Dari Haji untuk Resolusi

(UINSGD.AC.ID) — Dalam perjalan bertamu dan bertemu dengan Allah, sebait do’a populer yang kerap kali lirih dimunajatkan jemaah haji adalah, Allohummaj’al hajjan mabruran wasa’yan maskuran wadzanban maghfuran watijaratan lantabur. Selain memohon haji mabrur, usaha yang disyukuri, dosa yang diampuni. Di penghujung doa itu ada permohonan untuk perniagaan yang tidak merugi.

Esensi hidup adalah berniaga, berdagang atau berbisnis. Dalam esnesi ini ujung kehidupan manusia lazimnya ada yang beruntung dan ada yang rugi. Ada yang sukses dan ada yang tidak. Bagi mereka yang beruntung, bahagia dalam genggaman. Sementara untuk mereka yang rugi, penderitaan bahkan nestapa kerap menghampiri.

Dalam balutan kesadaran dambaan untuk perniagaan yang tidak merugi. Allah memberi petunjuk dalam Qs. Fathir ayat 29, “Sungguh orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi.”

Ada tiga kata kunci dalam petunjuk ayat ini sebagai syarat bagi perniagaan yang tidak merugi, yakni; al-qur’an, sholat dan infak. Penjagaan seksama pada tiga aspek itu, Allah tegaskan sebagai syarat bagi terwujudnya hidup yang tidak akan rugi, hidup yang bertabur berkah, dan ujung hidup yang penuh kebahagiaan.

Hal pertama yang harus dijaga adalah Al-Qur’an. penjagaan terhadap al-qur’an bisa dilakukan dengan berinteraksi sedekat mungkin dengannya. Dalam surat al-An’âm ayat 155, Allah berfirman,”Dan Al-Qur`ân itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

Menurut simpulan para pencinta tafsir, bagi mereka yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka kebaikan akan tumbuh, berkembang, bercabang, dan lestari menyertai irama takdir hidupnya. Pada kutub ini, Allah akan menurunkan rahmat-Nya. Diantara bentuk rahmat kata para pencinta tafsir adalah kemenangan atau terhindar dari kerugian.

Penjagaan kedua, untuk hidup yang terhindar dari kerugian adalah sholat. Ibadah ritual ini pada esensinya adalah sebuah proses komunikasi imajiner, dialog transendental, atau curhat ruhani antara seorang manusia dengan Rabbnya. Penjagaan terhadap solat baik pada sisi kuantitasnya, kualitasnya, dan kontinuitasnya, akan menghantarkan seorang hamba terkoneksi ruhaninya dengan yang Ilahi.

Pada kutub koneksitas ruhani itu, dipenghujung Qs. Ali Imran ayat 101, Allah menegaskan, “Siapa saja yang hatinya terkoneksi dengan Allah, maka Allah akan menunjukan pada jalan yang lurus”. Makna jalan yang lurus, shirotol mustaqiem pada ayat ini, adalah jalan orang-orang yang hidupnya bertabur kenikmatan, seperti: para nabi, para ulama, syuhada dan orang-orang sholeh. Hidup pada zona shirotol mustaqiem, adalah hidup yang terhindar dari kerugian.

Penjagaan ketiga untuk hidup yang terhidar dari kerugian adalah infak. Ibadah harta ini, bisa memantik hati mereka yang disantuni untuk membanjiri mereka yang dermawan dengan do’a-do’a baiknya. Rasulullah saw bersabda; “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah (di antara) kalian” (HR. Al-Bukhari No. 2896).

Ibadah haji dalam setiap dimensinya, mengandung berbagai macam solusi untuk problema kehidupan. Seiring momentum pergantian tahun 2023 ke 2024 M, kita bisa megambil resolusi untuk hidup yang tidak rugi dari sebait doa dalam haji, dengan menjaga Al-Qur’an, sholat dan Infak. Semoga.

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 2 Januari 2024

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *