Tradisi Silaturahmi Bada Idul Fitri

Saling maaf-maaf lebaran idul fitri ©Ilustrasi dibuat AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Umat Islam berbagai negara memiliki tradisi berbeda-beda dalam merayakan Idul Fitri, ada yang saling berkunjung sesama saudara, ada yang membuat acara kumpul bersama keluarga besar, namun ada pula yang alakadarnya saja dan kembali ke aktifitas sehar-hari.

Di Saudi Arabia, selepas umat Islam shalat Idul Fitri langsung pulang ke rumah masing-masing dan kota-kota terlihat sepi. Umat Islam di Saudi lebih memilih istirahat di rumah masing-masing, namun pada sore hari mulai ba’da maghrib tanggal 1 Syawal nyaris semua keluar rumah untuk saling berkunjung hingga jalanan macet.

Lain halnya di Indonesia, selepas shalat Idul Fitri ada tradisi silaturrahmi langsung saling berkunjung antar saudara, tetangga, dan siapapun yang bertemu di jalan walaupun tidak kenal saling musafahah (bersalaman).

Selanjutnya, siang hari atau bahkan di hari-hari berikutnya melaksanakan acara Halal-bil Halal yaitu pertemuan resmi dalam rangka silaturrahmi Idul Fitri yang diwarnai sambutan-sambutan dan tausiyah siraman ruhani.

Welfridus Josephus Sabarija Poerwadarminta menyebut bahwa tradisi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang dilakukan secara berkesinambungan, seperti adat, budaya, kebiasaan, dan kepercayaan.

Sementara silaturrahmi berasal dari kata silaturrahim memiliki makna menyambungkan kasih sayang. Dengan demikian, tradisi silaturrahmi merupakan kebiasaan kehidupan masyarakat dalam memelihara ikatan kasih sayang sesama manusia.

Momentum Idul Fitri sebagai puncak kebahagiaan bagi umat Islam yang selesai melaksanakan tugas suci berupa puasa selama satu bulan diakhiri dengan selebrasi bernilai tinggi yaitu saling memaafkan dan merajut kembali kasih sayang sesama saudara. Walaupun tradisi tiap negara berbeda-beda namun memiliki esensi yang sama yaitu saling berkasih sayang.

Islam tidak mengajarkan kerusakan dan saling menumpahkan darah, namun Islam pun mengajarkan untuk bersikap berani (syaja’ah) untuk membela kebanaran dan keadilan jika ada pihak yang merusak tatanan kebaikan. Idul fitri 1447 hijriyah memaksa dunia pada pusaran perang dan konflik global yang berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan umat manusia di berbagai negara.

Diantara aspek yang terdampak yaitu penyelenggaraan haji dan umrah sebagai perjalanan ritual umat Islam dalam mengikuti jejak langkah keluarga Nabi Ibrahim as yang tercatat sebagai bapak tauhid dan simpul dari ajaran agama-agama besar di dunia.

Jejak sejarah Nabi Ibrahim as menghantarkan makna kasih sayang yang disemai mulai dari keluarga hingga mendunia. Jika semua umat manusia konsisten menjalankan ajaran dan tauladan dari kelaurga Nabi Ibrahim as, nampaknya tidak akan ada peperangan dan penjajahan.

Namun memang sikap serakah manusia yang berkoalisi dengan tipu daya setan menjadi akar penyebab rusaknya silaturrahmi dan menghapus diplomasi. Dalam Islam, silaturrahmi merupakan sikap terpuji yang sangat dihargai. Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu.” (HR Bukhari Muslim). Idul Fitri merupakan momentum untuk mengubah wajah dunia mulai dari perubahan diri melalui silaturrahmi. Wallahu a’lam.

 

Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung Pengurus Harian PW Mathla’ul Anwar Jawa Barat.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *