UINSGD.AC.ID (Humas) — Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Indonesia seperti mengalami kontraksi spasial yang unik. Puluhan juta manusia bergerak serentak dari kota-kota besar menuju kampung halaman. Stasiun, bandara, dan jalan tol berubah menjadi lautan manusia dengan satu tujuan, mudik.
Fenomena tahunan yang sudah berlangsung puluhan tahun, namun di era digital hari ini, mudik mengalami pergeseran makna yang tak bisa diabaikan. Pertanyaannya, di tengah hiruk-pikuk perjalanan pulang kampung, apakah sakralitas nilai kehidupan masih terjaga, atau justru tergerus oleh arus modernitas?
Bagi Generasi Z yang lahir dan besar di kota-kota besar, kampung halaman sering hanya menjadi cerita orang tua. Mereka mungkin tak fasih berbahasa daerah, tak hafal silsilah keluarga, dan tak mengenali wajah sepupu-sepupu jauh. Kampung adalah entitas abstrak yang dikunjungi setahun sekali, seperti museum yang hanya dibuka saat Lebaran. Namun, mudik sejatinya adalah napak tilas identitas.
Di tengah krisis identitas yang melanda generasi urban yang merasa bukan siapa-siapa di kota tempat mereka tinggal, maka mudik menawarkan jawaban. Saat tiba di kampung, mereka bukan lagi anak rantau atau pendatang. Mereka adalah putra daerah, cucu Mbah Karto, atau keponakan Pak Lurah. Ada pengakuan sosial yang tak pernah mereka dapatkan di kota. Prosesi sungkeman kepada orang tua dan sesepuh keluarga adalah puncak dari ritual penemuan jati diri. Saat lutut menyentuh lantai dan kepala menunduk di hadapan orang tua, ada semacam pelepasan ego urban yang membebaskan.
Di momen sakral tersebut , seorang direktur perusahaan kembali menjadi anak yang polos. Seorang selebgram yang biasanya sibuk dengan filter Instagram, kembali menjadi manusia biasa yang butuh restu.
Sayangnya, ritual sakral seperti ini mulai tergerus oleh gaya hidup yang serba instan. Sungkeman kini sering dilakukan sambil memegang ponsel untuk dokumentasi.
Momen haru bersama keluarga direduksi menjadi konten TikTok. Pertemuan dengan sanak saudara diisi dengan scrolling media sosial masing-masing yang pada akhirnya masih ada jarak yang menganga antara kehadiran fisik dan kehadiran batin.

Ilustrasi mudik/ Foto Antara
Dampak Ekonomi: Berkah atau Beban?
Dari sisi ekonomi, mudik adalah mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang luar biasa. Kemenko Perekonomian mencatat perputaran uang saat mudik dua tahun lalu di tahun 2024 mencapai angka Rp 150 triliun lebih. Uang dari kota besar mengalir deras ke desa-desa. Pedagang pasar tradisional di kampung kebanjiran rezeki. Transportasi umum meraup untung besar. UMKM lokal hidup kembali.
Namun, ada ironi di balik angka fantastis tersebut. Mudik sering menjadi ajang pamer prestasi semu. Beberapa rela berutang demi bisa pulang kampung dengan mobil baru. Gengsi mengalahkan akal sehat, karena lebih baik terlihat sukses di kampung dari pada hidup pas pasan di rantau.
Fenomena yang menciptakan tekanan psikologis yang tidak sehat. THR yang seharusnya menjadi sarana berbagi kebahagiaan, kadang berubah menjadi beban finansial. Gaji bulan ketiga belas habis dalam seminggu untuk memenuhi tuntutan sosial di kampung. Dan setelah lebaran, banyak yang harus memulai dari nol lagi, bahkan terjerat pinjaman online.
Di sinilah pentingnya literasi finansial berbasis nilai. Jika mudik hanya diukur dari seberapa besar uang yang dibawa, maka hanya akan menjadi beban. Tapi jika mudik dipahami sebagai investasi sosial jangka panjang untuk merawat silaturahmi, membangun jejaring, dan memperkuat modal sosial maka nilai ekonomi akan terasa sepanjang waktu, sepanjang tahun.
Dampak Sosial: Merawat yang Nyaris Putus
Mudik adalah lem perekat sosial yang mencegah keluarga Indonesia hancur oleh jarak dan waktu. Di era di orang tua sibuk bekerja dan anak sibuk dengan dunianya sendiri, momen berkumpul bersama keluarga besar menjadi langka dan berharga.
Anak-anak yang sehari-hari hanya bertemu orang tua di pagi dan malam hari, saat Lebaran bisa merasakan kehangatan keluarga utuh. Sepupu-sepupu yang tinggal terpisah di berbagai kota bisa saling mengenal. Kakek-nenek yang menua di kampung bisa kembali merasakan riuh rendah suara cucu-cucunya.
Namun, modernitas juga merambah ke ranah lainnya, keluarga besar kini sering berkumpul secara fisik tapi terpisah secara digital. Meja makan yang dulu menjadi ruang dialog lintas generasi, kini sunyi karena semua sibuk dengan gawai masing-masing.
Anak muda sibuk mengunggah foto Lebaran, sementara orang tua sibuk menanti perhatian yang tak kunjung datang. Budaya open house yang dulu menjadi ajang silaturahmi antarwarga, kini mulai ditinggalkan. Digantikan oleh undangan digital yang lebih praktis tapi kehilangan kehangatan. Tamu berganti menjadi pengunjung, dan silaturahmi bergeser menjadi sosialisasi.
Membangun Peradaban dari Kampung Halaman
Mudik seharusnya tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum transfer pengetahuan dan pengembangan desa. Generasi muda yang merantau dan sukses di kota seharusnya bisa membawa pulang lebih dari sekadar uang dan oleh-oleh. Mereka bisa membawa pulang gagasan, koneksi, dan semangat perubahan.
Bayangkan jika setiap pemudik pulang kampung tidak hanya untuk pamer kesuksesan, tetapi juga untuk berbagi keterampilan. Yang bekerja di startup bisa mengajari dan mengedukasi coding untuk para pemuda. Yang bekerja di pemasaran digital bisa membantu pemasaran produk UMKM desa. Yang kuliah di jurusan pertanian bisa berbagi teknik bertani modern.
Kampung halaman seharusnya tidak hanya menjadi tempat peristirahatan, tetapi juga proyek peradaban jangka panjang. Jika 10 juta pemudik setiap tahun menyisihkan sedikit waktu untuk berbagi ilmu di kampung halaman, dalam satu dekade kita akan melihat lompatan kualitas sumber daya manusia desa yang luar biasa.
Pemerintah pun seharusnya melihat mudik bukan sebagai beban logistik semata, tetapi sebagai peluang. Program-program pemberdayaan desa bisa dikaitkan dengan momen mudik. Pelatihan-pelatihan bisa dijadwalkan bertepatan dengan kepulangan para perantau. Dengan demikian, arus balik manusia dari kota ke desa tidak hanya membawa uang, tetapi juga masa depan.
Menemukan Kembali Sakralitas yang Hilang
Di tengah segala hiruk-pikuk modernitas, mungkin sudah saatnya kita bertanya, untuk apa sebenarnya kita mudik? Jika mudik hanya untuk memenuhi gengsi sosial, kita akan pulang dengan hampa.
Jika mudik hanya untuk liburan, kita akan kembali dengan lelah. Tapi jika mudik dimaknai sebagai ziarah ke akar, sebagai pengingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi, maka mudik akan menjadi perjalanan spiritual yang memperkaya jiwa.
Sakralitas mudik tidak terletak pada kemeriahan kembang api atau banyaknya amplop Lebaran. namun terletak pada kesediaan kita untuk hadir sepenuhnya secara fisik dan batin di tengah keluarga.
Pada keberanian kita melepas topeng kesuksesan urban dan kembali menjadi diri sendiri. Pada kemampuan kita mendengar celoteh keponakan, merasakan pelukan orang tua, dan memandang wajah kakek-nenek yang semakin keriput.
Di era digital dimana terjadi anomali maka mudik adalah penawar. Di tengah hiruk-pikuk ekonomi yang melelahkan, mudik adalah pengingat. Di sela-sela perebutan kekuasaan yang memuakkan, maka mudik adalah oase.
Maka, selamat mudik untuk semua. Semoga perjalanan pulang kali ini tidak hanya menggerakkan ekonomi dan menyambung tali silaturahmi dan sosial, tetapi juga mengembalikan kita pada fitrah kemanusiaan yang paling hakiki, sebagai makhluk yang saling membutuhkan, yang tak bisa hidup sendiri, yang hanya berarti ketika bersama. Selamat pulang ke akar. Selamat merayakan kemenangan sejati.
Wallahu’a’lam bis showaab.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI