5 TIPS MENJALANI PERKULIAHAN YANG TIDAK SEKADAR NGAMPUS DAN MENGGUGURKAN KEWAJIBAN?

(UINSGD.AC.ID)-Pada kesempatan kali ini Muhammad Amin, Dosen Muda Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung memberikan 5 tips yang bisa mahasiswa terapkan dalam menjalani perkuliahan agar perkuliahan tersebut tidak sekadar ngampus dan menggugurkan kewajiban.

“Saya mengamati banyak mahasiswa yang masih belum mampu mendapatkan “buah” dari perkuliahan yang dijalani. Kalau saja mau sedikit berusaha, tentu percikan-percikan hasil akan tampak sejak di semester awal,” tegasnya, Rabu (15/3/2023)

Berikut ini 5 tips-tipsnya.

1. Mulai dengan niat karena Allah dan menjalankan perintah agama

Kita mengenal satu hadis populer tentang niat, juga tentang mencari ilmu. Kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Kalau niat kuliah hanya menggugurkan kewaiban, yang didapat hanyalah lelah.

Namun, bila niat kuliah untuk memberantas kebodohan, maka kesulitan apa pun akan selalu dicari jalan keluarnya. Mahasiswa tidak bersifat menyalahkan keadaan, tetapi bagaimana memanfaatkan kesulitan-kesulitan yang ada sebagai proses bertumbuh.

Dengan begitu, kita akan memetik hasilnya dan tentu pahala karena ikhlas menjalaninya.

2. Mengikuti aturan yang ditetapkan

Saya pernah bertemu mahasiswa yang memakai kaos ketika kuliah. Ketika saya tegur, ia hanya melengos dan terkesan meremehkan peraturan yang disepakati.

Ingat bahwa ilmu bisa dicari di mana pun, tetapi ketika perkuliahan berlangsung, kita tidak hanya mencari ilmu, tetapi ada nilai yang ditanamkan, ada kebiasaan yang ditumbuhkan. Mengapa semua hal ini dibiasakan sejak kuliah?

Supaya nantinya ketika menghadapi dunia yang sesungguhnya seperti dunia kerja, industri, pemerintah, sampai rumah tangga, kita paham bahwa segala hal ada aturannya.

Ketika aturan itu dilanggar, berpikirlah bahwa hal tersebut tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain.

3. Awali belajar dengan berwudu dan berdoa

Berwudu dan berdoa terlihat sepele dan mudah. Ingatlah bahwa ulama zaman dahulu memulai belajar atau menulis sesuatu dengan berwudu. Di antara mereka bahkan “dawaamul wudu”, senantiasa menjaga kesucian.

Jadi, ketika batal dari wudu, mereka langsung mengambil wudu kembali agar senantiasa suci dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kebiasaan berdoa juga satu upaya menghindarkan diri dari kesia-siaan dalam beribadah.

Kita meminta perlindungan kepada Allah supaya dimudahkan dalam belajar, dalam menerima ilmu dari dosen, dan sebagainya. Harapan akhirnya tentunya adalah ilmu yang didapatkan bermanfaat bagi diri dan orang lain.

4. Sempatkan untuk salat Duha

Bila ada jeda mata kuliah yang memungkinkan salat Duha, laksanakanlah salat Duha. Salat Duha bisa dilaksanakan sekitar pukul 9 sampai 10 pagi.

Bisa juga melaksanakan salat Duha di pagi hari sebelum berangkat kuliah. Kita bermohon kepada Allah supaya dilimpahkan kemudahan dalam mencari ilmu, juga dihindarkan dari segala marabahaya selama mencari ilmu.

5. Maksimalkan pembelajaran dalam kelas dan perluas ilmu di luar kelas

Ketika proses perkuliahan dalam kelas, hendaknya mahasiswa memanfaatkan sebaik-baiknya. Misalnya dengan aktif berdiskusi ketika ada presentasi, aktif bertanya bila ada yang kurang dipahami. Bisa juga dengan ikut andil memberikan masukan dari materi agar perkuliahan semakin berisi.

Selain itu, perluas cakrawala keilmuan ketika berada di luar kelas. Silakan mengerjakan tugas dengan baik, menambah pengalaman di organisasi, mengikuti berbagai kegiatan yang bermanfaat guna menunjang kompetensi diri.

Kombinasi ilmu yang didapat dalam kelas dengan tambahan pengalaman dan pengamalan ilmu di luar kelas akan menghasilkan pribadi luar biasa dan siap mengarungi kehidupan setelah lulus nantinya.

Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa dari lima tips tadi, tiga di antaranya berkaitan dengan ibadah atau amalan batin?

Ya, sebab kita muslim. Kita tentu ingin segala gerak langkah kita bermanfaat, tidak hanya berlalu begitu saja tanpa arti dan makna. Perpaduan usaha lahiriah dan amal batiniah akan menghasilkan individu yang siap secara kompetensi, memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.

Harapan akhirnya adalah sang mahasiswa tidak hanya pintar beretorika A sampai Z, tetapi mampu mengamalkan dalam kehidupan nyata, semakin peka melihat kekurangan yang ada di sekelilingnya, dan mampu ikut andil memberikan solusi yang dibutuhkan masyarakat.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *