Fakultas Ushuluddin dan PCRP Dorong Dialog Antaragama sebagai Strategi Pendidikan Perdamaian di Perguruan Tinggi

UINSGD.AC.ID (Humas) — Program Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) menyelenggarakan Mini Workshop Mahasiswa bertema “Dialog Antaragama sebagai Strategi Pendidikan Perdamaian di Perguruan Tinggi” di Aula Lantai IV Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program perjumpaan mahasiswa lintas kampus dan Deklarasi Mahasiswa Lintas Kampus yang sebelumnya digelar di Bogor pada 11 Mei 2026.

Membangun Perdamaian melalui Dialog

Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Dr. R. Yuli Ahmad Hambali, M.Hum., dalam sambutannya menekankan pentingnya perjumpaan dan dialog antar manusia sebagai fondasi membangun perdamaian.

“Manusia bisa menjadi eksis jika manusia itu berjumpa dan berdialog dengan manusia lainnya, bukan sebagai benda,” ujarnya.

Dengan adanya mini workshop ini mahasiswa mampu menyusun pola dan strategi perdamaian yang sesuai dengan konteks sosial yang mereka hadapi.

Kegiatan yang diikuti sekitar 40 mahasiswa Fakultas Ushuluddin ini menghadirkan Direktur PCRP Dr. Budhy Munawar Rachman, analis kegiatan Dr. Ahmad Gaos AF, serta pengurus Jaringan Antariman Indonesia (JAI), Laksamana Madya TNI (Purn.) M. Sunarto. Acara dipandu oleh tim workshop yang terdiri atas Nita Lusaid, Dr. Neng Hanah, Anick HT, dan Nisa.

Kampus Harus Hadir dalam Dialog Antaragama

Ketua Program Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin, Dr. Ilim Abdul Halim, M.A., menegaskan bahwa perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam, memiliki peran strategis dalam membangun dialog antaragama.

“Kampus bisa memberi inisiatif, legitimasi, dan kontrol sosial dalam menyikapi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta kehidupan global,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan Islam dapat berperan dalam transformasi damai karena memiliki basis ilmu pengetahuan modern yang bercorak keagamaan sekaligus empiris. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga seluruh masyarakat, sejalan dengan nilai raḥmatan lil ‘ālamīn.

Pihak jurusan memperkenalkan istilah “Hiber ka Jumantara” yang berarti “terbang ke angkasa” sebagai semangat internasionalisasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia menilai peran global perguruan tinggi harus ditopang oleh kualitas lokal, nasional, dan internasional melalui berbagai ruang dialog.

Delapan Jenis Dialog untuk Transformasi Perdamaian

Direktur PCRP, Dr. Budhy Munawar Rachman, menyampaikan bahwa dialog antaragama harus dilandasi semangat transformasi, belas kasih, dan keimanan. Ia menjelaskan delapan jenis dialog yang relevan dalam membangun perdamaian, yaitu:

1. Dialog kehidupan

2. Dialog karya atau aksi sosial

3. Dialog teologis

4. Dialog pengalaman spiritual

5. Dialog etik global

6. Dialog pembebasan

7. Dialog peradaban

8. Dialog ekologis

Dr. Ahmad Gaos AF, penulis ensiklopedia Nurcholish Madjid, mengingatkan bahwa pada era 1990-an Indonesia memiliki banyak tokoh dialog antaragama seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Johan Effendi, dan Dawam Rahardjo.

“Semua tokoh ini telah memberi pelajaran dialog antaragama kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Dialog dan Kerja Sama dalam Kehidupan Beragam

Laksamana Madya TNI (Purn.) M. Sunarto menekankan pentingnya dialog dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Dengan dialog dan kerja sama dapat menambah wawasan, pengalaman, dan saling membantu,” ungkap mantan Kapuspen TNI tahun 2006 dan Danseskoal tahun 2007 tersebut.

Pengurus JAI lainnya, Harvan Ahmad, MBSY, menambahkan bahwa dialog teologi perlu terus dilakukan untuk memperluas wawasan, baik bagi peserta maupun masyarakat yang menyaksikannya.

Workshop yang berlangsung pukul 10.00 hingga 16.00 WIB itu diakhiri dengan sesi perancangan model dialog antaragama oleh para mahasiswa sesuai konteks kampus masing-masing. Peserta juga berlatih menyusun strategi kampanye dialog yang efektif bagi generasi muda. (Haryadi/Kontributor)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *