Budaya Riset Menguat, Mahasiswa FAH UIN Bandung Berhasil Publikasikan 70 Artikel Ilmiah

UINSGD.AC.ID (Humas) — Iklim akademik di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tengah berada dalam tren positif yang luar biasa. Di bawah komando Wakil Dekan III, Dr. Dadan Firdaus, M.Ag., kemampuan mahasiswa dalam menembus ruang publikasi ilmiah terus dipacu sebagai fondasi utama membangun reputasi akademis dan profesional di masa depan.

Upaya konsisten melalui ruang diskusi ilmiah, bedah temuan, hingga workshop intensif ini membuahkan hasil yang mencengangkan. Pada tahun 2026, mahasiswa FAH sukses mempublikasikan 70 artikel ilmiah di berbagai jurnal. Angka ini merupakan sebuah lompatan eksponensial —naik lebih dari tiga kali lipat— dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menorehkan 20 artikel.

Salah satu motor penggerak utama dari gairah literasi ini adalah kehadiran Jurnal Wastu Adabia. Jurnal yang diterbitkan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FAH ini memiliki keunikan tersendiri karena dikelola sepenuhnya secara mandiri oleh mahasiswa, dan saat ini telah sukses menerbitkan dua edisi.

“Peran sentral mahasiswa dalam mengembangkan aspek intelektual ini memberikan kontribusi positif yang nyata terhadap prestasi akademis dan kesiapan mereka menghadapi tantangan dunia kerja,” ujar Dr. Dadan dengan nada optimis usai acara launching dan pelantikan pengelola Rumah Jurnal Wastu Adabia di Aula FAH, Senin (06/07/2026).

Inovasi Mahasiswa Raih Apresiasi Tertinggi

Kehadiran Rumah Jurnal Wastu Adabia ini langsung menjadi magnet perhatian jajaran pimpinan fakultas. Acara peluncuran tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Dekan I Dr. H. Rohanda, M.Ag., Wakil Dekan II Dr. Samsudin, M.Ag., Kabag TU Drs. H. Asep Hadiat, SH, MH, para ketua dan sekretaris jurusan, jajaran dosen, tenaga kependidikan, serta pengurus SEMA dan DEMA FAH.

Apresiasi tinggi datang dari Dekan FAH UIN Bandung, Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum. Dalam sambutannya, ia memuji kinerja Wakil Dekan III yang tiada henti mendongkrak reputasi fakultas, baik di level universitas maupun nasional.

“Terima kasih kepada para pengurus DEMA di bawah binaan Wadek III yang telah berhasil meluncurkan jurnal mahasiswa ini. Ini adalah inovasi yang luar biasa! Saya meminta kepada kepengurusan DEMA yang baru untuk menjadikan program peningkatan skill karya tulis ilmiah ini sebagai prioritas. Ini adalah ruang kosong yang harus dimaksimalkan oleh DEMA,” tegas Dr. Dedi.

Dr. Dedi bahkan meyakini bahwa FAH UIN Bandung merupakan pionir dalam gerakan ini. “Kayaknya, di Indonesia hanya di kita ada jurnal yang dikelola langsung oleh mahasiswa,” katanya mantap.

Langkah progresif ini juga mendapat dukungan penuh dari Founder Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Wahyudin Darmalaksana, yang turut mengawal penguatan ekosistem literasi ilmiah di kampus hijau tersebut. Tak hanya itu, para pimpinan fakultas di lingkungan UIN Bandung turut memberikan apresiasi dan rasa bangga mereka melalui tayangan video testimoni selama acara berlangsung.

Komitmen Ketua DEMA: Kawal Ekosistem Riset Mahasiswa

Usai pelantikan pengurus Rumah Jurnal, Ketua DEMA FAH yang baru, Aditya Permana, menyatakan kesiapannya untuk menakhodai dan mengintegrasikan pengembangan Jurnal Wastu Adabia ke dalam program kerja strategis DEMA.

Menurut Aditya, jajaran kepengurusan baru DEMA FAH berkomitmen penuh untuk tidak membiarkan ruang produktif ini meredup. Jurnal Wastu Adabia bukan sekadar program kerja, melainkan marwah intelektual mahasiswa FAH.

“Kami akan segera merumuskan program pelatihan berkala yang lebih menyentuh seluruh jurusan agar budaya riset ini menjadi gaya hidup mahasiswa,” ujar Aditya mantap.

Demi mencapai target tersebut, DEMA akan bergerak cepat memperkuat kerja sama internal tim. “Kuncinya adalah kolaborasi yang solid di dalam tim pengelola serta koordinasi yang efektif dan berkelanjutan dengan jajaran pimpinan fakultas. Dukungan dari Dekanat adalah energi utama kami untuk membawa jurnal ini naik kelas,” tambahnya.

Bidik Jurnal Nasional hingga Internasional

Geliat akademik ini disambut hangat oleh para mahasiswa. M. Ulul Azmiter selaku editor jurnal, bersama dua penulis (author) yang artikelnya sukses nangkring di Jurnal Wastu Adabia: Nafa Nurlatipah (Jurusan Bahasa dan Sastra Arab) dan Fajrine Realita (Jurusan Sastra Inggris), sepakat bahwa Badan Semi Otonom (BSO) Jurnal Wastu adalah ruang inkubasi terbaik.

“Kami berharap Jurnal Wastu dapat terus berkembang melalui berbagai program pelatihan, sehingga semakin banyak mahasiswa yang terdorong untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas,” ungkap Nafa dan Fajrine kompak.

Tidak main-main, keduanya bahkan memasang target tinggi untuk menembus jurnal bereputasi tingkat nasional hingga internasional di masa depan. Bagi mereka, menulis adalah proses belajar tanpa akhir untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan, khususnya di bidang bahasa dan sastra.

Untuk mahasiswa lain yang ingin menyusul kesuksesan ini, mereka membagikan beberapa tips: Sering membaca artikel ilmiah berkualitas untuk memahami strukturnya, aktif terlibat dalam pelatihan atau workshop kepenulisan, manfaatkan bimbingan dosen atau diskusi dengan penulis senior, dan kunci utama adalah latihan yang terus-menerus. (Shandi Rakhmat Ginanjar, S.S., Nanang Sungkawa/ Kontributor)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *