Pulang Bawa Mahkota, Tersenyum Syukur di Atas Bandros

Hangatnya Kemenangan Juara Umum Kontingen UIN Bandung pada PORSI JAWARA II Pekalongan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Aroma hidangan prasmanan memenuhi Gedung Abdjan Solaeman, Senin (14/9/2026) sore. Di antara denting sendok dan gelak tawa yang lepas, tampak raut-raut wajah lelah yang tak sanggup menyembunyikan binar bangga.

Sebanyak 79 atlet, didampingi 8 pelatih dan 30 ofisial, baru saja menuntaskan misi besar di tanah Pekalongan dari tanggal 9-13 September 2026, dengan membawa pulang supremasi Juara Umum PORSI JAWARA II PTKIN se-Jawa dan Madura ke pelukan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Trofi megah dan kilau 22 medali yang terdiri dari 10 emas, 5 perak, dan 7 perunggu terpajang gagah di depan ruangan. Namun, di balik angka-angka kemenangan itu, tersimpan kisah tentang pembagian waktu antara tumpukan tugas kuliah, tenaga yang nyaris habis, hingga tubuh yang sempat tumbang.

Natasha Mulya Dewanti, atlet Catur Kilat Cepat menjelaskan perjalanan menuju podium tertinggi bukanlah jalan pintas yang nyaman. Ada harga mahal yang harus dibayar lewat kedisiplinan dan pengorbanan harian.

“Bukan sekadar perlombaan atau ajang minat bakat, di balik itu ada perjuangan dan pengorbanan. Latihan, semangat daya juang, ada yang sakit. Semangat dan berjuang, alhamdulillah jadi juara umum. Selama di sana, terima kasih kepada Wakil Rektor III, jajaran kemahasiswaan, tercukupi makan, fasilitas, motivasi dan dukungan yang menunjang kegiatan ini,” ungkap Natasha penuh haru.

Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), menegaskan bahwa kepulangan mereka bukanlah garis akhir. Menatap PORSI JAWARA III di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada 2028 mendatang, asa baru sudah disemai.

“Ada integrasi, semangat, kekompakan. Mampu bersaing berkat dorongan dan dukungan dari semua pihak. Juara umum ini bukan akhir perjuangan, tapi awal untuk terus meningkatkan prestasi. Siap hat-trick di PORSI JAWARA III di UIN Banten,” serunya disambut tepuk tangan riuh hadirin.

Di sudut mimbar, Wakil Rektor III UIN Bandung sekaligus pimpinan kontingen, Prof. Dr. Husnul Qodim, M.A., memandang para atletnya dengan tatapan bangga. Baginya, melampaui target dari delapan emas menjadi sepuluh emas adalah buah dari ketangguhan mental para mahasiswa yang diuji langsung di arena. Ada atlet yang terpaksa bertanding saat tubuhnya dirundung demam, tetapi tetap melangkah masuk ke gelanggang demi membela almamater.

“Jangan jumawa atas raihan ini. Jadikan ini sebagai modal bagi mahasiswa karena prestasi dan skill yang diperoleh akan dibutuhkan di masyarakat,” pesan Prof. Husnul menenangkan euforia.

Guru Besar Fakultas Ushuluddin ini menambahkan dengan penuh ketegasan, “Target awal kita hanya menambah satu medali dari PORSI tahun lalu. Ternyata bertambah dua, dari delapan menjadi sepuluh. Kemenangan ini merupakan kemenangan mahasiswa.”

Keberhasilan itu nyatanya tidak hanya dirajut dari kekuatan otot dan strategi di lapangan, melainkan lewat ketukan pintu langit.

Hal ini disingkapkan secara hangat oleh Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., saat menerima langsung trofi juara umum dari pimpinan kontingen.

“Saya tahu Pak Warek III berdoa siang dan malam, bahkan sampai sakit gitu ya. Salat Duhanya tidak henti-henti gitu kan. Saya yakin para Wadek III juga berikhtiar berusaha. Bahkan saya waktu wisuda, minta doa kepada seluruh wisudawan-wisudawati dan seluruh orang tua supaya UIN Bandung mempertahankan juara umum. Alhamdulillah… Terima kasih kepada para Warek III yang istiqomah sampai yang terakhir dengan berbagai usahanya yang tidak mudah sebagaimana disampaikan oleh perwakilan atlet tadi,” tutur Rektor.

Tawa hadirin pecah ketika Prof. Rosihon mengenang ketegangan memantau kabar kontingen dari jauh, terutama saat mendengar kabar seorang atlet karate yang sempat jatuh sakit menjelang laga puncak.

“Saya dengar yang karate katanya sakit, aduh. Saya bilang jangan dipaksakan pas kalau sakit. Yang penting bawa ke dokter. Tapi ternyata dapat emas! Mana yang sakit dapat emas? Lagi istirahat? Nah… Itu sakit, dapat emas. Apa kalau enggak sakit? Terima kasih atas perjuangan dan semangat juang para atlet, para kontingen dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saya bisa membayangkan perjuangannya yang luar biasa,” beber Guru Besar Ilmu Tafsir ini.

Rasa bangga itu, bahkan sempat membuat sang Rektor terjaga semalaman setelah kabar kemenangan dipastikan.

“Alhamdulillah, akhirnya dapet 10. Alhamdulillah, setelah itu malam Minggunya tidur dari Isya sampai Subuh. Tapi tetap enggak bisa tidur juga sampai Subuh, saking senangnya alhamdulillah.”

Prof. Rosihon, melihat para mahasiswanya pulang tanpa kurang satu apa pun adalah trofi yang sesungguhnya.

“Saya memberikan apresiasi. Terima kasih atas nama sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kami semua berterima kasih dan senang atas raihan ini. Tapi yang lebih senang lagi adalah kalian datang dalam keadaan sehat, ya dalam keadaan sehat walafiat. Itu juga merupakan kebanggaan. Terima kasih kepada semuanya. Kita pertahankan hat-trick 2028, pokona mah hat-trick pokoknya mah. Selalu bersemangat untuk ke depannya,” tegasnya.

Sebagai pemanis sebelum apresiasi resmi lembaga diserahkan pada momen puncak Dies Natalis mendatang, Rektor secara spontan membagikan uang saku (kadeudeuh) langsung kepada para kontingen.

“Sebagai apresiasi, tadi Pak Warek III mengatakan nanti akan ada apresiasi dari lembaga, ya. Tapi diserahkannya nanti pada acara Dies Natalis. Kalau sekarang, nanti ada untuk jajan ya, jajan. Nanti akan dibagi oleh lembaga. Tapi jangan dilihat amplopnya… Yang dilihat.. Apresiasinya! Ya, berapapun jumlahnya, yang penting ini salah satu bentuk apresiasi dari kami. Semoga bukan banyak sedikitnya, tapi yang penting itu adalah terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua,” selorohnya diiringi tawa renyah seluruh ruangan.

Pesta syukuran sore menjelang magrib itu akhirnya ditutup dengan sukacita di jalanan. Di bawah langit Cibiru Bandung, para pahlawan olahraga dan seni itu diarak menaiki bus wisata Bandros, berkonvoi dari Kampus 1 Cipadung menuju Kampus 2 Cimencrang.

“Setelah ini kita akan naik Bandros ya. Saya juga enggak kuat pengin naik Bandros sebetulnya. Nanti kita keliling di Kampus 1, Kampus 2. Ini para Warek juga nanti ikut semua. Jangan sampai enggak ikut, semua ikut naik Bandros. Kita keliling dari Kampus 1 menuju Kampus 2, nanti foto-foto di sana. Terima kasih banyak untuk semuanya. Selamat untuk semuanya,” pungkas Rektor menutup perayaan.

Deru mesin Bandros dan lambaian tangan para atlet di sepanjang jalan menjadi penegas, perjuangan berdarah-darah di Pekalongan telah tuntas, ditutup dengan senyuman dan kebanggaan yang pulang ke rumah.

Beginilah suasana hangatnya sambut sang juara PORSI JAWARA back to back. UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyambut para talenta mahasiswa terbaik yang telah berjuang pada Pekan Olahraga Seni dan Ilmiah di Pekalongan.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali mempertahankan juara umum untuk kedua kalinya. “Alhamdulillah ini merupakan bentuk kesyukuran atas capaian yang dilakukan oleh para mahasiswa. Sekali lagi selamat untuk kita semua Sang Juara Bertahan,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *