UINSGD.AC.ID (Humas) — Menyelesaikan studi melalui skripsi masih menjadi jalur yang paling banyak ditempuh mahasiswa. Namun, bagi Mise Kania Septi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kelulusan diraih melalui jalan yang berbeda. Ia berhasil menuntaskan studi melalui jalur non skripsi dengan luaran publikasi artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 2, sekaligus menjadi mahasiswa pertama di Program Studi PBI yang menempuh jalur tersebut.
Capaian itu menjadi sejarah baru bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Sidang non skripsi yang digelar pada 1 Juli 2026 di Ruang Sidang Utama FTK menandai komitmen fakultas dalam mendorong budaya publikasi ilmiah sebagai alternatif penyelesaian tugas akhir mahasiswa.
Artikel ilmiah yang mengantarkan Mise meraih kelulusan berjudul Investigating Teacher–Student Interaction Patterns Between an Indonesian Pre-Service Teacher and Thai EFL Students. Penelitian tersebut mengkaji pola interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan English as a Lingua Franca (ELF). Dengan memanfaatkan Flanders Interaction Analysis System (FIAS), Mise menganalisis bagaimana komunikasi yang dibangun guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif di kelas.
Topik penelitian tersebut lahir dari pengalaman yang tidak biasa. Saat mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional di Thailand, Mise mengamati secara langsung proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas yang mempertemukan guru asal Indonesia dengan siswa Thailand.
”Saya tertarik mengamati bagaimana interaksi yang terjadi antara guru Indonesia dan siswa Thailand di kelas, apakah pembelajaran lebih didominasi oleh guru atau justru siswa lebih aktif berpartisipasi. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong saya meneliti pola komunikasi guru menggunakan Flanders Interaction Analysis System dalam konteks English as a Lingua Franca,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah penelitian yang berhasil menembus jurnal nasional terakreditasi SINTA 2. Bagi Mise, memilih jalur non skripsi bukan semata karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda, melainkan sebagai upaya menghasilkan karya ilmiah yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
”Saya ingin menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya menjadi syarat kelulusan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi dunia akademik. Selain itu, saat itu belum pernah ada mahasiswa di program studi saya yang menempuh jalur non skripsi melalui publikasi. Hal tersebut justru memotivasi saya untuk memberanikan diri mencoba jalur tersebut sebagai tantangan sekaligus pengalaman baru,” katanya.
Perjalanan menuju publikasi bukan proses yang singkat. Setelah menentukan topik penelitian, Mise menyusun proposal, melakukan observasi dan pengumpulan data di kelas, kemudian mentranskripsikan interaksi guru dan siswa sebelum menganalisisnya menggunakan teori FIAS. Hasil penelitian tersebut kemudian disusun menjadi artikel ilmiah sesuai dengan ketentuan jurnal dan dikirim untuk melalui proses peer review.
Seperti halnya publikasi ilmiah pada umumnya, artikel tersebut harus melewati sejumlah tahapan revisi sebelum akhirnya dinyatakan diterima. Menurut Mise, proses inilah yang menjadi tantangan terbesar selama menyelesaikan tugas akhirnya.
”Tantangan terbesar adalah proses analisis transkrip yang membutuhkan ketelitian tinggi serta revisi dari reviewer yang cukup detail. Saya rutin berdiskusi dengan dosen pembimbing, mempelajari kembali teori yang digunakan, membaca artikel-artikel terkait, dan memperbaiki naskah secara bertahap sampai memenuhi standar jurnal,” tuturnya.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat dukungan dari banyak pihak. Kedua dosen pembimbing dan Ketua Program Studi menjadi sosok yang memberikan arahan sejak awal hingga artikel berhasil diterbitkan. Pihak kampus memberikan dukungan, termasuk membantu pembiayaan proses publikasi sehingga seluruh tahapan dapat dilalui dengan lebih optimal. Sementara itu, doa dan dukungan keluarga serta teman-teman menjadi penyemangat yang menguatkan langkahnya selama menjalani proses penelitian.
Keberhasilan Mise mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Fakry Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa S1 menerbitkan artikel pada jurnal SINTA 2 merupakan pencapaian yang melampaui syarat kelulusan yang ditetapkan fakultas. Ia menilai penelitian mengenai interaksi guru dan siswa dalam konteks multikultural dan multilingual memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui penelitian lanjutan.
Dekan FTK menegaskan bahwa kebijakan jalur non skripsi berbasis publikasi bertujuan mengubah paradigma penyelesaian tugas akhir mahasiswa. Melalui kebijakan tersebut, mahasiswa didorong menghasilkan karya ilmiah yang berdampak serta memiliki nilai akademik yang lebih luas. Pengalaman publikasi ilmiah diharapkan menjadi bekal bagi lulusan untuk melanjutkan studi, memperoleh beasiswa, maupun berkarier sebagai akademisi dan peneliti.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Nia Kurniawati, M.Pd., menjelaskan bahwa mahasiswa yang memilih jalur non skripsi mendapatkan pendampingan intensif sejak penyusunan artikel hingga proses review di jurnal. Sidang baru dapat dilaksanakan setelah artikel diterima dan dipublikasikan sehingga menjadi tahap akhir untuk memverifikasi kualitas penelitian yang telah dilakukan.
Di antara seluruh rangkaian proses tersebut, sidang akhir menjadi momen yang paling membekas bagi Mise. Berbeda dengan sidang pada umumnya, sidang non skripsi dilaksanakan secara terbuka sehingga dapat disaksikan oleh orang tua, keluarga, teman-teman, serta para dosen.
”Awalnya saya merasa sangat gugup karena diuji oleh lima orang dosen penguji dan disaksikan banyak orang. Namun, melihat keluarga dan orang-orang terdekat hadir memberikan dukungan membuat saya lebih percaya diri. Saat itu saya merasa semua perjuangan selama proses penelitian akhirnya terbayarkan,” kenangnya.
Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jalur serupa, Mise berpesan agar tidak takut mencoba tantangan baru. Menurutnya, publikasi ilmiah memang menuntut komitmen, ketelitian, serta kesiapan menghadapi proses revisi yang panjang. Namun, seluruh proses tersebut akan menjadi pengalaman berharga yang membentuk kemampuan akademik sekaligus membuka peluang yang lebih luas di masa depan.
Keberhasilan Mise Kania Septi menjadi lulusan non skripsi pertama di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris menjadi bukti bahwa keberanian mencoba jalur baru dapat melahirkan capaian yang membanggakan. Proses panjang mulai dari penelitian, penulisan, hingga publikasi ilmiah memberikan pengalaman akademik yang memperkaya kemampuan berpikir kritis, menulis, dan melakukan riset secara sistematis.
Harapannya, capaian tersebut dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk memandang penelitian sebagai ruang belajar dan berkarya. Semakin banyak karya ilmiah yang lahir dari mahasiswa, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pemecahan berbagai persoalan di masyarakat. (Mohamad Farhan Fadilah / Magang)

