Prof. Tedi Priatna: Jangan Tunggu Modal Besar, Mahasiswa Harus Berani Mulai Usaha

UINSGD.AC.ID (Humas) — Mahasiswa perlu membangun keberanian untuk memulai usaha sejak dini. Tidak harus menunggu memiliki modal besar atau gagasan bisnis yang sempurna. Memulai dari hal kecil justru menjadi ruang belajar untuk mengenali peluang, membangun keterampilan, dan membentuk karakter kewirausahaan.

Pesan ini disampaikan Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag., CEAM., MCE., dalam Seminar Kewirausahaan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi (PT) UIN Bandung yang berlangsung di Aula PPG Kampus II, Jumat (2/10/2026).

Ketua Dewan Pembina HIPMI PT UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menegaskan bahwa kewirausahaan bukan semata-mata bakat, tetapi kemampuan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“Jangan pernah berpikir akan memiliki usaha besar kalau memulai sesuatu yang kecil saja tidak mampu. Jangan hanya bercita-cita menjadi pengusaha sukses, tetapi mulailah melakukan sesuatu dari sekarang,” tegasnya.

Menurutnya, modal dalam berwirausaha tidak hanya berupa uang. Pola pikir (mindset), semangat, keterampilan, kepekaan membaca peluang, serta keberanian mengambil langkah nyata merupakan modal penting yang perlu dibangun mahasiswa.

Pengalaman sederhana, seperti mencoba berjualan di lingkungan kampus, dapat menjadi proses pembelajaran yang berharga. Dari aktivitas itu, mahasiswa dapat belajar memahami kebutuhan pasar, berkomunikasi dengan konsumen, mengelola usaha, membangun mental dan karakter sebagai seorang entrepreneur.

Prof. Tedi mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi kewirausahaan tidak cukup diukur dari jumlah anggotanya. Dengan begitu keberhasilan perlu terlihat dari aktivitas, inisiatif, kreativitas, dan kontribusi nyata para anggotanya.

Oleh karena itu, HIPMI PT UIN Bandung diharapkan tidak hanya menjadi wadah berhimpun, tetapi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berlatih, membangun jejaring, serta mengembangkan gagasan bisnis menjadi kegiatan usaha yang konkret.

“Yang lebih saya hargai adalah seseorang yang berani memulai dari keterbatasan, memiliki kemauan untuk belajar, kemudian berusaha mengembangkan dan menginvestasikan apa yang dimilikinya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas kewirausahaan dan tanggung jawab akademik. Pengalaman berbisnis hendaknya menjadi bagian dari proses pengembangan diri mahasiswa tanpa mengabaikan kewajiban utama dalam menyelesaikan studi.

Dengan adanya seminar bisnis ini, Prof. Tedi berharap mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung semakin terdorong untuk memulai langkah kewirausahaan sejak dini. Keberanian bertindak, konsistensi berlatih, dan kemauan untuk terus belajar menjadi fondasi penting dalam membentuk pengusaha muda yang mandiri dan berdaya saing.

Bagi Ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kota Bandung, kewirausahaan bukan tentang seberapa besar usaha dimulai, melainkan seberapa berani seseorang mengambil langkah pertama.

“Mahasiswa tidak perlu menunggu modal besar untuk memulai. Mulailah dari apa yang dimiliki, kerjakan dari hal yang bisa dilakukan, dan terus belajar dari setiap proses. Dari langkah kecil itulah pengalaman tumbuh, keterampilan terasah, dan peluang untuk membangun usaha yang lebih besar terbuka,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *