UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada semacam “anomali” dalam cara sebagian masyarakat Muslim memandang kemiskinan. Semakin susah hidup seseorang, semakin mudah ia dianggap dekat dengan Tuhan. Rumahnya bocor, penghasilannya tidak cukup, anaknya putus sekolah, tetapi kalimat yang muncul justru: “Yang penting hatinya kaya dan tenang.”
Kalimat ini mungkin lahir dari tradisi sufisme. Dari tradisi “zuhud” semacam itu terdengar menyejukkan, sampai kita sadar bahwa ia sering dipakai untuk menormalisasi keadaan yang seharusnya dapat diubah. Seolah-olah kekurangan adalah tanda kesalehan, dan kesejahteraan adalah gejala awal kerusakan moral. Padahal, tidak ada ayat yang memerintahkan umat Islam untuk memelihara kemiskinan.
Aneh memang. Kita membaca Al-Qur’an yang penuh dengan gambaran tentang kebun, emas, perdagangan, gandum, susu, kurma, kapal, pasar, dan kemakmuran. Tetapi yang diwariskan kepada umat justru rasa curiga terhadap kekayaan.
Surga bahkan digambarkan dengan bahasa kelimpahan material: sungai yang mengalir, buah-buahan yang tidak habis, pakaian indah, tempat tinggal yang nyaman. Tuhan tampaknya tidak punya persoalan dengan kemewahan. Yang dipersoalkan justru keserakahan dan ketidakadilan. Tetapi manusia sering malas membedakan keduanya.
Karl Marx pernah menyebut agama bisa menjadi candu ketika ia dipakai untuk membuat manusia menerima penderitaan tanpa perlawanan. Pernyataan itu terlalu keras jika diarahkan kepada agama itu sendiri, tetapi menjadi relevan saat agama dipakai untuk membungkam akal sehat.
Sebab dalam banyak kasus, kemiskinan tidak lagi dianggap masalah sosial yang harus diselesaikan, melainkan nasib yang harus diterima dengan senyuman. Dari sini kita melihat sesuatu yang berbahaya: masyarakat mulai lebih sibuk menghibur orang miskin daripada menghapus penyebab kemiskinan itu sendiri.
Padahal Nabi Muhammad bukan figur yang tumbuh dalam tradisi anti-kekayaan. Ia pedagang. Ia hidup di kota dagang. Ia menikahi seorang pengusaha. Islam lahir di jalur transaksi, bukan di lereng pertapaan yang memusuhi dunia. Karena itu cukup mengherankan ketika sebagian umat justru memperlakukan uang seolah benda najis yang bisa merusak iman hanya karena disentuh. Kita lupa, yang merusak bukan uangnya, melainkan cara manusia tunduk kepadanya.
Max Weber pernah mengungkapkan bagaimana etika keagamaan dapat membentuk semangat ekonomi masyarakat. Dalam pembacaannya terhadap Protestanisme, kerja keras dianggap bagian dari panggilan moral.
Kita tidak harus sepakat sepenuhnya dengan Weber, tetapi ada satu hal yang patut direnungkan: mengapa sebagian masyarakat maju justru membangun disiplin ekonomi dari keyakinan agamanya, sementara di banyak tempat umat Islam malah terjebak dalam romantisme kekurangan? Jangan-jangan masalah kita bukan pada ajaran Islam, melainkan pada cara malas memahami Islam.
Walhasil, ceramah agama sering menjadi masalah baru. Kemiskinan dipoles menjadi keutamaan spiritual. Orang kaya dicurigai sebelum diperiksa. Pedagang dianggap kurang mulia dibanding pegawai yang hidup dari stempel birokrasi.
Anak muda yang ingin sukses finansial sering dibebani rasa bersalah moral, seakan-akan ambisi ekonomi adalah dosa yang tinggal menunggu waktu untuk meledak. Kita menciptakan generasi yang ingin kaya diam-diam tetapi memuji kemiskinan di depan umum. Itu bukan kebajikan. Itu kemunafikan sosial yang dipelihara bersama.
Lebih ganjil lagi, masyarakat yang memuliakan kemiskinan biasanya tetap tergila-gila pada simbol kemewahan. Lihat bagaimana orang berebut ponsel baru dengan cicilan panjang, memaksakan pesta pernikahan di luar kemampuan, atau rela antre berjam-jam demi potongan harga di pusat perbelanjaan.
Di ruang publik kita mengecam dunia, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita mengejarnya dengan cara yang lebih brutal. Kita membenci orang kaya sambil diam-diam ingin menjadi seperti mereka. Kebencian semacam itu sering lahir bukan dari moralitas, melainkan dari ketidakmampuan.
Pemerintah hari ini sebenarnya sedang mendorong banyak program penguatan ekonomi umat: pembiayaan syariah, bantuan UMKM, digitalisasi pesantren, sampai pengembangan industri halal. Itu langkah penting.
Negara memang harus hadir dalam distribusi kesempatan. Tetapi negara tidak mungkin bekerja sendirian jika masyarakat masih memelihara cara berpikir yang menganggap kemiskinan lebih aman daripada kemajuan. Bantuan sosial bisa mengurangi lapar, tetapi tidak otomatis mengubah “mentalitas.” Sebab kemiskinan yang paling sulit dientaskan sering bukan kemiskinan dompet, melainkan kemiskinan imajinasi dan kreatifitas.
Karena itu persoalan terbesar umat Islam hari ini mungkin bukan kurangnya kesalehan, melainkan kekeliruan memahami hubungan antara iman dan kekayaan. Kita terlalu lama diajarkan takut menjadi kaya, tetapi tidak pernah diajarkan takut menjadi beban bagi orang lain.
Kita memuji kesederhanaan tanpa pernah serius membangun kemandirian. Akibatnya, banyak orang merasa religius hanya karena berhasil bertahan hidup dalam kekurangan. Padahal, bukankah miskin itu dekat dengan kekufuran?
Nyatanya manusia yang terus-menerus sibuk menyelamatkan perutnya sendiri biasanya tidak punya cukup tenaga untuk memikirkan peradaban.
Dan umat yang lemah ekonominya akan mudah kehilangan keberanian politiknya. Itu sebabnya kemiskinan tidak pernah benar-benar netral. Ia bisa berubah menjadi cara paling halus untuk membuat masyarakat tetap patuh, tetap rendah hati, dan tetap tidak berdaya.
Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN SGD Bandung, Ketua KBNU UIN SGD Bandung)