UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam perkembangan sosiologi modern dan kritik budaya (critical culture), selebritas, musik, budaya populer dan olahraga, sering dijadikan contoh paling nyata dari gejala yang disebut “secular religion” (agama sekuler) di masyarakat kontemporer.
Dunia selebritas-artisme misalnya. Budaya modern melahirkan apa yang sering disebut “celebrity worship culture,” yaitu kecenderungan memuja figur publik secara emosional dan simbolik. Selebritas bukan hanya dikagumi, tetapi kadang diperlakukan seperti figur sakral: setiap geraknya diikuti, ucapannya dianggap penting, kehidupan pribadinya menjadi objek perhatian massal.
Penggemar membentuk komunitas, memiliki bahasa internal, ritual fandom, hingga solidaritas kolektif yang sangat kuat. Dalam beberapa kasus ekstrem, kritik terhadap idola dapat memicu reaksi emosional layaknya penodaan simbol suci.
Pagelaran grup musik legendaris juga sering dianalisis dengan pendekatan serupa. Konser besar dapat menyerupai pengalaman ritual massal. Ribuan orang berkumpul, menyanyikan lagu yang sama, mengalami ledakan emosi bersama, bahkan merasa “terhubung” secara spiritual dengan sesama penonton maupun idolanya. Sosiolog melihat pengalaman seperti ini sebagai bentuk “collective effervescence,” istilah dari Émile Durkheim untuk menggambarkan luapan energi emosional kolektif yang dahulu banyak ditemukan dalam ritual agama.
The Beatles, The Queen, Michael Jackson dll, persis seperti para dewa. Bahkan, John Lennon berteriak: “Kami lebih tenar di muka bumi ketimbang Yesus!” Yang kemudian menghantarkan kematiannya sendiri. Ia ditembak jarak dekat oleh fans psikopat pendukung fanatiknya.
Budaya populer secara umum juga sering menciptakan “mitologi modern”. Tokoh film, superhero, franchise besar, atau dunia fiksi tertentu dapat menjadi sumber nilai moral, identitas, dan rasa memiliki. Fanbase kadang memiliki perilaku yang menyerupai komunitas religius: ada kanon yang dianggap sah, ada “ajaran” yang dipertahankan, ada konflik antar-kelompok, bahkan ada bentuk pengucilan terhadap orang yang dianggap tidak sejalan.
Demikian pun dengan olahraga. Sepak bola misalnya, bagi banyak orang terutama bagi para penggemarnya bukan sekadar olahraga. Ia bisa menjadi sumber identitas, loyalitas, emosi, bahkan makna hidup. Klub diperlakukan hampir seperti “komunitas iman”. Stadion menjadi semacam ruang ritual kolektif.
Ada nyanyian bersama, simbol suci berupa logo dan warna klub, sejarah heroik, musuh abadi, sampai “martir” dalam bentuk pemain legendaris. Fanatisme suporter kadang melampaui rasionalitas ekonomi maupun logika biasa. Orang rela menghabiskan uang, waktu, tenaga, bahkan berkelahi demi simbol kelompoknya.
Secara sosiologis, pola seperti ini sangat dekat dengan struktur religius atau tradisi agama. Selain klub-klub masyhur di Eropa, Persib Bandung yang jumlah pendukungnya menempati ke-4 terbesar di dunia, telah menyimbolkan agama sekuler di masyarakat suku Sunda dan warga Jawa Barat.
Karena itu, banyak pemikir sosial modern berpendapat bahwa masyarakat sekuler sebenarnya bukan masyarakat tanpa agama, melainkan masyarakat yang memindahkan rasa sakral ke objek-objek baru. Tempat pemujaannya bukan lagi rumah ibadah, tetapi stadion, panggung konser, layar bioskop, media sosial, atau simbol budaya populer. Manusia modern tetap mencari ekstase kolektif, identitas bersama, dan sesuatu yang layak “dipercaya”, hanya bentuk dan medianya yang berubah.
Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung