalnya, gejala itu agaknya cukup terlihat jelas. Anak muda cepat bereaksi terhadap isu nasional, tetapi lambat membaca peluang di depan mata. Mereka hafal teori kelas, teori politik, teori sosial, teori ekonomi, tetapi belum pernah mencoba menjual sesuatu. Mereka bersemangat membahas ekonomi syariah, tetapi takut memulai usaha kecil karena khawatir gagal.

Mereka ingin perubahan besar, tetapi enggan memulai langkah kecil. Padahal sejarah tidak bisa berubah hanya dengan “niat baik.” Sejarah berubah oleh orang-orang yang bekerja.

Pemerintah sebenarnya sudah membuka cukup banyak ruang. Hilirisasi industri didorong, ekonomi kreatif diperluas, UMKM dipermudah, digitalisasi dipercepat, dan ekosistem halal mulai dibangun lebih serius. Kritik terhadap negara tetap penting, sebab pemerintahan yang anti kritik hanya melahirkan birokrasi yang sibuk memuji dirinya sendiri. Namun kritik yang sehat seharusnya melahirkan partisipasi, bukan sekadar keramaian opini yang riuh rendah. Terlalu banyak orang merasa paling peduli pada bangsa, padahal kontribusinya berhenti menguap di udara. Yang makin mahal hari ini justru akal sehat.

Akal sehat mengajarkan bahwa teori harus menyentuh kenyataan. Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai pajangan intelektual. John Dewey (1938) bilang bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Artinya, pengetahuan seharusnya melatih manusia menghadapi realitas, bukan menjauhkannya dari kenyataan sosial.

Namun kampus sering kali justru menghasilkan jarak itu. Mahasiswa dijejali konsep yang melangit, tetapi minim latihan menghadapi persoalan konkret masyarakat. Akibatnya lahir generasi yang pandai menjelaskan masalah, tetapi gagap ketika diminta mengambil keputusan nyata. Padahal dunia kerja tidak terlalu peduli pada seberapa banyak istilah akademik yang kita kuasai. Dunia hanya bertanya satu hal: apa yang bisa kamu kerjakan?

Karena itu kreativitas menjadi penting. Kreativitas bukan sekadar dimaknai di zaman ini menjadi konten kreator atau membuat slogan motivasi. Kreativitas adalah kemampuan membaca zaman lalu bertindak relevan. Anak muda perlu mulai bertanya: persoalan apa yang bisa saya selesaikan hari ini? Sebab satu usaha kecil yang mampu menggaji tiga orang sering kali lebih berguna daripada seratus seminar tentang pengangguran.

Ada satu hal lain yang diam-diam sudah mulai hilang, yakni empati. Hari ini orang bisa sangat peduli pada isu global, isu lingkungan, isu eksploitasi alam, isu eskalasi perang antar negara adidaya, tetapi tidak mengenal tetangganya sendiri. Sangat marah pada ketidakadilan dunia, tetapi tidak peduli pada pekerja yang setiap hari membersihkan kampusnya.

Empati berubah menjadi kebiasaan latah: sedih seperlunya, unggah seperlunya, lalu selesai. Padahal ekonomi, politik, bahkan agama, pada akhirnya selalu kembali pada manusia: siapa yang bisa makan, siapa yang kehilangan pekerjaan, dan siapa yang tertinggal.

Karena itu ilmu ekonomi dan bisnis khususnya dalam Islam tidak boleh hanya melahirkan lulusan yang cakap menghitung keuntungan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu memadukan akal sehat, kreativitas, dan empati sekaligus. Tiga hal itu tidak bisa dipisahkan. Tanpa akal sehat, ilmu berubah menjadi kesombongan.

Tanpa kreativitas, pengetahuan menjadi mandek. Tanpa empati, keberhasilan hanya melahirkan manusia-manusia dingin.

Para mahasiswa—cum aktivis harus berhenti menjadi pabrikasi komentator kehidupan. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengulas realitas sosial. Mereka harus hadir sebagai pelaku yang berani mengambil risiko, bekerja, gagal, lalu mencoba lagi.

Sebab dunia tidak berubah oleh orang yang paling keras berbicara. Dunia berubah oleh mereka yang bersedia bekerja meski tidak mendapat tepuk tangan. Jika semua teori, diskusi, seminar, dan kemarahan sosial itu tidak pernah berujung pada tindakan nyata, maka pertanyaannya tetap sama sampai kapanpun: lantas apa?

 

Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag  (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN SGD Bandung, Ketua KBNU UIN SGD Bandung)

 

Sumber, Opini Kemenag 4 Juni 2026 | 13:57

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *