UINSGD.AC.ID (Humas) — Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menegaskan komitmen perguruan tinggi keagamaan Islam dalam menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan, dan moderasi beragama ke dalam tridharma perguruan tinggi. Penegasan ini selaras dengan pesan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Menag Nasaruddin Umar dalam pembukaan forum internasional tersebut menyoroti peran imam dan tokoh agama sebagai duta perdamaian dan menjadi jembatan kemanusiaan global. Mengingat diplomasi formal kerap menemui jalan buntu dalam meredam konflik, pendekatan moral keagamaan dan kemanusiaan dinilai menjadi alternatif solusi yang efektif.
Merespons arahan Menag, Prof. Rosihon Anwar menyatakan bahwa perguruan tinggi Islam memikul tanggung jawab moral dan akademis untuk mencetak generasi yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai agama secara konstruktif di tengah masyarakat.
“Nilai-nilai agama harus hadir sebagai kekuatan yang membangun peradaban, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kedamaian. Oleh karena itu, pendidikan Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung diarahkan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi harus memiliki kepekaan mendalam terhadap isu kemanusiaan dan pelestarian lingkungan,” tegas Rektor, Senin (28/9/2026).
Guru Besar Ilmu Tafsir ini menambahkan, masjid kampus dan lingkungan akademik memiliki kesamaan fungsi strategis sebagai ruang perjumpaan (meeting point) untuk menumbuhkan budaya dialog, toleransi, dan kemaslahatan umat.
“Semangat IGIC 2026 menegaskan bahwa agama adalah instrumen perekat persatuan dan perdamaian. Nilai ini terus kami hidupkan di kampus melalui penguatan kurikulum, riset perdamaian, pengabdian masyarakat, hingga pembentukan karakter sivitas akademika,” jelasnya.
Sebelumnya, Menag Nasaruddin Umar dalam sambutannya menekankan agar peran imam tidak dibatasi pada aspek ritual semata, melainkan diperluas ke ranah sosial, diplomasi kultural, hingga respons terhadap krisis lingkungan (ekoteologi).
“Kehadiran imam adalah menjadi ambassador perdamaian. Mari kita jadikan masjid sebagai meeting point. Diplomasi formal terkadang menghadapi kendala, maka pendekatan bahasa moral dan rasa kemanusiaan lintas agama dan etnik menjadi titik temu bersama,” ujar Menag.
IGIC 2026 yang berlangsung pada 25–28 September 2026 mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. Konferensi bergengsi ini dihadiri oleh 49 delegasi internasional dari 39 negara, yang terdiri atas para imam besar, grand mufti, serta cendekiawan muslim dunia guna merumuskan penguatan peran masjid dan kepemimpinan keagamaan dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, momentum IGIC 2026 menjadi pemantik untuk terus memperluas jejaring global sekaligus mempertegas reputasi kampus sebagai pusat integrasi keilmuan Islam yang inklusif, ramah, dan berorientasi pada kemaslahatan global.

