Antara Kebaya dan Empati yang Diperkosa
Prolog, Ketika 21 April Menjadi Hari Paling Sepi di Dadaku
UINSGD.AC.ID (Humas) — Setiap tahun, kita mengenang nama Kartini. Kita membaca surat-suratnya dengan suara bergetar. Kita memakai kebaya terbaik, mengunggah foto dengan filter estetik, dan menulis caption ‘Terinspirasi dari Kartini, perempuan harus bersatu, kuat, dan berdaya.’ Tapi tidak ada yang pernah bertanya, bagaimana jika semangat Kartini malah menjadi bumerang bagi perempuan itu sendiri?
Aku dulu percaya bahwa menjadi perempuan baik berarti mendengar, merasakan, dan membantu tanpa batas. Aku bangga disebut “Kartini kecil” karena selalu sigap menolong siapa pun yang kesusahan.
Lalu aku jatuh. Bukan jatuh cinta. Tapi jatuh ke dalam lubang sindikat besar manipulasi berkedok empati. Dan setelah aku bangkit dari lubang itu, aku pulang ke rumah. Di sana, pertempuran sesungguhnya menunggu. Bukan melawan sindikat kejahatan, tapi melawan budaya yang menganggap pekerjaan domestik sebagai “tugas alamiah perempuan’.
Inilah kisahku. Kisah tentang senyum luka yang kupakai setiap hari. Di depan kamera. Di depan keluarga. Di depan dunia yang terus memujiku sebagai “perempuan hebat” padahal di dalam hatiku, ada luka yang tak kunjung sembuh.
Bagian Satu: Empati yang Diperkosa. Ketika Kartini Disalahgunakan oleh Sindikat Kejahatan
Cerita Sedih yang Mengetuk Pintu Hati
Semuanya dimulai dari pesan singkat. Seorang “teman” di media sosial sebut saja namanya Maya, menangis di telepon. Suaranya parau, seperti orang yang benar-benar putus asa. “Kak, adikku kritis. Rumah sakit minta uang muka tiga puluh juta. Aku sudah pinjam ke mana-mana. Cuma kamu yang aku punya. Kamu kan orangnya paling baik, paling berempati.” Hatiku berbunga.
Rasanya seperti dipuji Kartini sendiri. Aku seorang perempuan yang peduli. Aku tidak tega melihat orang susah. Bukankah itu ajaran Kartini? Perempuan harus saling mengangkat? Aku transfer. Lima juta pertama. Lalu sepuluh juta. Lalu dua puluh. Setiap kali aku ragu, Maya punya cerita baru, tetangga yang diusir, anak yatim yang kehilangan biaya sekolah, ibu tua yang tak punya makan. Setiap cerita dibumbui air mata virtual dan kata-kata manis, ‘Kamu satu-satunya malaikatku. Tanpamu, aku tidak tahu harus bagaimana.’
Di Balik Maya, Ada Sindikat Besar
Aku tidak tahu bahwa di balik satu akun Maya, ada sindikat terstruktur. Mereka punya psikolog sendiri yang merancang narasi. Mereka punya tim kreator konten yang membuat cerita sedih yang perfectly crafted untuk menembus pertahanan emosional perempuan.
Menyebutnya scam saja terlalu ringan. Ini empathy harvesting’ panen empati. Mereka tahu persis titik lemah Perempuan, rasa ingin menyelamatkan, rasa tidak tega, rasa bersalah jika tidak membantu. Dan mereka tahu bahwa perempuan Indonesia, yang dari kecil dididik untuk menjadi lembut, penyayang, tidak egois, adalah target paling empuk.
Ancaman dan Rasa Bersalah
Ketika aku mulai sadar dan mencoba berhenti transfer, wajah Maya berubah. Suaranya tidak lagi lembut. “Kamu tega? Adikku akan mati dan itu salahmu. Kamu perempuan tidak punya hati. Semua orang akan tahu betapa jahatnya kamu.”
Aku lumpuh. Ancaman itu memanfaatkan satu hal, adalah rasa bersalahku sebagai perempuan yang katanya harus sempurna dalam menolong. Aku tidak berani cerita ke siapa pun. Malu. Aku yang kuliah tinggi, yang bekerja di kantor bagus, yang setiap Kartini naik panggung membaca surat-surat Kartini, ternyata jatuh ke dalam scam berkedok kebaikan.
Total kerugianku mencapai tujuh puluh tiga juta rupiah. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling melukai adalah ketika aku sadar, empatiku telah diperkosa’. Sifat yang paling aku banggakan sebagai perempuan, justru menjadi pintu masuk bagi kejahatan.
Mengapa Perempuan Paling Rapuh?
Bukan karena kami bodoh. Tapi karena dari kecil kami dididik untuk mendahulukan perasaan orang lain’. Kartini sendiri adalah simbol empati yang indah. Tapi tidak ada peringatan dalam buku sejarah bahwa empati tanpa batas akan membuat kita buta terhadap manipulasi. Seandainya Kartini hidup di zaman media sosial, aku yakin ia akan menulis surat lain. Bukan hanya soal hak pendidikan, tapi juga hak untuk tidak dieksploitasi atas nama kebaikan.

Bagian Dua: Senyum Luka di Rumah, Antara Kebaya dan Beban Ganda
Perempuan Hebat di Depan Kamera
Setelah aku berhasil keluar dari lubang sindikat itu dengan bantuan konselor dan laporan polisi yang melelahkan, aku pikir hidupku akan lebih ringan.
Ternyata tidak.
Tanggal 21 April tahun berikutnya. Instagramku bersih. Aku memakai kebaya modern warna krem dengan bordir bunga. Makeup tipis tapi menawan. Rambut disanggul rapi. Di kantor, aku berdiri di depan podium membacakan pidato Kartini dengan suara bergetar penuh semangat. Rekan kerjaku memotret.
Aku tersenyum. ‘Wah, ibu-ibu hebat!’ kata mereka. ‘Kartini masa kini! Perempuan tangguh!’ Lima puluh like dalam sepuluh menit. Komentar-komentar, ‘Inspiring banget!’ , Emansipasi sejati!’ Aku membalasnya dengan stiker senyum. Padahal di balik layar ponsel, mataku sembab. Aku hanya tidur tiga jam semalam. Karena setelah foto kebaya itu diambil, aku tetap harus pulang, dan di sanalah pertempuran sesungguhnya dimulai.
Sang Juara Pulang ke Rumah yang Tak Pernah Libur
Aku tiba di rumah pukul 19.30. Belum sempat melepas sepatu, suara anakku yang baru delapan bulan menangis kencang. Suamiku duduk di sofa sambil menggulung layar ponsel. ‘Istriku pulang? Anakmu rewel terus, nih,’ katanya tanpa menoleh. ‘Anakmu.’ Bukan ‘anak kita’. Aku berganti pakaian. Kebaya berganti daster lusuh. Sanggul dibiarkan kusut.
Aku gendong bayiku sambil menghangatkan susu. Sambil menyalakan rice cooker yang belum sempat kuatur sebelumnya. Sambil mengecek apakah kakaknya sudah makan malam.
Suamiku bertanya, “Masak apa malam ini?”Padahal di kulkas hanya ada telur dan tahu. Karena aku tak sempat belanja. Karena sore tadi aku masih meeting sampai jam 17.30. Karena aku adalah ‘perempuan hebat’ yang disuruh ‘flexible’ di kantor, tapi di rumah dituntut ‘sempurna’. Senyum lukaku mulai merekah. Lelah, tapi tetap tersenyum. Karena kalau aku mengeluh, aku akan disebut ‘perempuan yang tidak bersyukur’ atau ‘istri yang gagal memanage waktu’.
Pekerjaan Tak Terlihat yang Membunuh Perlahan
Mari kita hitung. Aku bekerja 9 jam di kantor. Plus 2 jam perjalanan bolak-balik. Total 11 jam. Lalu di rumah, aku mengerjakan memandikan dua anak (45 menit), menyiapkan makan malam dan bekal esok (1,5 jam), membereskan mainan, piring, dan cucian (1 jam), menidurkan bayi yang susah tidur (1–2 jam), mengecek PR anak SD (30 menit), mencuci botol susu dan alat MPASI (20 menit).
Belum termasuk jika bayi demam, atau anak sakit, atau ada acara sekolah, atau ibu mertua datang. Total 5 sampai 6 jam kerja tidak berbayar setiap malam. Setelah seharian bekerja profesional. Lalu suamiku bertanya, ‘Kok kamu kelihatan lelah terus? Aku kan juga bantu.’ Yap, Bantunya sekali-sekali mengambil piring kotor ke wastafel. Itu disebut ‘bantu. Itu disebut ‘luar biasa. Padahal kalau aku melakukan hal yang sama, itu disebut ‘tugas’.
Ketika Reproduksi Dianggap Alamiah Perempuan
Inilah luka yang paling diam-diam tapi paling dalam untuk pekerjaan reproduksi dan domestik yang tidak pernah dianggap sebagai kerja.
Merawat anak? Itu naluri ibu. Memasak? Itu kewajiban istri. Mengurus rumah? Itu urusan perempuan. Tidak ada yang mencatatnya dalam PDB. Tidak ada yang memberi gaji. Tidak ada yang memberikan cuti. Tidak ada yang mengatakan ‘Terima kasih sudah mengurus rumah sehingga suamimu bisa fokus kerja’.
Sebaliknya, jika rumah berantakan, siapa yang disalahkan? Perempuan. Jika anak rewel, siapa yang dicari? Perempuan. Jika makan malam tidak enak, siapa yang dikritik? Perempuan. Kita sudah memberi perempuan hak untuk bekerja di luar rumah. Tapi kita tidak pernah mengambil alih separuh beban di dalam rumah. Kita hanya menambahkan peran baru tanpa mengurangi peran lama. Itu bukan emansipasi. Itu ‘eksploitasi dengan kebaya’.
Setelah merenung lama di kamar mandi (satu-satunya ruang di rumah di mana aku bisa menangis tanpa dilihat siapa pun), aku menyadari sesuatu. Dua luka ku terjebak sindikat empati palsu dan menanggung beban ganda di rumah berasal dari akar yang sama.
Adalah masyarakat kita mengajarkan perempuan untuk menjadi tak terbatas dalam memberi, tapi tidak pernah mengajarkan perempuan untuk melindungi dirinya sendiri. Bahwa memberi uang hingga habis? Dia baik hati. Memberi waktu dan tenaga hingga lupa istirahat? Dia ibu hebat. Memberi empati tanpa batas hingga dimanfaatkan sindikat? Dia korban yang naif.
Tidak ada yang berkata: berhenti. Batasi. Lindungi dirimu dulu.
Kartini mengajarkan perempuan untuk bersuara. Tapi kita lupa bahwa bersuara juga berarti berkata TIDAK. Tidak pada sindikat yang memanfaatkan kebaikan kita. Tidak pada suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah tugas istri. Tidak pada budaya yang membuat kita tersenyum di foto padahal hati sedang terluka. Aku tidak menulis artikel ini untuk menyalahkan Kartini. Aku menulis ini karena aku lelah melihat perempuan-perempuan hebat di sekitarku tersenyum sambil berdarah.
Untuk Perempuan: 1) Stop Berhenti menjadi pahlawan super. Kamu tidak harus sempurna. Rumah berantakan tidak masalah. Anak makan mie instan sesekali tidak apa-apa. Kesehatan mentalmu lebih penting.
2) Bicara. Jangan pendam. Katakan pada pasanganmu bahwa kamu lelah. Katakan pada temanmu bahwa kamu pernah tertipu. Jangan simpan luka sendirian.
3) Tuntut pembagian kerja yang adil. Bukan bantuan, tapi tanggung jawab bersama. Suamimu tidak membantu mencuci piring , dia melakukan tugasnya.
4) Jadikan empati sebagai senjata, bukan kelemahan. Belajar mendeteksi manipulasi. Jika seseorang memaksamu transfer uang dengan cerita yang tidak bisa diverifikasi, itu bendera merah. Jika seseorang membuatmu merasa bersalah karena ragu-ragu membantu, itu bendera merah.
Dan untuk semua yang merayakan hari Kartini: 1) Jadikan peringatan Kartini sebagai momen introspeksi, bukan karnaval. Sebelum mengunggah foto kebaya, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan tahun ini untuk meringankan beban perempuan di sekitarku?
2) Bicarakan luka, bukan hanya pencapaian. Kartini tidak hanya bercerita tentang terang. Dia juga bercerita tentang gelap. Tentang pingitan. Tentang ketidakadilan. Jangan takut membicarakan luka.
3). Dengarkan perempuan yang berbeda cerita.Tidak semua perempuan merayakan Kartini dengan bahagia. Ada yang sedang berjuang melawan kekerasan dalam rumah tangga. Ada yang sedang memulihkan diri dari scam. Ada yang sedang sendirian mengurus anak tanpa dukungan suami. Dengarkan mereka.
Dan Kartini, maafkan aku. Aku memakai kebayamu. Aku membaca suratmu. Aku berdiri di podium memujimu. Tapi aku masih terjebak dalam tembok yang sama yang kau lawang. Tembok yang mengatakan bahwa sudah tugas perempuan mengurus anak.
Tembok yang membiarkan laki-laki duduk diam sementara perempuan berputar seperti gasing. Tembok yang membuatku tersenyum di foto padahal di dalam hatiku ada luka dari sindikat yang memanfaatkan sifat mulia yang kau ajarkan.
Tapi Kartini, aku belum menyerah!.
Mari kita ubah itu. Mulai dari rumah kita sendiri. Mulai dari hari ini. Bukan hanya saat 21 April. Sampai saat itu tiba, setiap perayaan Kartini hanyalah karnaval senyum luka. Dan aku tidak ingin anak perempuanku tumbuh dengan senyum luka yang sama. Karena Kartini bukan hanya tentang terang. Kartini juga mengajarkan kita untuk berani melihat gelap, dan mengakuinya, sebelum kita bisa keluar dari sana.
Jika kamu membaca artikel ini dan merasa “ini ceritaku juga”, kamu tidak sendirian. Jika kamu pernah tertipu scam berkedok kebaikan, ‘kamu tidak bodoh’. Kamu tulus. Dan ketulusanmu dimanfaatkan oleh monster yang lebih pintar.
Sekarang kamu tahu. Pengetahuan adalah perisaimu. Jika kamu merasa lelah dengan beban ganda di rumah, kamu tidak lemah. Kamu kelebihan beban. Dan itu bukan salahmu. Kamu berhak lelah. Kamu berhak dibantu. Kamu berhak untuk tidak tersenyum kalau sedang terluka. Dan kamu berhak untuk merayakan Kartini dengan cara yang jujur, bukan dengan kebaya dan sanggul semata
Walaupun Kartini menulis: ‘Habis gelap terbitlah terang. Tapi untuk perempuan pekerja, terkadang habis kerja, terbitlah cucian dan tangisan anak’.
Selamat Hari Kartini. Jangan hanya pakai kebaya. Jangan hanya unggah foto. Tapi ubah cara pandang. Ubah cara berbagi beban. Ubah cara melindungi diri sendiri dan sesama perempuan.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI